MENGALAHKAN SERANGAN SI JAHAT MELALUI DOA PENUH KASIH

Sdr. Shimizu Hideo – Gereja Tokyo, Jepang

Haleluya! Di dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi.

PRAKATA

Saya lahir di Nirasaki, Yamanashi. Tahun ini saya akan menginjak umur 60 tahun dan kalau saya mempunyai kesehatan lebih baik saya akan pensiun dari pekerjaan saya dengan lancar. Tetapi sebaliknya, hidup saya menjadi perjalanan yang keras dengan berbagai pergolakan besar.

Pada bulan Oktober tahun 1999, ketika saya berumur 49 tahun, saya merasakan sakit di dada yang akut; sebegitu sakitnya sehingga saya tidak dapat berjalan. Saya digegaskan ke rumah sakit dengan ambulans dan langsung menjalani operasi. Setelah operasi, saya diberitahukan bahwa saya mengidap kanker usus.

Kanker yang saya idap adalah jenis yang jarang ditemukan – hanya ada satu dari dua kasus per 200.000 orang di Jepang; dan belum ada pengobatan yang efektif untuk kanker ini. Dokter saya berkata, “Sayangnya, kanker Anda sudah mencapai stadium lanjutan; Anda harus melakukan apa yang Anda senangi selagi Anda bisa!” Saya nyaris tak percaya dengan apa yang saya dengar.

Pada waktu itu saya adalah seorang ateis yang tidak mempercayai Tuhan. Setelah operasi, rasa sakit yang saya derita naik turun; hari-hari saya kadang senang dan kadang sedih. Setahun setelah operasi, pada waktu pemeriksaan rutin saya diberitahukan bahwa kanker sudah menyebar ke hati. Jadi saya memasuki babak baru dalam peperangan saya melawan kanker.

PENDERITAAN MEMBAWA SUKACITA BESAR

Rumah sakit pertama tidak lagi dapat merawat kanker yang sudah menyebar, jadi dokter di sana merujuk saya ke rumah sakit khusus kanker. Saat itu saya adalah orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan, jadi saya tenggelam dalam rasa takut dan cemas ketika saya pergi ke rumah sakit yang baru. Metastasis – penyebaran kanker adalah kata yang begitu berat, sehingga masa depan saya tampak suram. Namun pada masa itulah Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya yang baik dan penuh belas kasihan kepada saya. Pada waktu itu, saya tidak dapat melakukan apa-apa, tetapi melalui penderitaan itu, saya bertemu dengan teman terpenting dalam hidup – istri saya. Saya sungguh-sungguh bersyukur atas kemurahan Tuhan. Namun datangnya istri saya ke dalam hidup saya juga menunjukkan bahwa pencobaan besar sedang menantikan kami.

Hasil pemeriksaan di rumah sakit khusus kanker itu menunjukkan kabar buruk. Dokter berkata, “Sayangnya, saat ini tidak ada pengobatan yang dapat mengobati kanker Anda dengan efektif. Seperti yang Anda ketahui, menggunakan terlalu banyak obat hanya akan menambah rasa sakit dari efek samping tanpa mencapai banyak hasil. Karena itu, kami tidak dapat mengobati Anda.” Seakan-akan dokter baru saja menetapkan hukuman mati kepada saya; perkataannya terus terngiang dalam kepala saya. Perkataan itu adalah sebuah vonis yang tak tertanggungkan bagi seorang seperti saya yang tidak mengenal Allah.

Walaupun saya menghadapi masa hidup-mati yang sulit, Tuhan Yesus tidak melupakan saya; Ia masih mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan saya. Merasa tidak berdaya seperti saya, dokter berkata, “Untuk amannya saja, saya akan mengajukan kasus Anda ke bagian bedah.” Ia lalu meminta pertolongan dokter lain. Hasilnya sungguh di luar dugaan saya – karena dokter bedah kedua berkata, “Ini sulit, tetapi ayo dicoba!” Ia mau melakukan operasi pada diri saya. Rasanya seperti menyerempet maut – setitik cahaya harapan dalam terowongan yang dalam dan gelap. Jadi, cahaya pengharapan bersinar pada diri saya dalam keputusasaan, dan saya berhasil masuk ke ruang operasi.

