Sabar Sampai Musim Menuai
Seri Injil Matius (Bag 4)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia

7. Tidak Menjadi Kecewa
“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Matius 11:6)
Pernahkah kita melihat sebuah foto yang sangat indah, baik di Instagram maupun di internet, lalu kita bersama dengan keluarga merencanakan berwisata ke sana? Begitu bersemangatnya, sehingga di tengah perjalanan pun sudah terbayang-bayang betapa indahnya tempat itu. Namun setelah tiba di sana, ternyata apa yang kita lihat tidaklah seindah apa yang kita bayangkan. Tentulah kita akan menjadi kecewa, bukan?
Begitulah orang-orang pada zaman Yesus. Mereka membayangkan bahwa Mesias yang dijanjikan akan lahir ke dalam dunia sebagai seorang raja yang datang dengan berbagai kemuliaannya, yang akan melepaskan mereka dari penindasan bangsa Romawi. Tetapi Yesus yang mereka lihat saat itu adalah anak tukang kayu. Orang yang miskin. Tidak memiliki kedudukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Membuat mereka ragu bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dijanjikan Allah.
Bahkan, Yohanes Pembaptis yang telah melihat langit terbuka sekalipun ketika membaptis Yesus, ikut menjadi ragu apakah Yesus adalah benar-benar sang Mesias. Karena itu ia menyuruh murid-muridnya datang kepada Yesus dan bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Maka jawab Yesus kepadanya, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Hari ini, apa yang kita bayangkan akan terjadi dalam kehidupan kita setelah percaya Yesus? Apakah kita membayangkan hidup kita akan baik-baik saja karena Dia adalah Allah Yang Maha Penyayang? Atau kita membayangkan hidup kita akan dipenuhi berkat Tuhan karena Dia adalah Allah yang Maha Kasih? Atau kita membayangkan diri kita tidak akan mengalami musibah karena Dia adalah Allah yang Maha Kuasa?
Pada kenyataannya, walaupun kita sudah hidup begitu saleh di hadapan Tuhan, kepahitan dapat terjadi di dalam kehidupan kita. Usaha kita bangkrut. Kanker yang ganas menyerang paru-paru kita. Rumah kita dirampok. Anak kita tertabrak truk dan harus mengalami cacat seumur hidupnya. Mengalami ini semua, Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Ayub, seorang yang saleh. Namun hidupnya tidak berjalan semulus yang ia harapkan. Semua hartanya dirampok. Seluruh anak-anaknya mati seketika itu juga. Dan tubuhnya terjangkit penyakit yang sangat menjijikan. Istrinya menjadi kecewa lalu menyuruhnya meninggalkan Tuhan. Tetapi karena imannya, Ayub tetap setia kepada Tuhan.
Hari ini, ketika cobaan datang dan rasanya hidup menjadi begitu berat, janganlah kecewa! Tetaplah berdoa. Tetaplah giat melayani Dia. Bahkan, justru di saat-saat seperti inilah kita perlu lebih banyak lagi berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ingatlah segala berkat rohani yang pernah kita terima dan rasakan dalam hidup di saat rasa kekecewaan menimpa. Tetaplah beriman! Tetaplah setia! Maka suatu saat, kita akan mengerti bahwa rencana Tuhan akan selalu indah pada waktu-Nya. “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Haleluya!