Tanya Jawab

Keberadaan Allah

  • Argumen bahwa Allah tidak dapat diketahui bersifat bertolak belakang. Apabila kita tidak dapat mengetahui apa pun tentang Allah, bagaimanakah kita tahu persis bahwa Allah tidak dapat diketahui? Ini sama seperti berargumen “Saya percaya, mempercayai apa pun itu tidak mungkin.”

    Sampai kita dapat dengan pasti menjelaskan bagaimana dan mengapa kita ada, kita tidak dapat secara pasti berkata, “tidak ada Allah”. Tetapi kita juga tidak mungkin menahan-nahan pendapat tentang perkara iman, karena iman kerohanian bukan hanya sekadar teori intelektual. Yesus memberitahukan kita bahwa siapa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan, tetapi yang tidak percaya akan dihukum. Apabila kita tidak mau percaya kepada-Nya karena merasa tidak mungkin mengetahui apa pun tentang Allah, maka kita sudah mengambil keputusan untuk menjadi orang tidak percaya.

    Seorang ilmuwan, ahli matematika dan pendiri probabilitas modern berkebangsaan Perancis bernama Blaise Pascal, bertaruh: Apabila kita berpendapat bahwa Allah itu ada, maka kalau pun kita salah kita tidak rugi apa-apa, karena pada akhirnya memang kita berada dalam kefanaan. Apabila kita berpendapat bahwa Allah tidak ada, apabila kita salah, maka kita akan kehilangan segalanya: surga, kehidupan kekal, dan sukacita dan keuntungan tanpa batas.

    Demi diri kita sendiri, dan lebih lagi demi Allah, kita harus menyelidiki bukti dengan hati-hati dan pikiran yang terbuka, sebelum kita mengambil pilihan.

Roh Kudus

  • Walaupun Roh Kudus adalah janji Allah, menerima Roh Kudus memerlukan doa dan permohonan di pihak kita. Lukas 11:13 dan Yohanes 4:10 menunjukkan pandangan ini dengan jelas. Pencurahan Roh Kudus juga mensyaratkan ketaatan pada perintah Tuhan (Mat. 28:20; Kis. 5:32). Berdoa memohon Roh Kudus tidak menyangkal kuasa Allah; sebaliknya, merupakan ungkapan iman yang alami (Mat. 15:22-28; Rm. 10:14), kesungguhan (Luk. 11:5-8), dan ketekunan (Luk. 18:1-8).

    Tuhan Yesus memberitahukan murid-murid-Nya akan pentingnya menerima Roh Kudus dan secara khusus menyuruh mereka untuk tidak meninggalkan Yerusalem. Mereka harus menunggu janji kedatangan Roh Kudus (Luk. 24:49; Kis. 1:4-5, 8). Murid-murid sendiri tentunya bersemangat untuk menerima Roh Kudus, yang ditunjukkan dengan doa yang terus mereka panjatkan (lihat Kis. 1:14). Dalam konteks ini, kita mengetahui bahwa mereka harus terus menuggu melalui doa, berdasarkan pada janji Yesus, sampai janji itu digenapi pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan.

  • Ketika seseorang menerima Roh Kudus, Allah memberikan tanda untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus ada di dalam dirinya. Tanda ini adalah berbahasa roh, atau kemampuan untuk berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal, yang hanya dapat dimengerti oleh Allah (1Kor. 14:2). Berbahasa roh adalah persekutuan yang mendalam bersama Allah, untuk berdoa dan memuji Allah.

    Ketika Allah pertama kali mencurahkan Roh Kudus yang Ia janjikan pada hari Pentakosta (Kis. 2), orang-orang percaya mulai berbicara dalam bahasa roh. Sejak itu, kapan pun Roh Kudus datang ke atas orang percaya, hal ini ditandai dengan bahasa roh. Siapa pun yang tidak mengalami hal ini belum menerima Roh Kudus, karena berbicara dalam bahasa roh adalah bukti menerima Roh Kudus (lihat Kis. 10:45-47).

