SUARA PENGALAMAN IMAN – NASIHAT UNTUK PELAJAR DI LUAR NEGERI

Allah adalah perlindungan dan kekuatan kita, pertolongan yang nyata dalam kesulitan

Sdr. Hayashi Susumu (Lin Jin)

LANGKAH MANUSIA BERASAL DARI TUHAN

Haleluya, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Pertama kali saya berpetualang ke luar negeri adalah pada tahun 1996. Tanggal 9 November 1996 saya tiba di Okinawa, Jepang, sebagai pelajar asing. Okinawa berada di bagian paling selatan Jepang; banyak orang pergi ke sana berimpian untuk menjadi orang kaya. Namun saya merasa seperti orang yang bodoh karena kendala bahasa. Dan lagi pada waktu itu, saya masih jemaat yang baru percaya, yang baru dibaptis pada bulan Juli 1996. Sebelum saya tiba, saya baru mengetahui dari GYS Tokyo bahwa belum ada GYS di Okinawa. Jadi yang dapat saya lakukan hanyalah berdoa diam-diam memohon pertolongan Allah. Puji Tuhan, melalui GYS Tokyo saya mengetahui ada satu keluarga jemaat di Okinawa. Sdr. Zhu Hua awalnya berasal dari Hiroshima dan kemudian pindah ke Taiwan. Pada waktu itu, ia dan keluarganya tidak berencana kembali ke Jepang. Namun sepuluh bulan sebelum saya tiba di Okinawa, mereka memutuskan untuk kembali ke Okinawa, kota Jepang terdekat dari Taiwan, daripada ke Hiroshima. Puji Tuhan, oleh tuntunan dan pengaturan-Nya, saya dapat mengikuti kebaktian keluarga mereka dan membangun dasar iman yang baik melalui penyegaran rohani setiap hari. Dari sini saya belajar bahwa kalau kita mempunyai hati yang mau mendekat kepada Allah dan dengan tekun mencari-Nya, Ia akan menyertai kita.

Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Tokyo untuk melanjutkan studi (keluarga Sdr. Zhu Hua dan Sdr. Li Xi-Ching juga pindah ke Tokyo). Saya gembira akhirnya saya dapat mengikuti kebaktian Sabat di gereja! Namun hidup di Tokyo tidaklah mudah karena saya sekarang menghadapi biaya pendidikan dan biaya hidup yang tinggi. Dan lagi, saya tidak yakin apakah saya dapat menyokong diri sendiri atau tidak. Teman-teman memberitahukan saya bahwa sebagian besar pekerjaan mensyaratkan orang untuk bekerja pada hari Sabtu. Saya berpikir pada diri sendiri, “Sebagai orang Kristen, haruskah saya mengorbankan hari Sabat demi mencari nafkah?”

Pada waktu itulah beberapa saudara-saudara tua dari GYS Tokyo menganjurkan agar saya mengandalkan Allah dan mereka memberikan banyak kesaksian. Misalnya, mereka memberitahukan pewawancara pekerjaan sedari awal bahwa mereka adalah orang Kristen dan mereka harus beribadah di gereja pada hari Sabtu, dan sebagainya. Mereka mengingatkan saya bahwa Allah yang kita yakini adalah Allah yang hidup. Beberapa waktu kemudian sekolah tempat saya belajar memberikan pertolongan dengan merujuk saya ke sebuah pekerjaan pengiriman surat kabar. Dalam wawancara pekerjaan, saya memberitahukan pewawancara bahwa saya adalah orang Kristen dan saya harus beribadah kepada Allah di hari Sabat. Puji Tuhan, ia mengizinkan saya untuk tidak bekerja pada hari Sabtu! Jadi saya sungguh-sungguh mengalami apa yang dinyatakan dalam Alkitab:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:33)

Allah akan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari kita.

