SAUH BAGI JIWA
[su_icon icon=”icon: calendar” color=”#d19636″ size=”18″ shape_size=”4″ radius=”36″] Renungan Tanggal: 07 Jun 2020
“Sebab beginilah firman TUHAN kepadaku: “Aku akan menjenguk dari tempat kediaman-Ku dengan tidak bergerak, seperti hawa panas yang mendidih waktu panas terik, seperti kabut embun di panas musim menuai.” (Yesaya 18:4)
“Sebab beginilah firman TUHAN kepadaku: “Aku akan menjenguk dari tempat kediaman-Ku dengan tidak bergerak, seperti hawa panas yang mendidih waktu panas terik, seperti kabut embun di panas musim menuai.” (Yesaya 18:4)
Dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya. Raja Asyur yang congkak ini mengutus panglimanya ke Yerusalem, utusannya ini dengan perkataan hujat menantang kekuasaan Allah dan mengancam bangsa Israel agar menyerah bila tidak mau dibinasakan.
Panglima Asyur dengan lantang berkata: “Siapakah di antara semua allah negeri-negeri yang telah melepaskan negeri mereka dari tanganku, sehingga TUHAN sanggup melepaskan Yerusalem dari tanganku?” (2Raja-raja 18:35) Menghadapi panglima Asyur yang kurang ajar ini, Allah bergeming. Apakah benar Allah tidak sanggup menghantam tentara Asyur itu?
Sesungguhnya waktu Allah belum tiba, Allah sementara hanya menjenguk dari tempat kediaman-Nya dengan tenang. Siang hari itu, sinar matahari masih menyinari tentara Asyur, tetapi pada malam harinya, Allah mengirim malaikat membunuh tentara Asyur yang congkak sehingga mayat mereka memenuhi perkemahan mereka. Allah membunuh mereka dengan sangat mudah laksana petani mengayunkan sabit menyabit tuaian. Raja Sanherib terpaksa pulang, dan dia lalu mati dibunuh oleh anaknya sendiri.
Allah sering dengan tenang dan diam-diam menjenguk dari tempat kediaman-Nya untuk menguji iman anak-anak-Nya. Ketenangan Allah tidak boleh dianggap sebagai ijin atau persetujuan bagi orang jahat untuk berbuat jahat. Dia adalah Allah yang menguasai waktu, Dia mempunyai rancangan, Dia berkuasa dan tahu bagaimana menegakkan kekuasaan-Nya, Dia tidak akan mengubah waktu bertindak yang paling tepat dikarenakan ratap tangis anak-anak-Nya yang kurang beriman. Justru pada saat si jahat merasa hebat dan rencana jahatnya sedikit waktu lagi berhasil, Allah menunjukkan kuasanya memukul dan membinasakan mereka dengan pukulan paling keras.
“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” (Mazmur 37:1-2), tentara Asyur yang tak terkalahkan sebelumnya itu dipotong oleh Allah laksana rumput, segera layu seperti tumbuhan hijau. Demikianlah sejarah menyaksikan kuat kuasa Allah!
Maka ketika kita melihat orang jahat merajalela tanpa perlawanan, sedangkan kita sepanjang hari bergumul dalam kesusahan penindasan, ingatlah Allah sedang menjenguk dari tempat kediaman-Nya dengan tenang, bila tiba waktunya, Allah pasti akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
“Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri. Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.” (Mazmur 37:9-10), apa yang dilukiskan di Mazmur ini bukankah gambaran kesudahan tentara Asyur? Tunggulah waktu Allah tiba, maka semua firman-Nya akan digenapi.
“Seeing is Believing…” by Fred Veenkamp is licensed under CC BY-SA
“Winter Grass” by Anne Worner is licensed under CC BY-SA
“Seeing is Believing…” by Fred Veenkamp is licensed under CC BY-SA
“Purple rumped Sunbird” by pointn’click is licensed under CC BY