PENGALAMAN SAYA KETIKA SAKIT

Sdri. Hiraga Kaori (Yu Fang) – Gereja Chiba, Jepang

Haleluya, dalam nama Yesus saya bersaksi.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1Kor. 12:26)

Bersyukur kepada Tuhan, dan terima kasih pada bantuan doa semua orang, Allah penuh murah hati, Ia telah mendengar doa-doa kami dan memberikan kesempatan kedua dalam hidup saya.

Pada tanggal 19 Januari 2016, saya didiagnosa mengidap penyakit kanker lambung. Saya pergi untuk menjalani pemeriksaan gastroskopi, dan dokter memberitahukan bahwa mungkin ini adalah kanker. Pada saat tiu, hanya ada satu pikiran dalam benak saya: “saya hanya selamat dengan berdoa kepada Tuhan.” Dalam perjalanan pulang, saya mulai berdoa dan berseru kepada Tuhan: “Tuhan! Engkau telah menyelamatkanku dari maut sepuluh tahun yang lalu, jadi aku yakin kali ini Engkau juga akan menyelamatkanku lagi.” Setelah suami saya pulang, ia berkata, “Jangan kuatir, kita memiliki Tuhan sebagai sandaran kita.” Sebenarnya, saya merasa kuatir suami saya tidak dapat menerima berita ini karena ia adalah orang yang baru percaya. Setelah pemeriksaan medis lebih mendalam, maka dipastikan bahwa saya mengidap kanker. Saya merasa putus asa, tetapi di saat yang sama saya juga merasa lebih teguh karena Alkitab menyatakan:

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Ams. 24:10)

Di hari itu juga, dengan tenang saya meminta bantuan doa dari saudara-saudari seiman di gereja. Karena iman saya lemah, saya membutuhkan perantaraan semua orang untuk memerangi penyakit ini. Puji Tuhan, saudara-saudari seiman dari Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Argentina mendoakan saya dalam satu hati. Beberapa dari mereka bahkan berdoa puasa bagi saya sejak hari pertama sampai hari operasi bedah selesai. Ada banyak saudara-saudari seiman yang tidak saya kenal. Tetapi saya menyadari bahwa Roh Allah-lah yang mendorong mereka semua, karena kita semua adalah satu keluarga.

Sdr. Kenji mengingatkan saya untuk mengunjungi sebuah rumah sakit spesialis kanker di Tokyo – Rumah Sakit Khusus Kanker Tsukiji. Jadi saya pergi ke sana bersama Sdr. Xiao-Ji untuk menjadwalkan pertemuan. Ketika kami tiba di sana, meja pendaftaran sudah tutup. Saat itu tanggal 29 Januari dan kami tidak berhasil melakukannya pada waktunya. Seorang perawat meminta saya untuk datang kembali hari Senin berikutnya, jadi dokter dapat menemui saya, apabila dokter tidak berhalangan. Apabila bukan karena kesempatan ini, saya harus menelpon lagi dan menjadwal ulang di lain waktu. Puji Tuhan, ketika saya datang ke rumah sakit hari Senin itu, ada dokter yang dapat menemui saya, dan memberikan tanggal sementara untuk melakukan pembedahan. Sementara itu, saya mulai menjalani pemeriksaan pra-operasi. Puji Tuhan, ini adalah rencana-Nya yang indah; dan saya dapat merasakan bahwa Ia sudah mulai bekerja.

Setelah itu, saya menunggu hari pembedahan yang sudah dijadwalkan. Selama hari-hari penantian itu, kami berdoa dengan tekun bersama-sama. Dalam doa saya, saya berseru kepada Tuhan, “O Tuhan, anjing pun dapat makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya, mohon kemurahan-Mu bagi saya dan tolonglah saya yang beriman lemah. Ketika saya memperoleh kewarganegaraan Jepang, saya tahu maksud-Mu mengapa saya berada di Jepang. Saudara-saudari seiman dan saya mempunyai tugas yang sama – memberitakan injil dan melayani-Mu. Namun saya belum memulai pekerjaan apa pun. Saya belum menunaikan amanat Tuhan. Bagaimanakah saya dapat pergi dan melihat wajah-Mu? O Tuhan, iman saya lemah, saya takut tidak dapat memikul beban yang berat ini. Kalau ini adalah kehendak-Mu untuk memikul beban ini, mohon pikullah beban ini bersama saya. Sembari saya menanggung beban ini, mohon agar saya tetap bersukacita; dan tolonglah keluarga dan teman-teman saya untuk menyerahkan segala kekuatiran mereka kepada-Mu. Berikanlah mereka hati yang penuh dengan damai sejahtera.”

