SAUH BAGI JIWA
Buanglah Segala Kepahitan
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan“ (Efesus 4:31)
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan“ (Efesus 4:31)
Melalui suratnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus meminta supaya mereka membuang segala kepahitan yang ada dalam hidup mereka. Kepahitan hidup ini dapat merujuk pada kebencian yang terpendam–merupakan gabungan dari perasaan marah, kecewa, dan ketidakberdayaan seseorang. Biasanya kepahitan hidup ini ditimbulkan oleh beberapa hal, seperti halnya: ketidakadilan yang dialami, perasaan iri, penghinaan, pengalaman disakiti, ditolak, bahkan dikhianati oleh seseorang. Mungkin mereka pernah mengalami hal-hal tersebut satu kali atau malah berulang kali.
Hal tersebut juga bisa terjadi tidak langsung pada diri mereka, tapi mungkin dialami oleh keluarga dekatnya, seperti anak, orang tua, dan saudara. Misalnya, anak kita disakiti oleh seseorang. Maka akan timbul suatu kepahitan dalam diri kita kepada orang yang menyakiti anak kita.
Orang yang menyimpan kepahitan dalam hatinya–apalagi disimpan dalam waktu yang lama–biasanya akan berperilaku buruk pada orang lain. Mereka akan menjadi orang yang sering berkata kasar, mengeluarkan perkataan yang menusuk, suka mengkritik orang untuk menjatuhkan, suka membuat keributan, keras kepala, dan memiliki keinginan kuat untuk balas dendam.
Oleh karena itu, penulis surat Ibrani 12:15 mengingatkan kita, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”
Bahaya dari akar pahit tidak hanya berdampak pada orang-orang di sekelilingnya. Tapi sesungguhnya berdampak buruk bagi orang itu sendiri. Mereka sulit merasakan damai sejahtera, hidup penuh dengan amarah dan dendam, serta tentu saja, rohaninya juga sulit bertumbuh. Ada yang mengatakan bahwa kepahitan itu sama seperti menyimpan buah asam di dalam wadah kaleng. Perlahan-lahan buah asam itu akan membuat kaleng menjadi berkarat dan berlubang. Sungguh sangat merugikan diri sendiri.
Ada pula orang yang mengatakan bahwa kepahitan itu sama seperti orang yang minum racun, lalu mengharapkan orang lain yang mati. Kepahitan juga disebutkan sebagai salah satu penyebab yang paling menghancurkan dan merupakan racun yang paling mematikan untuk kesehatan jiwa seseorang.
Tuhan ingin kita membuang segala kepahitan. Lalu bagaimana caranya untuk membuang kepahitan? Rasul Paulus dalam surat Efesus 4:32 berkata, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Mengampuni adalah resep yang paling mujarab untuk membuang segala kepahitan dalam hati kita.
Memang hal pengampunan bukanlah hal yang mudah untuk kita lakukan, tapi biarlah kita mohon agar Roh Kudus membantu kita untuk mengampuni orang yang telah melukai hati kita. Bawa hal ini dalam doa, pergumulkan, dan bersandarlah pada kekuatan Roh Kudus, niscaya kita dapat mengampuni orang lain dan membuang segala kepahitan dalam hati kita. Sebagai gantinya, hati kita akan memperoleh damai sejahtera yang berasal dari Tuhan. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?

Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 15-16 Maret 2025
1. Bacalah renungan “Jangan Tawar Hati”
2. Pernahkah Anda menghadapi keadaan buruk yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama, atau yang sangat sukar, sehingga membuat Anda menjadi tawar hati? Setiap anggota keluarga dapat berbagi pengalamannya.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat sepenuhnya bersandar kepada-Nya, sehingga kita tidak tawar hati ketika menghadapi persoalan yang melanda kehidupan kita.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.