SAUH BAGI JIWA
Menangis itu Baik
“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Nehemia 1:4)
“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Nehemia 1:4)
Anak kecil menangis itu wajar. Kita mungkin akan berusaha menenangkannya atau membiarkan orang lain menghiburnya. Seorang perempuan yang menangis juga dianggap biasa saja–baik dia muda ataupun tua. Tapi mengapa jika seorang pria dewasa menangis dianggap tidak biasa? Bahkan mungkin ada sebagian orang yang mencibir. Entah pria tersebut dikatai cengeng, melankolis, dan lain-lain. Lalu apa menangis itu suatu perbuatan yang salah?
Secara ilmiah, terdapat sistem yang disebut sistem limbik yang berperan penting dalam produksi air mata. Sistem ini mengatur kelenjar lakrimal (air mata) untuk menghasilkan air mata sebagai respons terhadap emosi atau rangsangan fisik. Menangis tidak hanya sekadar respons terhadap kesedihan, tetapi juga bisa terjadi karena rasa prihatin, terharu, kehilangan, atau bahkan kebahagiaan yang mendalam. Menangis adalah mekanisme tubuh untuk melepaskan tekanan emosional dan membantu menenangkan diri.
Alkitab mencatat banyak tokoh yang menangis. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Yusuf menangis saat bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang telah menjualnya. Nehemia menangis karena prihatin akan keadaan tembok Yerusalem yang runtuh. Petrus menangis dengan sedih setelah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan, Yesus sendiri menangis saat Lazarus meninggal dunia.
Melalui contoh-contoh di atas, jelaslah bahwa menangis bukanlah sebuah kesalahan ataupun hal yang memalukan, terlebih jika dilakukan dengan alasan yang tulus. Menangis adalah bagian dari kemanusiaan kita, bahkan dapat membawa dampak positif. Menangis bisa membantu mengurangi beban emosi yang menekan, mengurangi tekanan batin, serta menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap orang lain. Bahkan, secara medis, menangis juga dapat membantu meredakan stres dan meningkatkan suasana hati.
Menangis juga dapat menjadi ekspresi kerendahan hati di hadapan Tuhan. Ketika hati kita hancur, air mata kita bisa menjadi doa tanpa kata-kata, seperti tertulis dalam Mazmur 56:9a, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu.” Setiap air mata kita berharga di mata Tuhan.
Jadi, jangan pernah malu untuk menangis. Menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan salah satu cara Tuhan memberi kita kelegaan, kekuatan, dan harapan untuk menghadapi hidup. Kita bukanlah robot yang tidak mempunyai perasaan ketika diperhadapkan dengan sesuatu. Maka, jangan ragu untuk membiarkan air mata kita mengalir ketika emosi mendesak. Sebab, melalui tangisan, sering kali kita menemukan kedamaian dan penghiburan dari Tuhan yang mengasihi kita tanpa batas. Tuhan Yesus menyertai kita.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 15-16 Agustus 2026
1. Bacalah renungan “ORANG BIASA YANG LUAR BIASA”
2. Berikan contoh hal-hal kecil yang dapat Anda lakukan yang bisa berdampak pada orang-orang di sekitar Anda. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.