    Menerima Roh Kudus adalah pengalaman yang dapat didengar dan seringkali dapat dilihat. Pengalaman ini dapat didengar karena tanda berbahasa roh. Dan seringkali dapat dilihat dari gerakan tubuh, walaupun tanda ini tidak wajib. Murid-murid Tuhan Yesus berkata bahwa mereka dan juga orang-orang yang mengamati mereka dapat “melihat dan mendengar” pencurahan Roh Kudus (lihat Kis. 2:33).

    Roh Kudus terus dicurahkan dengan cara yang sama kepada orang-orang percaya di masa sekarang (Kis. 2:38-39). Ketika kita menerima Roh Kudus, kita juga akan berbicara dalam bahasa roh, seperti orang-orang percaya di masa para rasul (Kis. 2:1-4; 10:44-46; 19:6).

Gereja

  • Karena gereja adalah tubuh Kristus, gereja sangat berkaitan dengan keselamatan kita. Tuhan Yesus mengajarkan keselamatan-Nya melalui gereja-Nya. Melalui gereja, Ia mengutus pekerja dan mengampuni dosa (Yoh. 2:21-23; Mat. 16:18-19). Gereja mengadakan baptisan air, pembasuhan kaki, dan Perjamuan Kudus, tiga sakramen yang berkaitan dengan keselamatan orang percaya.

    Karena itu, menerima gereja berarti menerima Kristus, dan diselamatkan berarti menjadi anggota tubuh Kristus. Jadi bagaimana orang dapat percaya kepada Kristus tetapi menolak menjadi anggota tubuh Kristus? Orang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus adalah anggota dari tubuh yang sama, yaitu gereja (1Kor. 12:12-13, 27-28). Kristus adalah Juruselamat atas seluruh tubuh, bukan bagian-bagian tubuh yang terpisah. Karena itu, kita tidak dapat diselamatkan terpisah dari gereja, tetapi sebagai bagian dari satu gereja (Ef. 5:23-27; juga Kis. 20:28).

    Tuhan berjanji untuk menyertai kita apabila kita berkumpul dalam nama-Nya (Mat. 18:20). Ia memberkati kita ketika kita menyembah-Nya melalui pujian dan doa, dan sembari kita mempelajari firman-Nya melalui kebaktian dan Pemahaman Alkitab. Alkitab juga dengan jelas memberitahukan kita untuk tidak melalaikan persekutuan, sebaliknya, kita harus saling menguatkan agar kita dapat menemui Tuhan kita dengan percaya diri ketika Ia datang kembali (Ibr. 10:24, 25).

    Tuhan Yesus juga mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan melayani. Dengan bertemu saudara-saudari seiman di gereja, kita dapat saling membangun dengan karunia-karunia rohani (Ef. 4:11-12, 16). Dengan menggabungkan usaha bersama, kita dapat menyebarkan firman Allah dengan lebih efektif. Lebih lanjut, melalui pertumbuhan rohani dan kesatuan, tubuh Kristus dapat bertumbuh menjadi kediaman Roh Allah (Ef. 2:19-22) dan dipersiapkan sebagai mempelai Kristus (Why. 19:7; 21:2).

  • Nama ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan siapa pun. Kata “sejati” digunakan karena Alkitab menekankan bahwa Allah dan Yesus adalah satu-satunya allah yang benar. Jadi, nama ini adalah nama terbaik untuk mencerminkan sifat gereja sebagai milik “Allah yang benar” (Yes. 65:16; Yer. 10:10; Yoh. 7:28; 17:3; Rm. 3:4; 1Yoh. 5:20) dan “Yesus yang benar” (Yoh. 1:9; 14:6; 15:1; 1Yoh. 5:20; Why. 6:10).

    Karena jemaat adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang benar dan mereka merupakan gereja, yaitu tubuh Kristus, maka gereja juga adalah “gereja yang benar”.

    Jadi gereja bukan saja “sejati” dalam hal nama, tetapi juga sifatnya. Gereja Yesus Sejati memberitakan Injil keselamatan yang sepenuhnya, mempunyai penyertaan Roh Kudus, dan disertai dengan tanda dan mujizat. Dengan kata lain, Roh Kudus menyertai gereja untuk bersaksi bahwa gereja ini memberitakan kebenaran dan sungguh-sungguh adalah gereja yang benar (Ibr. 2:3-4; Ef. 1:13-14; 2:22).

