SAUH BAGI JIWA
Like Father, Like Son
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15)
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15)
Like father, like son. Seperti ayah, seperti anak. Itu adalah definisi harfiahnya. Seperti definisi harfiahnya, arti sebenarnya ungkapan itu tidak terlalu jauh berbeda. Artinya adalah anak yang berlaku seperti ayahnya, bisa dalam sikapnya, gayanya, maupun sifatnya. Sederhananya, “Nggak anak, nggak bapak, sama aja.” Istilah lain yang mempunyai arti yang mirip adalah ‘sebelas dua belas’, ‘setali tiga uang’, serta ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.
Lalu muncul pertanyaan, kenapa ayah dan anak bisa mirip? Ada yang berasumsi karena faktor genetik. Ada juga yang berkata bahwa anak itu mempunyai sifat meniru. Jadi karena setiap hari si anak berjumpa dengan ayahnya, maka ia akan melihat segala perilaku dari ayahnya dan cenderung menirunya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mempunyai kesamaan dengan ayah kita? Selain dengan ayah kandung kita, apakah kita juga mempunyai kesamaan dengan Bapa kita di surga?
Kita mungkin sering mengaku sebagai anak Tuhan. Tapi jika kita menghubungkannya dengan istilah ‘like father, like son’, rasanya masih jauh panggang dari api. Jika kita membandingkan perilaku, tutur kata, sikap, dan sifat kita dengan Tuhan Yesus, rasanya kita masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri.
Sebagai contohnya, kita diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44). Namun, sering kali kita malah menyimpan dendam atau enggan memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita. Kita juga diajarkan untuk berbicara dengan kasih dan tidak mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain (Ef 4:29). Namun, dalam banyak situasi, kita sering lupa untuk menjaga lidah kita, sehingga perkataan kita justru menjadi sumber konflik atau melukai perasaan orang lain. Padahal, sebagai anak-anak Tuhan, kita seharusnya menjadi pembawa damai dan mempergunakan kata-kata untuk membangun, bukan menjatuhkan.
Memang kita tidak dapat menjadi sempurna sama seperti dengan Kristus. Tapi paling tidak, kita ada usaha. Usaha untuk semakin menyerupai Bapa di surga adalah bagian dari proses pertumbuhan iman kita. Meskipun sulit, perubahan itu dimulai dari langkah-langkah kecil. Kita bisa mulai dengan mempraktikkan kasih dalam tindakan sehari-hari, seperti bersikap sabar kepada orang yang sulit dihadapi, membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan, atau berdoa bagi orang-orang yang menyakiti kita.
Tentu saja, kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus yang bekerja di dalam kita untuk mengubahkan hati dan pikiran kita. Sama seperti seorang anak yang belajar dari ayahnya dengan melihat dan meniru, kita juga dapat belajar dari firman Tuhan dan merenungkan teladan Kristus dalam kehidupan kita.
Maka, suatu saat nanti, ketika orang melihat dan memperhatikan kita, mereka akan mengakui bahwa kita adalah anak Tuhan, sebab kita mirip dengan-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 25-26 Juli 2026
1. Bacalah renungan “LIKE FATHER, LIKE SON”
2. Renungkanlah dalam hal apa Anda masih merasa sulit untuk menjadi serupa dengan Kristus. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.