Berani Melangkah Seri Injil Matius (Bag 5)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia
3. Jangan Abaikan Doa
“Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ” (Matius 14:23)
Setelah melakukan mujizat dengan memberi makan lima ribu orang, Yesus menyuruh orang banyak itu pulang. Dia juga memerintahkan murid-murid-Nya untuk naik perahu mendahului-Nya ke seberang, sementara Dia sendiri naik ke atas bukit untuk berdoa. Yesus sengaja mengasingkan diri ke tempat sepi agar Dia dapat berdoa.
Jika kita perhatikan, Yesus memang memiliki kebiasaan untuk pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Misalnya, ketika Yesus dan murid-murid-Nya sampai ke Getsemani, Dia menyuruh murid-murid menunggu, sementara Dia menjauhkan diri dari mereka untuk berdoa (Mat. 26:36). Markus 1:35 mencatat, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Demikian juga Lukas 5:16 mencatat bahwa setelah menyembuhkan orang sakit, Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Kita melihat bahwa doa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Yesus. Walaupun telah sibuk mengajar atau menyembuhkan orang-orang yang sakit sepanjang hari, Yesus selalu menyempatkan diri untuk berdoa. Mengapa Yesus berbuat demikian? Sebab Dia menyadari betapa banyak dan berat tugas yang harus dilakukan dan pencobaan yang harus dihadapi-Nya. Oleh karena itu, Dia memerlukan kekuatan, penghiburan, dan tuntunan dari Bapa. Hanya dengan kekuatan doa, Dia akan mampu menyelesaikan misi-Nya di dunia dengan baik. Sebab bagaimanapun, pada waktu itu, Dia hanyalah seorang manusia biasa, yang banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan. Maka Yesus juga menasihati kita, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mrk. 14:38)
Jika Yesus saja selalu menyempatkan diri untuk berdoa, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita selalu berdoa setiap hari? Jangan sampai kita mengabaikan doa dengan alasan kita terlalu sibuk atau terlalu lelah. Jika kita tidak meluangkan waktu, sampai kapan pun kita tidak akan punya waktu. Kita akan selalu sibuk dengan berbagai hal. Ada yang berkata bahwa doa itu adalah nafas orang Kristen. Jadi, jika kita selalu melewatkan waktu untuk berdoa, lambat-laun rohani kita akan mati. Tanpa doa, rohani kita akan kering. Dan menghadapi berbagai kesukaran dan pencobaan hidup, kita akan kekurangan tenaga. Sama seperti baterai yang jarang diisi, lama-kelamaan akan semakin lemah karena pemakaian yang terus-menerus. Demikian halnya dengan kerohanian kita. Oleh karena itu, kita harus menambah kekuatan melalui doa.
Jangan menganggap remeh doa. Yakobus 5:17 berkata, “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.” Kita melihat bahwa hal yang tampaknya mustahil pun dapat terjadi melalui doa yang sungguh-sungguh.
Jadi, marilah kita bangun persekutuan kita dengan Tuhan melalui doa setiap hari. Ikutilah teladan Yesus untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa, agar kita dapat lebih fokus dan tenang. Kiranya dengan adanya kehidupan doa yang baik, kita akan mampu menghadapi segala tantangan kehidupan dan menang atas segala pencobaan, sama seperti Yesus.