Ketika kami mengetahui tentang kanker ini, istri saya masih tinggal di rumah, jauh dari rumah sakit. Untuk bisa mengurus saya pasca-operasi, ia datang ke rumah sakit dengan memakan waktu perjalanan lima jam setiap hari. Karena kesetiaan dan perhatiannya, saya cepat pulih dan kembali bekerja setelah beberapa bulan.

Melalui kenyataan pahit penyebaran kanker ke hati saya, bahkan seorang ateis sekeras kepala saya pun dapat dipimpin oleh Juruselamat. Dan lagi, Ia mengaturkan agar istri saya, rekan hidup saya yang paling penting, untuk berjalan mendampingi saya sepanjang perjalanan yang sangat sulit ini.

Melalui jalan ini, oleh karena anugerah Tuhan Yesus, saya mengalahkan keadaan kesehatan yang tidak dapat diobati oleh para dokter. Setelah itu, kanker itu tidak melambat, tetapi terus menggerus tubuh saya. Sedikit demi sedikit, kanker menyebar dari usus kecil ke hati, lalu ke tulang belakang dan sendi bahu sebelah kanan. Pada bulan Agustus 2009, saya bahkan sudah tidak bisa berjalan dan hanya berbaring di tempat tidur. Saya telah menjalani tiga belas operasi sejak November 1999. Tambah lagi, sendi buatan disematkan ke lengan kanan saya, yang hanya memiliki separuh fungsi lengan kiri saya. Tubuh saya terkepung; pikiran saya dalam penderitaan besar. Nyaris depresi, saya memutuskan untuk dibaptis pada waktu KKR di bulan Agustus 2008. Saya adalah seorang ateis – orang yang menyangkal keberadaan Allah – tetapi Allah bersabar dan menolong saya, menyelamatkan saya dari sakit dan penderitaan. Sebelumnya saya sudah dan terus beribadah di gereja bersama istri saya, dan melihat sifat-sifat baik saudara-saudari seiman. Namun saya masih belum memahami keberadaan Allah; dan tidak mau dibaptis. Oleh karena penderitaan besar ini, saya dan istri mampu melangkah sekali lagi dalam perjalanan iman. Keberadaan istri saya di sisi saya sangatlah penting dalam pencarian iman saya untuk menjadi orang percaya. Ia sering menasihati saya, “Iman tidak boleh dipaksakan kepadamu oleh orang lain, tetapi harus bergantung pada pengertianmu sendiri.” Dulu saya kesulitan mengatasi pandangan “ateisme” dalam pikiran saya. Tetapi melalui penderitaan jasmani dan masalah kesehatan mental karena efek samping pasca-operasi, akhirnya saya memahami makna doa dan doa syafaat; saya juga dapat menerima Alkitab. Oleh karena kesadaran ini, akhirnya saya dibaptis tanggal 14 Agustus 2008, dan mengambil langkah pertama iman bersama istri saya.

Pada tanggal 12 Desember tahun itu, oleh tuntunan Allah, saya menerima Roh Kudus. Saat itu saya berada di rumah mengikuti kebaktian online di rumah. Tiba-tiba saya mulai berbicara dalam bahasa roh dengan lancar. Saya berkeringat begitu rupa, dan harus mengganti baju berulang kali. Sungguh, Tuhan mendengar permohonan istri dan saya; dan menganugerahkan upah ini pada waktu-Nya. Sekali lagi, saya bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya!

