SAUH BAGI JIWA
Mencuci Tangan
“Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak” (Mazmur 66:10)
“Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak” (Mazmur 66:10)
Hari ini saya memanggang kue cokelat, sementara ibu saya mencuci piring. Ketika saya berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan saya yang kotor karena adanya adonan cokelat yang menempel di tangan, ibu saya menarik tangan saya. Kemudian, ia mencuci tangan saya yang kotor itu. Saya pun tersenyum karena teringat bagaimana ia biasa melakukan hal tersebut ketika saya masih kecil. Saya rasa ia pikir saya tidak dapat mencuci tangan sendiri atau saya tidak akan mencucinya dengan benar. Saya ingat bagaimana ia mengambil tangan saya dan menggunakan kedua tangannya untuk menggosoknya sampai bersih.
Ketika saya mulai sedikit lebih besar, ibu saya berhenti mencucikan tangan saya. Tentu saja, ketika hal itu terjadi, ada kalanya tangan saya tidak dicuci padahal seharusnya dicuci. Ada kalanya juga tangan saya tidak dicuci dengan benar. Pada saat-saat itulah saya harus belajar mencuci tangan dengan baik dan membersihkan semua kotoran yang menempel di tangan.
Hal ini mirip dengan hubungan kita dengan Tuhan. Sebelum kita dapat “mencuci tangan” kita dengan benar, Tuhan melakukannya bagi kita. Ia menuntun kita dan menopang kita dengan cara yang begitu nyata, sehingga kita tahu Ia ada.
Lalu, setelah kita mulai bertumbuh, Ia sedikit melepaskan kita. Bukan berarti Ia meninggalkan kita, namun Ia mengizinkan kita untuk menjelajahi iman kita. Dengan begitu, keteguhan iman kita dapat terbukti dan kita dapat belajar dari kesalahan kita. Sesekali kita meminta pertolongan, dan Ia akan menolong kita. Tapi sebagian besar waktu, kita dibiarkan untuk menemukan iman kita dan menjaga kebersihan iman itu sendiri.
Ada orang yang pada akhirnya belajar “mencuci tangan” hingga benar-benar bersih. Orang seperti ini berarti mengikuti Tuhan dengan setia dan taat. Ia menggunakan teladan yang telah Tuhan berikan kepadanya tentang bagaimana “mencuci tangan” dengan benar. Imannya pun bertumbuh dan ketika ada tantangan, ia tidak mudah goyah.
Namun, ada juga yang tidak pernah belajar. Ia selamanya memiliki tangan yang kotor, tidak peduli pada nasihat maupun teladan yang telah diterima dari Tuhan. Akhirnya, hidupnya dipenuhi dengan dosa dan jauh dari kehendak Allah.
Walaupun begitu, Tuhan yang penuh kasih tidak mudah menyerah. Bahkan, ketika kita sudah lebih tua, Tuhan terkadang dapat kembali menggenggam tangan kita dan membantu kita untuk membersihkannya. Sekali lagi Ia membuat kita merasakan hangatnya kasih-Nya ketika Ia mencuci tangan kita hingga bersih.
Hidup bersama Tuhan adalah sebuah proses. Ada kalanya kita mampu menjaga diri kita bersih, ada kalanya juga kita terjatuh dalam kelemahan. Namun, selama kita mau datang kepada-Nya dengan merendahkan hati dan bersedia untuk dibentuk, Tuhan akan terus memimpin dan memurnikan kita sampai kita menjadi layak di hadapan-Nya. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 21-22 Februari 2026
1. Bacalah renungan “KEHENDAK ALLAH ATAU KEHENDAK PRIBADI?”
2. Ceritakanlah dari pengalaman Anda, bagaimana kita dapat membedakan kehendak Allah dan kehendak diri kita sendiri? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat mengerti dan mengikuti kehendak Allah.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.