PENGLIHATAN YANG MENGUATKAN IMAN SAYA

Sdr. Woltin Lantop – Gereja Malaka, Malaysia Barat

Haleluya, pertama-tama saya ingin menyampaikan salam damai sejahtera kepada semua pembaca. Nama saya Woltin dari Sabah (Malaysia Timur). Saya dibaptis tahun 1997 di Malaka, tempat tinggal saya saat ini. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya ingin membagikan kesaksian tentang penglihatan yang saya terima.

Pdt. Ko Hong-Hsiung dari Jerman dilarikan ke Rumah Sakit Pantai Malaka pada penghujung Konferensi Perwakilan Dunia yang diadakan di Olive Garden, Port Dickson. Ia didiagnosa pendarahan otak. Keadaannya sangat serius karena sewaktu-waktu ia dapat kehilangan nyawanya dan ia harus segera menjalani operasi bedah otak.

Setelah dirawat beberapa hari, ia diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan di rumah seorang jemaat di Malaka. Pertemuan dengan dokter selanjutnya adalah sepekan kemudian, dan ia dianjurkan untuk tidak sering-sering berpergian.

Pada tanggal 11 April 2009, Pdt. Ko mengikuti kebaktian Sabat, dua hari setelah keluar dari rumah sakit. Karena semangatnya yang besar untuk melayani, Pdt. Ko memohon untuk menyampaikan khotbah dalam kebaktian. Keadaannya yang rapuh menyebabkan kekuatiran di antara jemaat, di antaranya saya sendiri.

Saya pernah menjalani bedah telinga dua tahun yang lalu karena infeksi virus. Jadi saya menyadari betapa lemahnya tubuh manusia setelah operasi, karena saya tidak dapat berdiri lama-lama. Apalagi, Pdt. Ko harus menyampaikan khotbah selama satu jam. Saya tidak tahu bagaimana rasanya setelah menjalani operasi otak, tetapi saya yakin kemampuannya berdiri pasti terpengaruh, karena itu juga terjadi pada diri saya. Saya sangat kuatir pendeta terjatuh di mimbar. Dalam kegelisahan itu saya menundukkan kepala dan menutup mata, diam-diam berdoa kepada Allah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika saya selesai berdoa, saya menaikkan kepala dan menyaksikan lima malaikat berpakaian putih dengan sayap-sayap yang sangat besar sampai ke plafon. Penampilan mereka sangat anggun dan berdiri di sekitar mimbar. Mereka semua memegang sesuatu di tangan. Dua malaikat, masing-masing berdiri di samping pendeta dan penerjemah, memegang buku-buku yang besar (sekitar ukuran B5) di tangan kanan mereka. Ada dua malaikat lain yang berdiri di belakang pendeta dan penerjemah, dan mereka memegang sebuah tongkat di tangan kanan mereka. Sementara malaikat satu lagi berdiri di tengah, di antara pendeta dan penerjemah, dan ia memegang sebilah pedang, dengan mata pedang tertuju ke lantai. Penglihatan itu hanya sesaat, tetapi sangat jelas dan meninggalkan kesan yang sangat membekas pada diri saya.

Saya tidak yakin apakah maksud dan arti benda-benda yang dipegang oleh malaikat-malaikat itu, tetapi saya yakin bahwa penglihatan ini sangat membangun dan menguatkan iman saya. Seringkali kita menunjukkan kurangnya iman kita dan gelisah dengan banyak kekuatiran dan rasa takut akan dunia ini, seperti yang dialami hamba-hamba Tuhan (2Raj. 6:15-16). Kita lupa bahwa Allah mempercayakan malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga kita setiap waktu (Mzm. 34:7). Paulus berkata bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus – maut pun tidak. Kebenaran ini sungguh nyata, selama kita memelihara ketekunan dan dengan setia percaya kepada Tuhan.

Segala kemuliaan bagi Allah. Amin.