Yesus Kristus

  • Kita harus percaya di dalam Yesus karena Ia adalah Kristus, Juruselamat dunia (Yoh. 4:42). Karena kasih-Nya yang besar, Ia datang ke dunia ini sebagai manusia untuk merasakan kelemahan dan kesakitan kita, menanggung hukuman dosa-dosa kita, dan membawa kita kembali kepada-Nya. Seperti ditulis dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kita harus percaya kepada Yesus, tidak saja karena kasih-Nya yang rela berkorban, tetapi juga karena hanya melalui Dia-lah kita dapat memperoleh hidup kekal. Kisah Para Rasul 4:12 juga memberitahukan kita, “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

    Yesus sudah menyelesaikan bagian yang tersulit, dan sekarang adalah giliran kita untuk menerima anugerah keselamatan yang indah ini. Kita harus percaya kepada Yesus karena nasib kita-lah taruhannya. Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu (Ibr. 2:3).

    Hari ini, banyak orang berbalik kepada Yesus hanya ketika mereka menghadapi sebuah krisis kehidupan atau kesehatan yang memburuk. Namun, percaya kepada Yesus bukan ditujukan untuk orang-orang yang menghadapi masalah saja. Kita semua perlu percaya kepada Yesus karena Ia adalah Bapa kita di surga yang mengambil rupa manusia (Yoh. 14:9), yang sungguh-sungguh peduli kepada kita dan menantikan kita untuk kembali kepada-Nya (Mat. 23:37). Hanya melalui Dia-lah kita dapat mempunyai hidup yang sungguh-sungguh berarti (Yoh. 4:13-14).

  • Yang menjadikan agama Kristen unik adalah karena dibangun di atas dasar Yesus Kristus (1Kor. 3:11; Ef. 2:20). Kita harus memilih keyakinan Kristen karena tidak semua agama dapat membawa kita kepada keselamatan. Berbagai agama berbeda seringkali menawarkan jawaban permasalahan yang sama sekali bertolak belakang. Misalnya, sebuah agama yang mengajarkan tentang kehidupan setelah kematian, sementara lainnya menyangkal kehidupan seperti itu. Yang manakah yang benar? Karena perkara ini berbicara tentang keberadaan kita, kita harus mencari jawabannya – bukan saja jawaban yang mungkin, tetapi jawaban yang benar.

    Iman di dalam Tuhan itu lebih dari sekadar gaya hidup atau pandangan samar tentang arti atau nilai kehidupan. Iman di dalam Tuhan adalah menemukan jawaban utama dalam hidup kita. Jawaban ini menjelaskan dari manakah kita berasal, mengapa kita hidup, dan ke manakah kita akan berakhir. Tanpa Tuhan, kita terperangkap dalam kejahatan, dosa, penderitaan, dan maut. Namun melalui Yesus Kristus, kita dapat diselamatkan dari penderitaan kita dan menerima hidup kekal. Ini berarti kita tidak kehilangan apa pun dan mendapatkan segala keuntungan.

  • Banyak orang Kristen percaya bahwa perayaan Natal menyimpulkan konsep tentang Allah dan kedatangan Kristus Sang Juruselamat umat manusia. Namun apakah keyakinan ini benar? Ambillah Alkitab Anda. Carilah Sinterklas, pohon Natal, atau pernak-pernik Natal lainnya. Carilah juga kutipan tentang Yesus atau murid-murid-Nya merayakan Natal. Jangan ketinggalan perintah Yesus bahwa kita harus merayakan hari lahir-Nya. Carilah bukti bahwa Ia dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Tidak satu pun hal-hal ini disebutkan dalam Alkitab!

    Walaupun para penulis Injil mencatat kisah kelahiran Yesus dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya, tidak sedikit pun mereka menandakan bahwa peristiwa ini harus dirayakan. Tuhan Yesus memberitahukan murid-murid-Nya untuk mengingat hari kematian-Nya dengan mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi Ia tidak menyinggung apa pun tentang hari lahir-Nya. Begitu juga, tidak ada bukti dalam Perjanjian Baru bahwa gereja masa para rasul pernah merayakan Natal. Apabila Allah menghendaki kita untuk merayakan hari kelahiran Kristus, bukankah seharusnya Ia menyuruh kita untuk melakukannya dalam Alkitab?

