SAUH BAGI JIWA
[su_icon icon=”icon: calendar” color=”#d19636″ size=”18″ shape_size=”4″ radius=”36″] Renungan Tanggal: 24 Dec 2020
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibr. 12:11)
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibr. 12:11)
Anak-anak zaman sekarang terbiasa berbuat sesuka hati, sulit diajar atau dinasihati, hal ini membuat banyak orang tua yang merasa kewalahan dan tidak berdaya. Mereka hidup di era paling nyaman dalam sejarah umat manusia: mereka tidak mengalami perang, kemiskinan, kelaparan, penderitaan, sementara orang tua mereka memperlakukan mereka bagaikan anak raja, sehingga mereka tidak terbiasa memikirkan kepentingan orang lain. Orang tua sibuk mempersiapkan segala keperluan mereka, sedangkan mereka jarang turut memikul tanggung jawab, apalagi berbuat kasih kepada orang lain! Ditambah lagi sekarang ini jumlah anak di satu keluarga semakin sedikit dan cenderung dimanja, hampir tidak pernah dihajar atau dipukul. Orang tua pun karena sibuk dalam pekerjaan sehingga tidak banyak waktu untuk mendidik anak. Maka jadilah anak-anak semakin sulit dididik.
Mendidik anak seumpama tukang kebun yang menanam dan merawat tanaman bunga atau pohon, dan harus berusaha dalam jangka waktu yang panjang. Anak-anak seumpama tanaman yang harus sering disiram dengan air dan diberi pupuk, juga daun-daunnya dibersihkan, rantingnya dipotong, dengan demikian barulah boleh berharap mereka tumbuh dengan jiwa raga yang sehat.
Anak-anak jasmani memerlukan didikan dan tuntunan orang tua, demikian pula anak-anak Allah memerlukan didikan dan pimpinan Allah. Tidak ada orang yang benar di dunia ini, semua adalah orang berdosa yang tidak terhindar dari kesalahan dalam kehidupan sehari-harinya. Bila kita berulang-ulang berbuat salah dan tidak mau bertobat walaupun sudah dinasihati, akhirnya Allah akan ‘mengganjar’ dengan pukulan agar rohani kita terbangun.
Jadi, kadang kala penderitaan yang kita alami bukanlah tanpa sebab, tetapi adalah ganjaran dari Allah agar kita kembali ke jalan yang benar. Seperti tertulis: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.” (Ibr. 12:5), “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr. 12:6), “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibr. 12:10)
Ya Tuhan, Engkau adalah Allah yang pengasih! Engkau sebenarnya tidak tega menghajar kami, tetapi karena kami berdosa, Engkau terpaksa menyesah kami dengan maksud agar kami kembali kepada Engkau. Kiranya Engkau membantu kami menjadi anak yang taat, tidak lagi mengeraskan hati menjadi pemberontak. Kiranya kami dapat mengerti maksud Engkau dalam mengganjar kami, agar kami mendapat berkat dan dapat bertumbuh oleh hajaran-Mu! “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibr. 12:11)