Saya mendoakan hal ini tidak henti-hentinya, seperti anak merengek-rengek kepada ayahnya, memohon iman, memohon ketaatan. Hidup ada di tangan Allah, kata Alkitab, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak. 4:15) Puji Tuhan, saya dapat menjalani hidup sehari-hari dengan gembira melalui doa dan dorongan semua orang. Banyak orang yang bertemu dengan saya tidak percaya bahwa saya adalah seorang penderita kanker. Saya tanpa sadar akan bernyanyi, “Ku bergirang, Yesus cintaku,” (KR. 27) karena kekuatan yang dari Allah ini, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31)

Puji Tuhan, masa penantian satu bulan itu berlalu dengan cepat oleh karena doa. Jadwal pembedahan ditetapkan tanggal 1 Maret. Anak saya lahir tanggal 1 Maret; dan saya tidak akan pernah lupa bagaimana Allah menolong saya dan menyelamatkan anak saya pada hari itu. Tanggal 1 Maret juga pertama kalinya suami saya datang ke gereja. Berkat-berkat Allah tidak dapat dihitung; oleh karena kasih-Nya, keluarga saya dapat melewati kesulitan-kesulitan hidup sekali lagi. Karena kemurahan Allah, Ia memberikan kesempatan bagi suami saya untuk mengenal kasih karunia-Nya dan diselamatkan. Pada hari itu, saya memperoleh lagi sebuah permulaan; dan saya tahu bahwa sekali lagi Tuhan akan memberikan hidup.

Kita sering berkata, “Allah itu hidup, apakah yang perlu kita takutkan?” Tetapi ketika kita berjalan di lembah kekelaman, dapatkah kita sungguh-sungguh tidak merasa takut? Tidak. Setidaknya, saya menyadari bahwa saya lemah dan ketakutan. Namun Allah memberitahukan kita di Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Sekali lagi Allah memberikan keberanian bagi saya, dan memimpin saya melalui hari-hari kecemasan.

Selama satu bulan saya menunggu jadwal operasi, doa-doa bertambah; dan Tuhan kita mendengar suara doa-doa kita dan Ia melihat air mata yang dikucurkan oleh saudara-saudari seiman bagi saya. Allah menghibur saya, sehingga hati saya merasa damai dan tenang. Ketika saya masuk ke ruang bedah, segala rasa takut saya hilang. Sebaliknya, saya merasa yakin; dan saya berdoa kepada Tuhan, “O Tuhan, Engkau akan menyelamatkan saya, saya tahu bahwa Engkau akan menyertai saya.”

Puji Tuhan, operasi yang dijadwalkan selama enam jam hanya memakan waktu dua setengah jam. Dua per tiga dari lambung saya diangkat; dokter melakukan sayatan dari dada hingga pusar saya. Operasi seperti ini membutuhkan pembiusan penuh, yang berarti saya tidak sadarkan diri selama pembedahan. Namun saya merasakan adanya kekuatan aliran listrik dalam diri saya, dari kepala ke ujung kaki, yang membuat merasa sangat nyaman dan membangunkan saya. Pada waktu itu, saya sangat mengantuk tetapi saya membuka mata. Saya melihat diri saya terbaring dalam sesuatu berwarna putih dan berkilau menyerupai kepompong sutera. Saya berkata, “Tuhan, Engkau ada di sini!” Lalu saya jatuh tertidur. Sesungguhnya, saat tubuh saya masih dibedah, roh saya terbangun; Allah ada di situ dan Ia datang untuk menghibur saya.

Setelah beberapa waktu, dokter membangunkan saya dan berkata bahwa operasi bedah sudah selesai. Ketika saya bangun, saya merasa sangat baik dan dapat bercakap-cakap dengan perawat-perawat sepanjang perjalanan dari ruang bedah ke kamar rawat inap. Puji Tuhan, ketika saya bertemu dengan keluarga dan Dks. Lidia, saya masih berada dalam keadaan yang baik. Pada hari pertama dan kedua setelah operasi, saya merasa baik di pagi hari, tetapi merasa buruk di malam hari. Saya merasa seolah-olah kekuatan yang menunjang tubuh saya mengering. Kekuatan yang mengering itu adalah kekuatan doa. Banyak jemaat merasa lega setelah mereka mendengar operasi itu berhasil, sehingga ketekunan doa mereka perlahan-lahan melemah. Saya langsung teringat dengan peperangan antara bangsa Israel dengan bangsa Amalek: ketika Musa mengangkat tongkatnya, bangsa Israel menang; ketika tongkatnya turun, Israel kalah. Jadi saya berseru kepada Tuhan untuk menolong saya! Setelah banyak doa, keadaan saya memulih. Setelah itu, saya segera memberikan pesan kepada beberapa saudari dan memohon agar mereka tidak menurunkan tangan doa mereka, tetapi agar terus mendoakan saya. Selama waktu itu saya sungguh merasakan pentingnya doa dan kuasa doa yang ajaib. Ketika saya bangun keesokan harinya, keaadan jasmani saya terasa sangat baik. Selama beberapa hari berikutnya, saya dapat menyambut saudara-saudari seiman, teman-teman, dan keluarga yang datang menjenguk saya. Puji Tuhan, keadaan tubuh saya setiap hari bertambah baik. Seminggu setelah operasi, dokter melihat bahwa saya telah banyak pulih. Jadi ia memulangkan saya seminggu lebih awal, pada tanggal 9 Maret.