    Alkitab tidak mengungkapkan tanggal kelahiran Kristus. Dan dari catatan peristiwa kelahiran-Nya, Yesus tidak mungkin dilahirkan di musim dingin. Lukas menyatakan bahwa di malam Yesus dilahirkan, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” (Luk. 2:8) Di bulan Oktober atau November, hujan musim dingin mulai turun dan cuaca dingin dimulai di Yudea. Dalam cuaca dan musim seperti itu, gembala tidak lagi dapat berada di luar sampai bulan-bulan musim dingin berakhir.

    Malah, asal mula perayaan Natal ada sebelum era Kristen dimulai. Seperti dicantum dalam Ensiklopedi Britannica, “tradisi Natal adalah sebuah evolusi dari masa-masa jauh sebelum masa Kristen – sebuah keturunan dari praktik-praktik musim, pagan, keagamaan dan nasional, dipagari dengan legenda dan adat istiadat” (Edisi ke-15, kata kunci “Christmas”). Beberapa contoh dituliskan di bawah.

    Di masa kuno, manusia bergantung pada cahaya matahari untuk memperoleh penerangan, dan panas matahari untuk kegiatan bercocok tanam. Karena itu, mereka mengamati perjalanan aktivitas matahari. Dahulu ada keyakinan bahwa pesta dan perayaan diadakan di waktu-waktu yang berbeda setiap tahun untuk membantu matahari bergerak di tata surya. Di belahan bumi utara, akhir tahun adalah waktu yang penting. Ketika musim dingin mendekat, matahari terbenam semakin rendah di langit dan hari terang menjadi lebih pendek. Tampaknya seperti matahari sedang meninggalkan bumi. Lalu tibalah titik balik matahari musim dingin (winter solstice). Matahari mulai kembali. Hari-hari terang memanjang lagi. Dan perayaan-perayaan pertengahan musim dingin diadakan untuk memperingati kelahiran kembali matahari. Di dunia Romawi, keyakinan ini ditunjukkan dengan perayaan Saturnalia selama satu minggu, yang dimulai pada tanggal 17 Desember, dan berakhir dengan perayaan Brumalia, hari ulang tahun, atau kelahiran kembali matahari. Perayaan ini jatuh pada tanggal 25 Desember.

    Lebih lanjut, ketika Kekaisaran Romawi mulai melebar di abad-abad awal, mereka juga mengadopsi praktik-praktik kepercayaan yang dipegang oleh bangsa-bangsa yang mereka jajah. Salah satu contohnya adalah penyembahan dewa matahari Mithraic yang awalnya berasal dari Persia, dan hari lahirnya dirayakan pada tanggal 25 Desember. Ketika dewa ini diperkenalkan di Roma pada awal abad ke-3, ia menjadi ungkapan nyata dalam penyembahan matahari. Kepercayaan ini kemudian ditafsirkan ulang menurut pandangan-pandangan filsafat populer di masa itu. Di tahun 274, kepercayaan ini kemudian dimasukkan ke dalam agama kekaisaran, dan ditetapkanlah perayaan Dies Natalis Solis Invicti, Hari Matahari yang Tak Terkalahkan, pada tanggal 25 Desember.

    Tidak ada bukti sejarah yang jelas kapan pertama kali orang Kristen mulai merayakan Natal. Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama tiga abad pertama dalam era Kristen, ada penolakan di gereja-gereja terhadap tradisi-tradisi kepercayaan dan penyembahan berhala yang merayakan hari-hari lahir. Namun sampai pada abad ke-4, segala sesuatunya berubah. Kalender Romawi tahun 354 memuat sebuah daftar perayaan-perayaan Kristen dan menyebutkan referensi perayaan kelahiran Kristus. Ini adalah salah satu catatan paling awal tentang Natal. Informasi ini berasal dari sebuah tulisan pada tahun 336, dan tampaknya Natal sudah mulai dirayakan di tahun terakhir pemerintahan Kaisar Konstantin.

