Sabar Sampai Musim Menuai
Seri Injil Matius (Bag 4)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia

15. Walk The Talk
“Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh dia” (Matius 12:14)
Walk the Talk”. Itulah sebuah slogan yang menjadi populer, baik di kalangan pebisnis, dunia pendidikan, maupun dalam gereja. Artinya adalah apa yang kita ucapkan, itulah juga yang akan kita lakukan. Ketika seorang guru di sekolah mengajarkan kepada murid-muridnya untuk membuang sampah pada tempatnya dan memungut sampah yang berceceran, maka guru tersebut pun perlu melakukannya juga. Demikianlah ketika sebuah perusahaan mengatakan bahwa dirinya peduli lingkungan, maka mereka harus menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan ini pada produk-produknya.
Namun tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi. Walaupun mereka mengajarkan Hukum Taurat kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Mat 23:3-4). Bahkan apa yang mereka lakukan bertentangan dengan Hukum Taurat yang mereka ajarkan.
Di dalam Hukum Taurat jelas tertulis, “Jangan membunuh” (Kel 20:13). Dan mereka yang karena kebencian, mengikhtiarkan untuk membunuh sesamanya, pastilah dihukum mati (Im 35:16-21). Namun justru apa yang dilarang oleh Hukum Taurat inilah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. “Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh [Yesus].” Betapa ironisnya!
Sebagai pemimpin agama yang terpandang dan dijunjung tinggi oleh masyarakat, mereka terlihat begitu saleh. Di tikungan-tikungan jalan raya mereka berdoa. Mereka memberikan sepersepuluh dari penghasilan mereka. Bahkan mereka berpuasa dua kali seminggu. Tetapi apa yang ada di dalam hati mereka dan apa yang mereka lakukan sungguhlah berbeda dengan prinsip Hukum Taurat yang mereka ajarkan.
Hari ini, sebagai orang Kristen yang telah begitu giat beribadah, rajin berdoa, dan juga telah memahami apa yang dikehendaki Allah bagi kita, apakah perbuatan kita telah selaras dengan itu semua? Tentunya, Allah tidak menghendaki kita seperti orang-orang Farisi, yang walau telah memahami Firman Tuhan, tetapi apa yang mereka perbuat tidaklah demikian.
Sebagai orang tua, biarlah apa yang kita katakan kepada anak-anak kita untuk rajin beribadah dan giat berdoa, diri kita pun boleh melakukannya. Sebagai pengkhotbah dan guru agama, biarlah apa yang kita ajarkan kepada jemaat dan anak-anak rohani kita untuk berbuat kasih kepada sesama, diri kita pun boleh melakukannya.
Demikianlah kita menjadi orang-orang yang berbahagia, seperti Yakobus mengatakan, “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yak 1:25).
Haleluya!