SAUH BAGI JIWA
Menyesal Kemudian Tidak Berguna
“Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (Ibrani 12:17)
“Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (Ibrani 12:17)
Ayat di atas mengacu pada peristiwa di mana Esau tidak menghargai hak kesulungannya. Dikisahkan Esau merasa lelah setelah dia pulang dari padang. Pada waktu itu, dia melihat Yakub sedang memasak sup kacang merah. Esau yang memang sedang lapar-laparnya, tergoda untuk mencicipi sup yang tampak lezat itu. Maka, tanpa berpikir panjang, ketika Yakub meminta hak kesulungan Esau ditukar dengan semangkuk sup kacang merahnya, Esau langsung menyetujuinya. Bayangkan, hak kesulungan yang begitu berharga ditukar hanya dengan semangkuk sup kacang merah! Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkannya.
Mengapa Esau bisa sesembrono itu? Pertama, Esau terlalu menuruti keinginan daging. Keinginan mata dan perut lebih menguasai daripada pikirannya sehingga dengan ceroboh dia melakukan pertukaran itu.
Kedua, Esau meremehkan hak kesulungannya (Kej 25:34). Pikirnya, hak kesulungan tidak terlalu berguna baginya yang saat itu sedang kelaparan dan ingin segera makan.
Ketiga, Esau tidak mengerti arti dan guna hak kesulungan itu sendiri. Karena tidak mengerti guna hak kesulungan, maka dia tidak menghargainya sehingga dengan mudah mengabaikan dan menyerahkannya kepada Yakub.
Esau baru menyadari kesalahannya pada waktu berkat akan diberikan oleh ayahnya, Ishak. Karena dia telah menjual hak kesulungannya, maka dia tidak berhak lagi atas berkat anak sulung. Esau merasa sangat menyesal. Dia tidak dapat memperbaiki kesalahannya, karena hak kesulungan itu sekarang telah diberikan kepada Yakub.
Pengalaman pahit Esau ini dapat menjadi pengalaman pahit kita juga apabila kita tidak menghargai kasih karunia Allah. Tuhan telah memberikan kita hak istimewa untuk menjadi anak-anak-Nya (Ef 1:5).
Masalahnya, apakah kita menghargai kasih karunia itu? Apakah kita menjaga hak istimewa sebagai anak Allah dengan baik? Atau jangan-jangan kita sama seperti Esau yang meremehkan hak kesulungannya.
Ingatlah senantiasa bahwa kesempatan mendapatkan hak istimewa tersebut adalah langka dan terbatas. Jika kita tidak menjaganya dengan baik, kita akan kehilangan hak sebagai anak-anak Allah. Pada saat itu, menyesal dan menangis pun tidak berguna.
Begitu berharganya kasih karunia itu, sehingga Rasul Paulus dan Petrus memberikan kita nasihat terkait hal tersebut. Rasul Paulus berkata, “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” Rasul Petrus juga turut menasihati, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Agar kita dapat menghargai kasih karunia Allah, kita perlu bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Allah. Dengan demikian, hidup kita berpadanan dengan Injil Kristus dan kita menjadi semakin serupa dengan-Nya. Inilah cara hidup yang benar, yang tidak akan pernah kita sesali. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 30-31 Mei 2026
1. Bacalah renungan “KEKUATAN BARU”
2. Ceritakan dari pengalaman Anda bagaimana iman Anda dapat kembali menjadi kuat ketika mengalami kelemahan. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus memberikan kekuatan baru agar bisa bangkit kembali dari kelemahan dan terus bertumbuh di dalam iman.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.