    Di akhir abad ke-4, dunia Kristen sudah merayakan Natal. 25 Desember adalah tanggal yang dipilih untuk perayaan ini (kecuali di gereja-gereja Timur, yang merayakannya pada tanggal 6 Januari). Mungkin gereja pada masa itu ingin mengubah perayaan Winter Solstice menjadi perayaan pengagungan Kristus. Kemungkinan lain, ini adalah sebuah cara bagi orang Kristen di masa itu untuk mendekatkan diri kepada Kristus yang merupakan terang dan matahari mereka, dan 25 Desember dipilih untuk menentang perayaan kepercayaan Romawi.

  • Bagaimana dengan dekorasi-dekorasi Natal? Pohon Natal yang terkenal itu mungkin berasal dari lakon misteri Jerman abad pertengahan, di mana sebuah pohon paradeisbaum (surga) digunakan untuk melambangkan Taman Eden. Belakangan, ketika lakon-lakon ini dilarang, pohon ini kemudian dibawa masuk ke rumah, dan secara perlahan berevolusi menjadi tradisi mendekorasi pohon dengan kue, buah, dan akhirnya permen. Beberapa ahli sejarah juga menelusuri asal pohon Natal dari penyembahan pohon di Mesir dan Romawi kuno.

    Digunakannya pohon evergreen untuk menghias rumah juga berhubungan dengan keyakinan-keyakinan kepercayaan. Karena pohon evergreen bertahan di bulan-bulan musim dingin, mereka dianggap sebagai simbol hidup kekal, dan menjadi obyek penyembahan. Druid-druid Inggris pada masa Keltik kuno meyakini bahwa mistletoe mempunyai kuasa ajaib dan menganggap tanaman ini suci. Bagi orang Romawi, mistletoe adalah lambang kedamaian, dan mereka percaya bahwa ketika musuh bertemu di bawahnya, senjata akan dilucuti dan perdamaian terjadi. Mengenai asal-usul jeruju Natal, ada legenda yang menyatakan bahwa mahkota duri Kristus dibuat dari dedaunan jeruju, sehingga mulailah tradisi jeruju Natal. Bentuknya yang bundar juga melambangkan bundarnya matahari.

    Batang Yule mungkin berasal dari upacara pembakaran batang kayu khusus oleh para druid. Kata yule berasal dari kata Anglo-Saxon kuno hweol, yang berarti “roda”, sebuah lambang kepercayaan matahari.

    Dan tentu saja Sinterklas atau Santa Claus. Ia juga berasal dari perayaan-perayaan yang tidak ada hubungannya dengan Kekristenan. Satu sifat penting dari perayaan-perayaan kepercayaan adalah dilibatkannya roh-roh baik dan jahat. Di banyak tempat, figur-figur mistis ini bermunculan; mencampurkan legenda kepercayaan dengan cerita-cerita tradisional tentang orang-orang suci. Salah satu figur musim dingin ini kemudian dikenal di negara-negara yang berbeda sebagai Santa Claus, Bapa Natal, Santa Nikolas, Santa Martin, Weihnachtsmann, atau Père Noel. Walaupun mereka dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda, peran mereka serupa, yaitu untuk memberi upah atau hukuman berbeda pada orang-orang yang mengikuti perayaan.

    Seiring berjalannya waktu, banyak tradisi-tradisi Natal berkembang di sekitar perayaan Natal. Beberapa di antaranya bersifat umum; lainnya bersifat khas di daerah itu. Namun mereka semua mempunyai satu sifat yang sama: semuanya tidak Alkitabiah, karena Natal sendiri tidak Alkitabiah. Natal berasal dari kepercayaan penyembahan berhala dan takhayul, bukan dari firman Allah dalam Alkitab. Sebagai pengikut Kristus, haruskah kita mengikuti sebuah perayaan yang tidak disebutkan dalam Alkitab? Lebih parah lagi, haruskah kita merayakan sebuah perayaan yang berakar dari penyembahan berhala? Ketimbang mengagungkan kedatangan Juruselamat, perbuatan kita malah akan menimba murka-Nya.

    Terakhir, kita mungkin mengambil jalan tengah dengan beralasan bahwa kita tidak mengikuti Natal sebagai perayaan keagamaan, tetapi sebagai perayaan perdamaian dan kebaikan. Namun lihatlah lebih dekat bagaimana masyarakat umum merayakan Natal di masa sekarang.

