SAUH BAGI JIWA
[su_icon icon=”icon: calendar” color=”#d19636″ size=”18″ shape_size=”4″ radius=”36″] Renungan Tanggal: 05 Jun 2020
“Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” – Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.” (Kejadian 32:26, 29)
“Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” – Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.” (Kejadian 32:26, 29)
Yakub bergulat dengan Allah lalu mendapat berkat, ini bukanlah karena Yakub lebih kuat, juga bukan karena lebih pandai bergulat sehingga mengalahkan Allah, melainkan karena Yakub mengenali dan yakin akan Allah, Yakub lalu terus merangkul Allah tidak mau melepaskan-Nya. Dengan lengan iman dia mencengkeram Allah dan berkata: ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi jika engkau tidak memberkati aku.’ Allah berkenan kepada sikapnya ini, lalu Allah pura-pura kalah dan memuji ‘engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.’, setelah itu Allah memberkati Yakub.
Pengalaman Yakub ini mengajarkan kepada kita, seorang yang percaya kepada Tuhan bila yakin percaya kepada Allah dan tidak melepaskan Allah, akan mendapat berkat yang besar dari Allah. Memang akibat pergumulan ini, Yakub menjadi pincang, tetapi karena sikap dan keberanian mencengkeram Allah terus sampai Allah memberkati, Allah akhirnya berkenan kepadanya dan memberkatinya.
Karakter Yakub tergambarkan pada namanya yang berarti ‘menangkap’ atau ‘memegang’, tetapi dia juga sensitif ketika sekali saja Allah memukul sendi pangkal pahanya, dia menjadi pincang, dia tahu bahwa yang bergulat dengan dia bukan orang biasa melainkan Allah sendiri. Maka dia pegang erat kesempatan dan dengan berani memohon berkat dari Allah, tidak mau melepas Allah pergi sebelum memberkatinya. Bila kita adalah Yakub, apakah kita punya insting rohani seperti ini? Apakah kita sadar Allah ada di sisi kita? Apakah kita tahu kita harus menangkap Allah untuk memberkti kita?
Setiap hari kita berdoa hendaklah belajar dari Yakub, dia berhenti memakai pikiran dan pendirian sendiri, dia membiarkan manusia lamanya dipukul oleh Allah dan menjadi pincang di depan Allah, dia menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Allah, dengan lengan iman dia merangkul erat leher Allah, sampai Allah memberi janji dan berkat-Nya.
Orang yang punya niat tidak benar, yang egois, yang berpikiran licik, yang merencanakan kejahatan, jangan harap mendapat berkat dari Allah. Hanyalah orang yang baik hatinya, teguh imannya, sempurna bersandarnya, tulus persembahannya, akan mendapat berkat tak ternilai dari Allah.
Dahulu Yakub tidak dapat melihat Allah, dia memakai cara tipuan mendapatkan status dan berkat kesulungan, tetapi di penyeberangan sungai Yabok, dia berhadapan dengan Allah, dia sudah mengerti perlu langsung memohon kepada Allah dan menangkap berkat Allah. Yakub bertumbuh setelah banyak menderita, hendaklah kita juga sama seperti Yakub bertumbuh melalui banyak penderitaan, lalu langsung mencengkeram Allah memohon berkat-Nya.
Hari ini kita berada di pangkuan Allah mendapat penuh kasih karunia. Tidak ada orang yang merasa cukup dalam hal memperoleh berkat, bukankah semakin banyak berkat semakin baik? Apakah engkau mau mendapat lebih banyak berkat? Belajarlah pada Yakub dalam mencengkeram Allah. Di gereja perlu banyak partisipasi dari jemaat untuk melakukan pekerjaan kudus, itu adalah kesempatan untuk mencengkeram Allah, bila engkau banyak melakukan pekerjaan kudus, pastilah engkau mendapat lebih banyak berkat.
“Seeing is Believing…” by Fred Veenkamp is licensed under CC BY-SA
“Winter Grass” by Anne Worner is licensed under CC BY-SA