SAUH BAGI JIWA
“Juga Bileam bin Beor, juru tenung itu, telah dibunuh oleh orang Israel dengan pedang, beserta orang-orang yang telah mati tertikam oleh mereka” (Yosua 13:22)
“Juga Bileam bin Beor, juru tenung itu, telah dibunuh oleh orang Israel dengan pedang, beserta orang-orang yang telah mati tertikam oleh mereka” (Yosua 13:22)
Bileam adalah anak Beor. Tempat tinggalnya di Petor, yang di tepi sungai Efrat. Peristiwa yang dialami Bileam ini bermula ketika bangsa Israel berkemah di dataran Moab, di seberang sungai Yordan, sebelum Musa mati dan sebelum mereka menyeberangi sungai Yordan. Pada waktu itu, bangsa Israel baru saja mengalahkan raja orang Amori dan raja Basan. Balak, raja Moab, menjadi gentar sehingga mengirimkan utusan untuk mengundang Bileam agar mengutuk bangsa Israel. Para tua-tua berangkat kepadanya dengan membawa upah penenung.
Pada mulanya Bileam tidak mau pergi karena Allah melarangnya untuk mengutuk bangsa yang telah diberkati. Namun setelah didatangi kembali dengan pemuka-pemuka yang lebih banyak dan dijanjikan upah yang sangat banyak, ia menjadi goyah. Bileam menyuruh mereka bermalam supaya mengetahui apa yang difirmankan Tuhan selanjutnya. Akhirnya Tuhan membiarkan Bileam pergi asalkan ia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah. Dalam perjalanan, Allah mengirimkan malaikatnya sehingga keledai yang ditungganginya berbicara dan Tuhan membuat Bileam melihat malaikat dengan pedang berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya. Maka Allah pun menaruh perkataan pada mulut Bileam, sehingga kutuk yang diinginkan oleh raja Moab menjadi berkat bagi bangsa Israel. Melalui peristiwa ini, kita dapat melihat bahwa kekuatan Tuhan tidak terkalahkan. Kekuatan si jahat tidak akan pernah dapat menggagalkan rencana Tuhan yang agung.
Alkitab menyebutkan Bileam sebagai seorang “nabi,” walaupun sesungguhnya ia adalah seorang petenung. Karena Bileam dapat berkomunikasi dengan Tuhan, meminta petunjuk-Nya, dan Tuhan menjawabnya. Dia juga mendapat peringatan lewat keledai yang berbicara dan melihat malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya. Namun karena hatinya yang suka akan harta kekayaan dan menerima upah untuk perbuatan yang jahat, menyesatkan orang Israel supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah, maka pada akhir hidupnya, ia binasa di tangan orang Israel dengan pedang.
Saat ini, setelah kita percaya kepada Tuhan, kita pun dapat diperhadapkan pada bujukan keinginan daging. Dan seperti Bileam, godaan ini dapat membuat iman kita tergoyahkan. Kita berharap Tuhan mengabulkan apa yang kita kehendaki, tanpa mempertimbangkan apakah hal ini sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Karena itulah, kita perlu Roh Kudus untuk membantu kita melawan keinginan daging, supaya hidup kita sepadan dengan kehendak-Nya. Dengan demikian kita dapat tetap setia kepada iman kita sampai akhirnya. Kita tidak mau hidup kita berakhir seperti Bileam. Kiranya Tuhan Yesus membantu kita semua agar selalu hidup benar seturut kehendak-Nya. Haleluya Amin.