    Di dalam satu tahun, bagi banyak orang Natal adalah waktu untuk bersukaria dan berpesta. Mereka makan dan minum sepuas hatinya, suatu sikap yang bertentangan dengan firman Allah. Mabuk-mabukan merajalela dan jumlah kematian kecelakaan lalu-lintas oleh pengemudi mabuk mencetuskan kampanye anti-kemabukan setiap tahun. Di banyak tempat, tingkat kejahatan meningkat di musim Natal. Statistik juga menunjukkan lebih banyaknya kejahatan pembunuhan dan perampokan di musim ini ketimbang waktu-waktu lain.

    Sungguh ironis orang-orang justru turut serta dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam Alkitab di waktu yang katanya menggalakkan kedamaian dan kebaikan. Apakah dasar yang dapat kita katakan bahwa kita sedang merayakan musim kedamaian dan kebaikan?

Keselamatan

  • Percaya Yesus bukan sekadar secara sadar mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat. Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7:21) Iman sejati membutuhkan ketaatan kepada firman Tuhan dalam hal keselamatan (Luk. 6:46-49).

    Kita diselamatkan karena kasih karunia melalui iman, tetapi iman tanpa perbuatan bukanlah iman yang sejati (Yak. 2:14-20). Roh-roh jahat saja percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat. 8:28-29; Luk. 4:41), namun kepercayaan mereka bukanlah iman sejati yang menyelamatkan (Yak. 2:19-20).

    Kita harus mengikuti apa yang diajarkan Yesus untuk diselamatkan. Misalnya, mengenai baptisan Ia berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk. 16:16) Kita tidak dapat mengesampingkan pentingnya baptisan karena baptisan sendiri adalah sebuah perbuatan iman dalam Yesus Kristus (lihat Kis. 16:30-33).

  • Berbuat baik adalah sebuah sifat yang terpuji. Namun tanpa Tuhan, betapa pun kerasnya kita berusaha, kita tidak akan sepenuhnya baik, karena ada dosa dalam sifat dan hidup kita (lihat Rm. 3:23). Berbuat baik saja tidak cukup, karena kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari dosa (Rm. 3:20).

    Walaupun Anda tulus, bukan berarti Anda benar. Ketulusan dalam perkara-perkara keagamaan tidaklah cukup, seperti juga ketulusan tidak cukup dalam keadaan-keadaan lain: “Apakah cukup dokter, akuntan, atau agen asuransi Anda tulus? Apakah ketulusan mereka akan menyelamatkan Anda dari penyakit kanker, kebangkrutan, kecelakaan, atau kematian? Tentu saja tidak. Lalu mengapa Anda mengira ketulusan saja sudah cukup untuk menyelamatkan Anda dari neraka?” (Peter Kreeft dan Ronald Tacelli, Handbook of Christian Apologetics [Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1994], 323).

    Satu-satunya cara untuk memenuhi syarat kebenaran Allah adalah dengan bersandar kepada-Nya. Ia telah menyediakan keselamatan dari dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus. Satu-satunya jalan agar kita dapat diselamatkan adalah melalui iman dalam Yesus Kristus, karena Ia saja yang dapat menyelamatkan kita dari dosa dan penghakiman (Ef. 2:8-9). Ini bukan menurut perbuatan kita yang baik, tetapi menurut belas kasihan-Nya (Tit. 3:5).

Alkitab

  • Walaupun ada banyak penafsiran, dalam hal kebenaran keselamatan hanya akan ada satu Injil sejati (Gal. 1:6-9; Ef. 4:4-6). Sebagai contoh, agar dapat diselamatkan, entah kita harus dibaptis atau tidak perlu dibaptis. Namun tidak mungkin keduanya benar. Jadi kita harus mempelajari dan menemukan Injil sejati yang sesuai dengan Alkitab.

    Kebenaran Injil tidak berasal dari penelitian akademis, tetapi dari wahyu Allah melalui Roh-Nya (1Kor. 3:9-13; Gal. 1:11-12). Di Gereja Yesus Sejati, Injil keselamatan ditunjukkan kepada jemaat awal oleh Roh Kudus. Orang yang telah menerima Roh Kudus yang Allah janjikan, yaitu Roh Kebenaran, juga dapat memahami dan menerima Injil sejati (Yoh. 16:13).