BERPERANG DENGAN SI JAHAT DAN MENANG

  • Ciri-Ciri Serangan

Saya kembali masuk ke rumah sakit bulan Juli 2009. Dalam penderitaan, saya sangat bersyukur atas doa-doa para pekerja kudus dan saudara-saudari seiman di Tokyo. Saya keluar rumah sakit tanggal 3 Februari 2010, dan menerima perawatan di rumah sesuai dengan keinginan saya. Tujuh bulan di rumah sakit merupakan pencobaan berat. Beruntung, saya  dapat melalui penderitaan itu dengan damai sejahtera karena kehangatan kasih saudara-saudari seiman dan perhatian istri saya, yang tidak pernah berkeluh kesah. Saya bersyukur atas anugerah dan kemurahan Tuhan Yesus dari lubuk hati saya. Walaupun saya dapat pulang ke rumah dengan bantuan saudara-saudari seiman, Iblis tidak senang melihat kami bersukacita. Tuhan Yesus penuh belas kasihan dan Allah sejati yang mendengarkan seruan umat-Nya, tetapi Iblis menyerang dari segala sisi; ia tidak ingin melepaskan jiwa saya.

Tidak sampai dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, ketika saya dirawat di rumah, saya merasakan tusukan rasa sakit yang tiba-tiba di dada; dan segera diopname kembali untuk menjalani pemeriksaan. Saya merasakan kesakitan hebat, dan terus mengerang sampai rumah sakit kesulitan merawat saya. Si jahat terus menyerang saya tanpa ampun. Ia menakut-nakuti saya dan mengancam saya siang dan malam dengan segala cara – melalui suara, warna, dan hantu-hantu yang tak tampak di malam hari – untuk menyiksa jiwa saya; dan saya merasa sangat putus asa.

Misalnya, ada suara-suara anjing, kucing, monyet, dan binatang-binatang lain keluar dari pemanas ruangan tua di kamar saya. Karena itu, saya berulang kali meminta istri saya memeriksa apakah ada binatang di kamar. Saya juga mendengar binatang berjalan-jalan di halaman pada larut malam, atau mendengar suara-suara lahapan di sudut koridor yang sunyi. Melihat keluar dari kamar di kegelapan malam juga terasa sangat menakutkan. Saya merasa seolah-olah sedang diawasi oleh sesuatu dari kegelapan di luar; rasa ngeri itu meliputi seluruh kamar dan terasa menakutkan. Saya juga berhalusinasi ada sesuatu yang berusaha membuka jendela dan memaksa masuk ke kamar.

Si jahat juga menakut-nakuti saya dengan cara-cara lain, seperti menggunakan warna-warna gelap. Saya tidak yakin apabila halusinasi berasal dari Iblis; namun warna-warna gelap itu menggerakkan rasa takut dalam diri saya. Saya merasa takut setiap kali melihat warna-warna primer yang gelap – merah, biru, dan hijau. Ketika istri saya mengenakan topi ungu, saya berteriak-teriak padanya untuk tidak mengenakan topi itu; ia memandangi saya dengan raut wajah bingung yang tidak pernah saya lupakan hingga hari ini. Dan lagi, Iblis mengadakan monster-monster yang tak tampak, dan menggunakan berbagai tipu daya untuk menjatuhkan saya ke dalam jurang ketakutan. Penampakan monster-monster itu tak dapat dijelaskan, tetapi mereka berlari-lari dengan buas dalam kepala saya dan itu menjadi lebih menakutkan bagi saya.

  • Mengapa Saya Mampu Mengalahkan si Jahat?

