Sabar Sampai Musim Menuai
Seri Injil Matius (Bag 4)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia

13. Memetik Bulir
“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” (Matius 12:7)
Suatu ketika di hari Sabat, saat Yesus dengan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju rumah ibadat orang Yahudi, laparlah mereka (Mat 12:1, 9). Melewati ladang gandum, mereka pun memetik bulir gandum dan memakannya. Maka akhirnya, tindakan mereka ini menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi orang-orang Farisi (Mat 12:2). Menurut mereka, apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus ini melanggar peraturan Taurat. Menurut peraturan, memetik bulir gandum adalah sebuah pekerjaan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Maka Tuhan Yesus menjawab mereka dengan mengisahkan bagaimana Daud masuk ke dalam Rumah Allah dan memakan roti yang hanya boleh dimakan oleh imam. Dan juga bagaimana para imam yang melayani di dalam Bait Allah melanggar hukum Sabat, namun mereka tidak bersalah (Mat 12:4-5).
Dengan perkataan-Nya, Tuhan Yesus mengajak orang-orang Farisi untuk melihat kembali makna sesungguhnya dari hari Sabat yang diciptakan oleh Allah. Melalui hari Sabat-Nya, sesungguhnya Allah ingin kita berhenti dari kesibukan dan pekerjaan kita, untuk dapat mengingat akan Dia dan perhentian kekal-Nya.
Tetapi orang-orang Farisi melihat hari Sabat sebagai sebuah peraturan yang harus ditaati. Mereka pun menambahkan banyak peraturan-peraturan lain, seperti peraturan mengenai memetik bulir yang dilakukan oleh murid-murid Yesus ini. Mereka membuat hari Sabat menjadi beban, di mana seharusnya hari Sabat adalah hari kenikmatan. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya, “Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.” (Yes 58:13-14)
Hari ini, bagaimanakah kita melihat perintah Sabat yang diberikan oleh Allah? Apakah kita bisa melihat makna sesungguhnya dari hari Sabat? Jika kita datang beribadah karena kita melihatnya sebagai sebuah kewajiban, sesungguhnya hari Sabat jauh lebih bermakna dari itu. Pada hari Sabat, kita dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan sang Pencipta kita. Dengan menguduskan hari Sabat, kita diingatkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, diberikan istirahat jasmani dan rohani, Allah-lah yang telah menyelamatkan dan menguduskan manusia, dan adanya istirahat sejati di surga. Demikianlah kita dapat menjalani hari-hari kita dalam kekudusan. Begitu banyak kebaikan di hari Sabat.
Biarlah hari ini, kita boleh menemukan makna sesungguhnya di balik perintah Sabat. Dan kita pun mau dengan setia memegang perintah-Nya untuk mengingat dan menguduskan hari Sabat-Nya. Sampai akhirnya, kita akan menikmati Sabat yang kekal di dalam Kerajaan Surga.
Haleluya!