    Penafsiran yang dibenarkan oleh Allah adalah penafsiran yang tepat. Seperti Allah mengutus api dari surga untuk membenarkan pemberitaan Elia, Allah juga membenarkan kebenaran Injil dengan karunia-karunia Roh Kudus dan tanda-tanda mujizat (Ibr. 2:3-4; Mrk. 16:20; 1Kor. 2:4). Banyak tanda yang Allah berikan kepada Gereja Yesus Sejati bersifat khas karena secara langsung berkaitan dengan doktrin-doktrin kami. Misalnya, kita tahu baptisan air yang dilakukan di dalam nama Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa karena banyak orang telah menyaksikan darah saat berlangsungnya baptisan air. Begitu jga, kita tahu Roh Kudus menyertai gereja karena semua orang yang telah menerima Roh Kudus dapat berbicara dalam bahasa roh dan mengalami Allah secara langsung dalam doa. Semua tanda-tanda ajaib ini menunjukkan bahwa kebenaran yang diberitakan gereja berasal dari Allah.

Baptisan

  • Nama Yesus Kristus adalah satu-satunya nama di bawah kolong langit ini yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:10, 12). Murid-murid Yesus selalu membaptis atau mengajarkan orang-orang untuk dibaptis di dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Di Kisah Para Rasul 19:4-5, orang-orang percaya dibaptis ulang “di dalam nama Tuhan Yesus.” Hanya melalui nama Yesus-lah dosa seseorang dihapuskan dalam baptisan air (Kis. 2:38; 10:43).

    Nama Yesus mempunyai kuasa dan kemuliaan (Flp. 2:9-11). Baptisan yang dilakukan dalam nama Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan dan memperbarui. Allah juga menunjukkan kuasa-Nya ketika orang percaya mengusir setan di dalam nama Tuhan Yesus. Namun bukan penyebutan ucapan yang membuat baptisan efektif atau dapat mengusir roh-roh jahat, tetapi penyertaan Roh Kudus dan janji Allah-lah yang mewujudkan kuasa Allah dalam nama Yesus.

    Ketika Yesus berkata untuk membaptis “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19), Ia tidak menyuruh murid-murid-Nya untuk mengucapkan sebuah format ucapan secara harfiah. Sebelumnya Yesus telah mengungkapkan bahwa Ia telah menerima segala kuasa di surga dan di bumi (28:18). Ini menunjukkan, karena baptisan ditetapkan dengan kuasa Kristus, baptisan juga harus dilakukan di dalam nama-Nya. Roh Kudus telah menunjukkan kepada murid-murid bahwa nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah “Yesus” (Yoh. 17:11). Dari sinilah mereka memahami untuk membaptis di dalam nama Yesus, dan mereka terus melakukannya setelah hari Pentakosta.

Sabat

  • Hari Sabat telah ditetapkan sejak permulaan penciptaan (Kej. 2:1-3; Kel. 20:11), jauh sebelum bangsa Yahudi lahir. Di masa penciptaan, belum ada agama, perjanjian, hukum, bangsa; tidak ada Yahudi atau bangsa lain, dan tentu saja, tidak ada perbedaan suku bangsa. Yesus berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia” (Mrk. 2:27) – bukan hanya untuk orang Yahudi saja. Manfaat dan keuntungan istirahat, berkat, dan pengudusan dari memegang hari Sabat diberikan kepada semua umat manusia.

    Memegang hari Sabat adalah hukum ke-4 dari Sepuluh Hukum. Walaupun hukum ini pertama-tama diberikan kepada umat pilihan di Perjanjian Lama, perintah Allah diwariskan kepada umat pilihan-Nya di Perjanjian Baru (lihat Kis. 7:38). Sepuluh Perintah tidak pernah dihapuskan; hukum-hukum ini masih harus dipegang oleh orang-orang Kristen pada hari ini (Luk. 18:18-20; 1Kor. 7:19; 1Yoh. 5:2-3; Why. 14:12).

    Nubuat Yesaya yang menyatakan bahwa orang-orang asing akan memegang hari Sabat, lebih lanjut membenarkan bahwa orang-orang percaya dari bangsa-bangsa bukan Yahudi di Perjanjian Baru akan memegang Sabat Allah (Yes. 56:6-7). Jadi ibadah Sabat tidak berlaku hanya untuk bangsa Israel.