SAUH BAGI JIWA

Katarak Rohani 

Renungan Tanggal: 29 Maret 2026

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui(Lukas 6:41)

Minggu ini, saya memiliki cukup waktu luang, karena mempunyai dua hari libur. Saya pun memutuskan untuk memanfaatkan waktu tersebut dengan menyortir arsip foto-foto lama yang memenuhi penyimpanan digital saya. Saat menelusuri folder dari tahun 2020-2021, saya menemukan sesuatu yang menarik sekaligus menyentuh hati.

Ada ratusan foto hasil editan yang terlihat sangat terang, bahkan terlalu terang. Saya sempat terkejut melihat hasil edit tersebut. ‘Kenapa dulu saya membuatnya begitu over exposure?’ pikir saya. Awalnya saya bingung, namun kemudian saya teringat bahwa pada masa itu, penglihatan saya sedang terganggu karena katarak. Saya baru menjalani operasi katarak pada akhir tahun 2021. Ternyata, mata saya yang tertutup katarak telah membuat saya melihat segala sesuatu lebih gelap daripada kenyataannya. Itulah mengapa saya menaikkan kecerahan secara berlebih saat mengedit foto-foto itu, menyesuaikan dengan ‘standar’ gelap yang saya alami saat itu.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa katarak bukan hanya masalah fisik, tapi dapat menjadi gambaran kondisi rohani. Seperti katarak yang membuat mata tidak dapat melihat dengan jernih, kita pun sering tidak dapat menilai dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Pikiran kita mungkin tertutup oleh prasangka, luka lama, atau sudut pandang yang sempit. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya baik kita anggap buruk, atau sebaliknya.

Tuhan Yesus pernah berkata dalam Lukas 6:41, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” Tuhan mengingatkan bahwa kita cenderung mudah menilai kesalahan orang lain, padahal kita sendiri belum tentu melihat dengan mata rohani yang bersih. Jika penglihatan kita terhalang oleh balok atau dalam kondisi keruh, maka penilaian kita pun akan meleset. Inilah sebabnya kita membutuhkan terang dari Tuhan, agar mata hati kita diterangi dan tidak tertipu oleh ‘katarak rohani’.

Rasul Paulus mendoakan jemaat di Efesus agar mereka mendapatkan terang ilahi. Ia menuliskan, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya…” (Ef 1:18).

Mari kita memohon kepada Tuhan agar menghilangkan setiap kekeruhan rohani dalam diri kita. Kiranya kita tidak lagi menghakimi menurut apa yang tampak dari luar, tapi menilai dengan kasih dan hikmat dari Tuhan. Seperti saya yang baru menyadari kesalahan edit foto setelah katarak saya diangkat, demikian juga kita akan melihat dengan lebih jernih bila hati kita disucikan oleh kasih dan kebenaran Allah. Tuhan Yesus memberkati. Haleluya!

Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?

bible-2167778_1920

Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.

Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).

Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:

Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:

Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583

Tulis berita: SBJ

Volunteers hand putting heart in glass donation jar

Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga

Tanggal:  28-29 Maret 2026

1.⁠ ⁠Bacalah renungan “SIKAP DALAM DOA”

2.⁠ ⁠Selain untuk diri kita, siapa saja yang perlu kita doakan? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.

3.⁠ ⁠Berdoalah bersama-sama. Berdoalah untuk iman kerohanian kita dan juga orang lain.

    1. Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
    2. Pembukaan:
      • Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
      • Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
      • Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
    3. Sharing & diskusi keluarga:
      • Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
      • Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
      • Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
      • Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
    4. Penutup:
      • Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
      • Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.