MENCARI ROH KUDUS, MENEMUKAN KEBENARAN

Sdr. Ryan Wong – Gereja Vancouver, Kanada

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Perjalanan saya mencari kebenaran merupakan berkat sejati dari Allah. Ketika saya mengenang kembali dan sungguh-sungguh merenungkan, barulah saya menyadari dan memahami berkat-berkat-Nya. Sebagai anak yang bertumbuh dewasa, keluarga saya menjalani hidup yang biasa. Orang tua saya bekerja di hari-hari kerja, dan kami memiliki waktu keluarga bersama-sama di akhir pekan dan kami beribadah pada hari Minggu. Secara rutin saya mengikuti Sekolah Minggu di tempat saya beribadah saat itu. Secara garis besar, hidup saya adalah hidup yang biasa sebagai anak dan saya tidak memiliki banyak kekuatiran.

Lalu pada umur sepuluh tahun, hidup saya berubah karena beberapa hal. Perubahan besar yang terjadi adalah pada keluarga saya. Orang tua saya bercerai dan saya harus menyesuaikan diri dengan jalan hidup yang baru. Bersamaan dengan perubahan ini, ternyata memberikan pengaruh besar terhadap tahun-tahun masa remaja dan kehidupan rohani saya; saya tidak lagi beribadah seperti biasa setelah orang tua saya bercerai. Merekalah yang setiap hari Minggu mengantarkan saya. Sepanjang masa-masa remaja, saya percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi saya bukanlah orang Kristen yang beriman. Ketika saya bertambah dewasa, saya memegang keyakinan bahwa selama saya bisa tidur dengan tenang setiap malam dan memiliki hati yang baik, saya tidak memerlukan kuasa yang lebih tinggi untuk memohon tuntunan, kemurahan, atau pengampunan. Saya melanjutkan hidup saya dengan berpikir bahwa batin saya merasa puas.

Pertemuan pertama saya dengan Gereja Yesus Sejati (GYS) terasa biasa-biasa saja. Teman lama saya, Sdr. Anson, senantiasa memberitakan injil kepada saya dengan lembut. Ia sering mengajak saya menghadiri Kebaktian Perkabaran Injil (KPI); dan ia memberitahukan saya bahwa ia akan ikut bernyanyi di paduan suara. Karena ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya menghormati keyakinannya, saya mengikuti KPI itu untuk menyatakan dukungan saya. Dalam beberapa kunjungan pertama saya ke KPI, saya melihat beberapa perbedaan dengan gereja saya yang terdahulu. Yang pertama dan yang paling nyata, ketika tiba waktunya untuk berdoa, ruangan ibadah dipenuhi dengan suara doa yang keras dan tidak saya mengerti. Sdr. Anson dengan baik menjelaskan kepada saya bahwa GYS memiliki Roh Kudus, dan menunjukkan ayat di Alkitab. Di Kisah Para Rasul 2:1-4 tertulis:

 

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”

 

Sdr. Anson mengajak saya untuk ikut berdoa, tetapi saya masih berusaha memahami mengapa orang-orang di sekitar saya berdoa dalam bahasa roh. Saya memilih untuk tidak ikut karena saya tidak tahu harus mulai dari mana dan berpikir bahwa saya tidak akan dapat berdoa dalam bahasa roh. Saya hanya duduk di sana selama 10 menit atau lebih; mengamati dan mendengarkan suara-suara doa dan tidak berusaha berdoa memohon Roh Kudus.

Beberapa tahun kemudian, Sdr. Anson dan saya pergi ke California untuk berlibur. Dalam liburan itu, saya mengikuti satu kebaktian bersama Sdr. Anson. Pada akhir kebaktian, saya diajak untuk ikut berdoa memohon Roh Kudus, tetapi sekali lagi saya tidak merasa memerlukan Roh Kudus. Pertemuan-pertemuan pertama saya dengan GYS membingungkan karena saya tidak mengerti mengapa saya harus menerima Roh Kudus, bahkan Allah, dalam hidup saya.

Baru pada waktu kira-kira dua tahun lalu, setelah berdiskusi dengan seorang teman lain dari GYS saya menanyakan diri sendiri apakah ada hal lain dalam hidup daripada sekadar menjadi orang yang baik. Atau apakah bisa tidur dengan tenang di malam hari sudah cukup? Saya tidak tahu apakah tujuan hidup saya. Semakin saya memikirkannya, semakin saya mempertanyakan integritas sistem keyakinan saya sendiri. Apakah saya benar-benar membutuhkan Allah dalam hidup saya? Setelah mendiskusikan keyakinan saya dan integritas moral, barulah saya mengikuti persekutuan yang dilakukan GYS sembari minum teh. Saya memutuskan untuk mengambil kesempatan mengalami Allah sendiri dan mencari kebenaran yang lebih besar tentang dunia yang kita diami hari ini. Saya mengikuti persekutuan itu di lantai dasar gereja; setelah itu, kami naik ke aula di atas untuk berdoa. Saya merasa ragu untuk ikut ke atas dan berdoa, tetapi kali ini saya ingin mengalami Allah. Saya ingin memahami apakah yang dapat dilakukan Roh Kudus bagi saya, dan seperti apakah rasanya apabila saya menerima Roh Kudus.