ALLAH MENDAMPINGI KITA DALAM KESULITAN

Suatu pagi-pagi sekali, saya sedang mengendarai sepeda motor kecil untuk mengirim surat kabar seperti biasa. Pada hari itu turun hujan gerimis. Ketika saya tiba pada sebuah persimpangan, lampu lalu lintas berubah dari hijau ke kuning, jadi saya berusaha bergegas menyeberang. Tiba-tiba sebuah taksi dari arah berlawanan membelok ke kanan di persimpangan dan bertabrakan dengan saya, sehingga saya terlempar ke udara. Begitu saya tertabrak saya berseru, “Haleluya!” Puji Tuhan atas perlindungan dan kemurahan-Nya. Setelah itu saya dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Setelah diperiksa dokter, saya hanya mengalami luka-luka ringan pada persendian kaki saya yang tertabrak taksi. Selain itu saya tidak mengalami luka-luka lain, lecet pun tidak! Ketika saya bersaksi pada hari Sabtu pekan itu, saudara-saudari seiman terheran-heran mendengar saya mengalami kecelakaan. Dari peristiwa itu saya sungguh-sungguh mengalami bahwa Allah adalah perlindungan kita dan pertolongan nyata dalam kesulitan.

ALLAH MENOLONG SAYA MENDAPATKAN VISA BEKERJA

Karena kecelakaan itu, saya berhenti dari pekerjaan pengiriman surat kabar dan melamar pekerjaan di sebuah toko hamburger. Seperti wawancara pekerjaan sebelumnya, saya menjelaskan kepada pewawancara bahwa saya adalah orang Kristen, dan sekali lagi manajer mengizinkan saya untuk tidak bekerja pada hari Sabtu dan memegang hari Sabat.

Dalam sekejap mata saya akan segera lulus dari sekolah dan visa bekerja saya akan habis. Saya kebingungan, “Apa yang harus saya lakukan?” Melanjutkan pendidikan ke universitas di Jepang terlalu mahal, sementara saya tidak mungkin terus bekerja tanpa visa bekerja. Karena itu saya bertanya pada manajer toko apakah perusahaan dapat membantu saya mengajukan visa bekerja. Namun atasan saya menjawab bahwa ia sudah bertanya pada Biro Imigrasi; mereka bilang jika perusahaan tidak melakukan usaha di luar negeri seperti di Tiongkok atau Taiwan, akan sangat sulit bagi mereka untuk membantu saya mendapatkan visa bekerja. Karena tidak punya pilihan lain, saya memohon agar atasan saya tetap mengirimkan data saya ke Biro Imigrasi dan mengajukan permohonan visa. Sementara itu saya terus berdoa kepada Allah dalam hati sepanjang proses itu. Puji Tuhan, Ia menjawab doa-doa saya; setelah tiga bulan visa bekerja saya disetujui.

Namun segera setelah itu terjadi pengujian besar pada diri saya. Suatu hari atasan memanggil saya dan berkata, “Sekarang kamu adalah karyawan biasa di perusahaan kami, tetapi kamu masih tidak bekerja pada hari Sabtu sementara karyawan-karyawan lain tidak. Apakah kamu mati kalau tidak memelihara iman? Tanpa pekerjaan, kamu tidak bisa hidup.” Pada waktu itu, saya bersyukur kepada Tuhan atas iman yang Ia berikan untuk menjawab, “Sejak awal bapak tahu saya adalah orang Kristen yang harus ke gereja setiap hari Sabtu. Kalau saya kehilangan iman demi pekerjaan, maka pekerjaan saya menjadi sia-sia. Apabila bapak tidak dapat membiarkan keadaan ini di depan karyawan-karyawan lain, maka izinkan saya untuk mengundurkan diri.” Puji Tuhan, atasan saya akhirnya mengalah dan setuju untuk terus mengizinkan saya libur pada hari Sabtu selama manajer toko juga setuju.

Apabila saya mengenang kembali peristiwa itu, saya menyadari bahwa kalau bukan Allah yang menggerakkan hati atasan dan manajer toko, tidak mungkin mereka terus mempekerjakan saya, karena saya adalah orang asing dan tidak fasih berbicara bahasa Jepang. Mereka dapat saja mempekerjakan orang Jepang. Semua berkat-berkat ini hanya dapat terjadi karena pertolongan Allah. Saya tidak dapat sepenuhnya menjelaskan segala berkat yang saya terima dari Allah dalam halaman-halaman buku yang terbatas. Saya berharap agar semua saudara-saudari seiman dapat berdiri teguh di atas iman yang benar dan hidup ini. Marilah kita tidak bermalas-malasan dalam iman kita yang berharga semata karena pekerjaan duniawi. Kiranya kita bersama-sama saling membangun melalui kesaksian ini, dan kiranya segala kemuliaan bagi Bapa kita di surga. Amin!