Iblis menggunakan segala cara untuk menjerat jiwa saya dan menyerang saya dengan rasa takut. Namun, Tuhan kita Yesus Kristus – Allah yang benar dan Esa – mengalahkan tipu daya Iblis dan menyelamatkan saya. Suatu malam, seminggu setelah masuk rumah sakit, saya tiba-tiba terbangun di tempat tidur yang sunyi. Dunia menakutkan yang menyusahkan saya telah hilang; dan digantikan dengan hati yang tenteram dan rasa kebebasan yang muncul karena dilepaskannya beban-beban saya. Saya berseru di tempat tidur, “Saya telah mengalahkan Iblis!” Ketika sukacita meluap pada diri saya, sebuah dunia yang berbeda meliputi saya. Saya menengok ke sudut kamar dan melihat istri saya sedang tidur di sana. Saya berbisik, “Istriku, maafkan saya karena akan pergi ke tempat yang lebih tinggi sendirian!” Lalu istri saya, yang menyadari bahasa aneh yang saya ucapkan di kamar yang gelap, dengan lembut membalas, “Kamu masih ada di dunia, tidak apa-apa!”

Tuhan Yesus menuntun saya untuk memahami bahwa Allah benar yang murah hati mendengarkan seruan umat-Nya kepada Juruselamat yang Esa, dan menyelamatkan mereka dari segala kesulitan. Beberapa hari sebelumnya, dokter bahkan mengatakan pada istri saya, “Biarkan dia melakukan apa yang ia inginkan, selagi masih ada kesempatan.” Namun Allah memelihara saya; esoknya Iblis dikalahkan, dan dokter memandang saya dengan tersenyum seakan sudah lupa dengan kata-katanya sendiri.

Tanggal 8 Maret 2010, saya pulang dan kembali dirawat di rumah bersama istri saya. Saya mengharapkan untuk bisa memegang hari Sabat di gereja, di mana saudara-saudari seiman menantikan saya. Kalau Tuhan menghendaki, saya ingin memberitahukan tentang pengalaman saya yang penuh berkat dan sukacita.

Ini adalah kesaksian saya. Saya yakin saya dapat mengalahkan tipu daya Iblis karena doa-doa saudara-saudari seiman dan para pekerja kudus yang penuh kasih di seluruh dunia, dan juga para penatua, diaken, dan tiga gereja di Tokyo yang mendoakan, bahkan berpuasa dengan iman tak henti-hentinya demi iman dan kesehatan saya dan istri saya. Kami sungguh sangat berterima kasih!

Pada tanggal 14 Agustus 2010, saya akan percaya kepada Tuhan selama dua tahun (Red.: Namun sdr. Shimizu meninggal pada tanggal 29 Juli 2010). Sekarang saya memusatkan perhatian untuk pulih dan berharap untuk sehat kembali. Begitu juga, saya pun membaca Alkitab, berdoa, dan dengan tekun mengejar pertumbuhan iman saya. Kalau Tuhan menghendaki, saya ingin menggunakan dengan baik pengalaman saya berperang dengan si jahat untuk memberitakan injil. Kiranya segala kemuliaan, kuasa, dan puji syukur bagi nama Tuhan yang kudus; kiranya kasih Tuhan mendorong kita! Haleluya, Amin!

Catatan: Sdr. Shimizu Hideo dipanggil oleh Tuhan pada tanggal 29 Juli 2010, dan telah beristirahat dari jerih lelahnya di dunia. Kesaksian ini dituliskannya sendiri dengan tangan selama dua minggu di tempat tidurnya ketika ia bergumul dengan kesakitan pada bulan Maret 2010. Sepanjang waktu itu, dokter berulang kali meminta istrinya, Sdri. Harumi, untuk mempersiapkan hal yang terburuk. Gereja-gereja di Tokyo mengadakan KKR siswa dari tanggal 24-29 Juli. Jadi, di waktu tersibuk bagi gereja dan pekerja-pekerja, Sdri. Harumi berdoa kepada Tuhan dengan iman untuk memperpanjang umur suaminya, agar ia dipanggil pulang ke rumah surgawi setelah seluruh pekerjaan kudus di gereja selesai. Sungguh, doanya dijawab – KKR ditutup dengan lancar dan rapat majelis gereja selesai. Namun sebelum semua anggota majelis mencapai rumahnya, Sdr. Shimizu sudah beristirahat di pelukan Tuhan.