Puji Tuhan, minggu kedua setelah saya pulang ke rumah, saya dapat bangun dari tempat tidur dan membereskan rumah serta berjalan-jalan. Saya juga menggunakan waktu-waktu itu untuk menulis kesaksian ini; saya sudah mulai menulis sejak saya menyadari hasil analisa patologi. Saya tahu bahwa bagaimana pun juga Allah akan menggunakan jalan-Nya untuk memberikan jawaban yang dapat saya pikul. Setelah saya menyelesaikan kesaksian ini, saya menunggu untuk pergi ke rumah sakit tanggal 15 April untuk mengambil hasil analisa biopsi. Sebenarnya dua minggu sebelumnya rumah sakit sudah mengirim laporan patologi. Laporan itu menegaskan bahwa kanker yang saya idap bersifat invasif. Ini berarti kanker yang saya alami adalah jenis yang paling parah dan paling ganas. Saya stadium 2B, setingkat lebih berat daripada kanker stadium 2. Berita yang lebih buruk, ada tujuh sel kanker yang telah menyebar ke kelenjar limpa dekat lambung (puji Tuhan, tidak sampai ke hati). Setelah itu, saya melakukan banyak penelitian di internet dan buku-buku; semua jawaban menunjukkan bahwa solusi masalah ini adalah kemoterapi. Saya memberitahukan beberapa saudara seiman tentang keadaan saya; dan saya memohon agar mereka tetap mendoakan saya. Apa pun yang terjadi, saya harus lebih lagi bersandar kepada Tuhan. Dan saya memohon kepada Allah untuk mengaruniakan hati yang taat dan tunduk sepenuhnya, dan kekuatan agar saya dapat menanggung apa pun yang akan saya hadapi.

Apa pun kesulitan yang hadapi, kita tidak perlu bertanya-tanya tentang sebab ataupun terlalu memikirkannya. Allah mengetahui perbuatan dan pikiran kita. Pikiran Allah lebih tinggi daripada kita; setelah kita percaya, kita tidak perlu ragu. Allah murah hati dan penuh kasih; kita tahu bahwa Ia menyertai kita. Karena itu pada tanggal 15 April saya pergi ke rumah sakit dengan sukacita. Pertama-tama dokter menjelaskan keadaan saya, lalu berkata bahwa saya tidak perlu menjalani kemoterapi. Saya bertanya apakah saya perlu menjalani pengobatan; katanya, tidak. Walaupun kanker saya stadium 2B, kanker yang saya alami masih kecil. Karena itu, saya tidak memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk menjalani kemoterapi; saya hanya perlu mengikuti pemeriksaan lanjutan setiap enam bulan. Belakangan, saya menemukan bahwa walaupun data analisa mengategorikan saya sebagai stadium dua, saya sebenarnya ada dalam tingkat awal antara stadium A dan B, yang berarti tidak terlalu baik tetapi juga tidak terlalu buruk. Kasus saya sangat jarang terjadi. Allah penuh kuasa; Ia dapat menghentikan matahari, tentulah Ia dapat menghentikan sel kanker sebelum menyebar.

Dokter memberitahukan saya bahwa operasi pembedahan yang dilakukan sangat berhasil; dan semua yang harus dibuang berhasil dibuang sepenuhnya. Karena itu, saya akan sembuh apabila saya memelihara diri saya. Saya tidak tahu akan hari esok, tetapi saya tahu bahwa apabila saya dekat dengan Allah dan tekun berdoa, Allah akan menolong saya, karena hidup adalah milik Allah. Saya sepenuhnya menyadari bahwa Allah-lah yang telah menolong saya, orang yang kurang beriman. Apabila bukan karena kuasa-Nya yang ajaib, bagaimanakah saya memperoleh berkat ajaib perpanjangan hidup ini?

Puji Tuhan, selama penyakit saya, kami semua menyaksikan kuasa Allah dan kuasa doa syafaat. Ketika seseorang berjalan di tepi hidup, secara alami ia merenungkan banyak hal yang biasanya tidak ia pikirkan. Saya merenungkan tentang kisah Lot, Sepuluh Gadis, dan tentang jiwa saya sendiri. Saudara, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Apakah kita siap apabila Tuhan datang kembali untuk kita? Apakah nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan? Kitab Wahyu menyatakan bahwa hanya mereka yang namanya tercantum dalam Kitab Kehidupan yang dapat masuk surga. Apakah yang sudah kita lakukan untuk Tuhan? Apakah kita suam-suam kuku dalam iman?

Puji Tuhan, melalui pengalaman ini kami semua belajar bagaimana berdoa, berdiri teguh, dan taat. Ini akan menjadi kesaksian dan syukur kami seumur hidup. Saya berterima kasih kepada semua orang karena dampingan dan ketenteraman yang mereka berikan. Kiranya Tuhan memberkati dan mengingat kasih kalian. Kiranya kita terus mengangkat tangan kita untuk mendoakan pemberitaan Injil. Mari kita berdoa bagi segala pekerjaan kudus gereja, bagi semua saudara-saudari seiman yang membutuhkan, dan bagi kehidupan rohani kita masing-masing. Kita tidak boleh suam-suam kuku, agar kita tidak ditinggalkan oleh Allah (Why. 3:16).

Kiranya segala kemuliaan bagi Tuhan kita di surga. Haleluya, Amin.