 

Di Yohanes 7:37-39 dinyatakan:

 

“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”

 

Saya mulai berdoa di aula; pada awalnya saya tidak tahu apa yang akan saya dapatkan. Saya berseru, “Haleluya!” berulang kali, tetapi tidak terjadi apa-apa. Saya tidak merasakan apa pun, dan saya tidak mulai berbahasa roh. Saya bahkan mengintip untuk melihat apakah yang sedang terjadi di sekeliling saya. Hati saya tidak siap memohon Roh Kudus. Minggu berikutnya, saya mengikuti kebaktian Jumat malam. Saya memberitahukan diri sendiri bahwa saya harus membiarkan Allah mengisi hati saya dan apabila Ia menghendaki, mungkin saya akan menerima Roh Kudus. Doa saya lebih terfokus dan saya berdoa dengan tekun dari lubuk hati saya. Kali ini saya merasakan hubungan rohani, tetapi mungkin pengalaman paling tegas adalah ketika saya merasakan kehangatan besar dalam tubuh saya yang ingin mengalir keluar. Setelah doa itu, saya sadar bahwa ada sesuatu yang istimewa sedang bekerja dalam diri saya.

Ada kebaktian KPI selama sepekan pada minggu berikutnya, dan saya mengikuti semua empat malam kebaktian itu. Tetapi pada malam yang pertama, 13 Agustus 2008, saya berdoa sungguh-sungguh memohon kepada Allah untuk memberikan Roh Kudus. Dalam doa itu, saya merasakan kehangatan besar dalam diri saya. Rasanya seperti deras aliran air hangat tercurah dalam tubuh saya dan memenuhi setiap bagian tubuh. Saya baru menyadari ini terjadi setelah doa ditutup dan saya duduk. Pengumuman diberitakan dan tiba-tiba nama saya disebut sebagai salah satu yang telah menerima Roh Kudus. Saya bahkan tidak menyadari bahwa memang benar-benar Roh Kudus yang telah datang kepada diri saya. Saya hanya mengetahui bahwa saya merasakan sukacita dan kehangatan dalam diri saya masih membekas. Sejak itu saya tahu bahwa saya benar-benar telah mengalami sebagian dari Allah yang sangat berharga; saya merasa bersyukur Allah memberikan Roh Kudus kepada saya. Saya memberitahukan diri sendiri bahwa saya harus mensyukuri Roh Kudus dan mengizinkan-Nya bekerja dalam diri saya.

Setahun kemudian, saya terus berdoa dengan tekun memohon pimpinan Allah untuk mencari kebenaran. Roh kebenaran sudah bersama saya, tetapi sekarang saya memusatkan perhatian untuk memahami rencana keselamatan-Nya bagi kita secara menyeluruh. Semakin saya mempelajari kebenaran, semakin saya merasakan keinginan untuk dibaptis ke dalam Tuhan Yesus. Saya menyadari bahwa saya harus mengerti tentang rencana-Nya dan agar saya diikutsertakan dalam rencana keselamatan-Nya. Jadi pada tanggal 23 Agustus 2009 saya dibaptis di dalam nama-Nya.

Pengalaman baptisan saya sangat membangun kerendahan hati saya. Karena Allah mengampuni segala dosa saya, dan menunjukkan kerendahan hati-Nya melalui sakramen basuh kaki, saya menyadari bahwa saya telah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya dua tahun lalu. Sekarang saya dapat berkata bahwa tidur setiap malam dengan tenang dan memiliki hati yang baik belumlah cukup. Untuk memperoleh hidup kekal, saya harus mengalami rencana keselamatan Allah.

Hari ini, melihat kembali perjalanan saya, saya sungguh dapat menghitung berkat-berkat saya. Mungkin yang paling saya syukuri adalah Roh Kudus dan tuntunan yang Ia berikan. Saya menyadari kuasa doa dan menerima kehendak Allah. Di Markus 11:24 dinyatakan:

 

“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

 

Pekerjaan saya sebelumnya menuntut agar saya bekerja dari hari Selasa sampai Sabtu, yang berarti saya tidak dapat memegang hari Sabat. Saya menyadari bahwa memegang hari Sabat sangatlah penting, jadi saya berdoa memohon pekerjaan yang baru agar saya dapat memegang hari Sabat setiap pekan. Saya mencari pekerjaan baru baik di dalam perusahaan tempat saya bekerja dan juga di luar dengan perusahaan-perusahaan lain. Oleh karena anugerah Allah, setelah berdoa sekitar satu setengah tahun, saya mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan yang sama. Namun sekarang saya dapat memegang hari Sabat setiap pekan. Sungguh, menerima tawaran pekerjaan dari dalam perusahaan adalah berkat yang besar, karena saya dapat menyimpan semua tahun-tahun pengalaman pekerjaan saya dan tunjangan-tunjangannya. Dan lagi pekerjaan baru itu juga berlaku sebagai kenaikan jabatan. Ini adalah salah satu dari banyak berkat yang saya kenang saat saya merenungkan kembali perjalanan iman saya. Saya terus memuaskan dahaga rohani saya dengan firman-Nya melalui berdoa dan membaca Alkitab.

Kiranya segala kemuliaan bagi Allah Bapa kita di surga! Amin!