SAUH BAGI JIWA
Ketika Mimpi Terbang, tapi Tak Pernah Mendarat
“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14b)
“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14b)
Impian adalah hal yang sangat manusiawi. Kita merancang masa depan, bekerja keras hari demi hari, berkorban, dan menunggu waktu yang tepat untuk menuai hasil. Begitulah yang dilakukan oleh Pratik Joshi, seorang profesional perangkat lunak asal India yang menetap di London selama enam tahun. Ia menantikan saat-saat di mana ia dapat bersatu kembali dengan keluarganya, yaitu dengan istrinya tercinta, Dr. Komi Vyas, dan dengan ketiga anak mereka, di negeri yang baru.
Akhirnya, mimpi itu hampir dicapai. Dr. Komi bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai seorang dokter di Udaipur. Tas sudah dikemas. Tiket sudah di tangan. Dengan bersukacita, mereka mengambil foto bersama. Mereka sedang berada dalam perjalanan menuju ‘rumah’ mereka.
Namun, masa depan mereka ternyata hanya bertahan sampai di ketinggian. Air India 171 jatuh. Hanya ada satu orang yang selamat dari 242 penumpang. Dr. Komi dan anak-anaknya menjadi korban dari peristiwa tersebut.
Tragedi ini mengguncangkan. Dalam sekejap, mimpi yang dibangun bertahun-tahun pun hancur. Sungguh, begitu rapuh hidup ini, sesuai dengan apa yang dikatakan Yakobus: “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap.” Kita berencana, itu baik. Tapi kita tidak dapat menjamin hasilnya. Kita bisa mengatur waktu, tapi kita tidak dapat memegang kendali atas hidup kita sendiri. Semua tergantung pada Tuhan.
Bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, ini adalah panggilan bagi kita untuk hidup dengan sadar dan berserah. Kita sadari bahwa waktu sangat berharga. Kita sadari bahwa kasih harus dinyatakan. Kita juga sadari bahwa pengampunan harus diberikan hari ini. Janganlah menunggu momen sempurna untuk hal-hal ini. Janganlah menunda waktu untuk mengatakan, “Saya minta maaf,” atau “Saya mengasihimu dan memaafkanmu.”
Dalam tragedi ini, kita juga belajar bahwa hidup bukanlah hanya tentang apa yang kita capai, tapi tentang siapa yang memegang hidup kita. Tanpa Tuhan, semua yang kita bangun hanyalah rumah di atas pasir. Tapi bersama Tuhan, bahkan kesedihan terdalam pun dapat dipulihkan. Kehilangan terbesar dapat digantikan dengan pengharapan.
Hidup ini seperti sebuah perjalanan udara. Kita dapat merencanakan rutenya, tapi hanya Sang Pilot Sejati yang tahu kapan kita akan mendarat. Maka, selama pesawat hidup ini masih terbang, marilah kita berbuat kasih lebih dalam, bersyukur dengan lebih bersungguh-sungguh, dan melayani dengan lebih setia. Jangan tunggu hari esok yang belum tentu tiba. Hiduplah sepenuhnya hari ini, di dalam Tuhan. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 4-5 April 2026
1. Bacalah renungan “BACAANMU CERMINAN HIDUPMU”
2. Bacaan atau tontonan apa yang seringkali Anda lihat setiap harinya? Setiap anggota keluarga boleh berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat membaca Firman-Nya setiap hari.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.