PENGALAMAN DI MASA SAKIT

Kesempatan Saya Mengenal Tuhan

Sdri. Kawanobe Shotei – Gereja Chiba, Jepang

            Haleluya! Di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus saya bersaksi. Nama saya Kawanobe Shotei. Saat ini saya mengikuti ibadah di Gereja Yesus Sejati (GYS) Chiba, Jepang.

Ketika saya masih muda, ada sebuah gereja dari denominasi Kristen lain di dekat rumah saya. Di saat Hari Raya Natal, orang-orang membagi-bagikan biskuit dan permen kepada anak-anak sebagai pemberian di luar pintu gerbang. Jadi, saya mempunyai kesan yang baik pada Kekristenan sejak kecil. Namun, keluarga saya menyembah berhala, jadi saya kira saya tidak akan mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan Kekristenan dalam hidup saya. Saya tidak menyangka apabila empat puluh tahun kemudian, saya memperoleh kesempatan untuk datang mengenal Yesus Kristus.

Dua tahun yang lalu, ketika saya berumur 49 tahun, saya merasa kurang sehat sejak awal tahun. Saya mengira tubuh saya mungkin mengalami masa menopause, jadi saya tidak banyak ambil pusing dengan gangguan kesehatan yang saya alami. Namun di awal bulan April, saya mulai merasakan demam tinggi setiap malam hari. Keadaan ini berlangsung selama empat hingga lima hari. Suatu hari, di tengah malam saya tiba-tiba merasa lemah dan terus berkeringat. Saya segera memanggil kendaraan ambulans. Di Unit Gawat Darurat, saya merasa sangat sakit di abdomen yang muncul tiba-tiba, jadi dokter bertanya kepada saya apakah yang terjadi. Setelah mendapatkan dua dosis infus, dokter mencurigai apabila saya mengalami gastroenteritis akut. Tanpa memeriksa lebih lanjut, saya diperbolehkan pulang.

Karena keadaan saya tidak membaik setelah empat hingga lima hari, saya mulai curiga bahwa saya mungkin tidak mengalami gastroenteritis, jadi saya pergi ke klinik kandungan terdekat. Hasil diagnosanya keluar setelah satu minggu. Kata dokter, “Ovarium biasanya berdiameter dua sentimeter, tetapi ukuran ovarium Anda tujuh sentimeter, jadi kami memerlukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh.” Setelah menjalani MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan pemeriksaan darah, dokter berkata dengan yakin, “Anda mengidap kanker ovarium.” Jadi ia menganjurkan saya untuk mencari pengobatan dari sebuah rumah sakit terkenal di Jepang, di mana tersedia peralatan yang lebih lengkap.

Saya kembali ke rumah dengan hati yang berat; dan memikirkan hal ini semalaman. Pagi berikutnya saya menelpon rumah sakit untuk membuat janji pengobatan. Setelah melakukannya, seorang saudari dari GYS menelpon saya di malam hari dan bertanya, “Sudah lama berlalu sejak kita bersua. Bagaimana keadaanmu?” Setelah memberitahukan keadaan saya, tanggal 26 April 2013, hari Jumat, ia menemani saya ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Saya harus menunggu selama nyaris tiga atau empat jam di sana; saya merasa sangat tertekan. Dua atau tiga menit sebelum saya masuk ke ruang periksa, saudari itu memberikan secarik pesan kecil kepada saya, “Cobalah berdoa.” Di ruang periksa, saya berbaring dengan membisu dan berdoa, “Di dalam nama Tuhan Yesus saya berdoa, Haleluya, puji Tuhan Yesus, Haleluya, puji Tuhan Yesus…” Setelah sepuluh menit lebih, pemeriksaan selesai. Saya meninggalkan ruangan itu dan rasa tertekan, takut, dan kuatir hilang; sebaliknya, saya merasakan rasa aman dan lega.

Sejak hari itu, saya berdoa dan membaca Alkitab, setiap hari – perasaan saya perlahan-lahan menjadi lebih tenang dan kegelisahan saya terus berkurang. Ketika dokter melihat hasil MRI tanggal 30 April, ia terkejut dan berkata, “Bagaimana caranya tumor ini mengecil?” Karena merasa hasil ini tidak biasa, ia melakukan pemeriksaan lain sore itu. Ketika hasilnya keluar keesokan harinya, ia menemukan bahwa tumor itu sudah hilang sama sekali. Merasa hal ini sangat aneh, dokter itu kuatir apabila tumor itu pecah, dan keadaannya akan menjadi sangat serius apabila kanker menyebar ke organ-organ lain. Lalu ia menganjurkan agar saya segera diopname dan siap-siap menjalani operasi! Tanggal 3 Mei, hari Sabtu, saya mengikuti KKR di Gereja Tokyo, dan saya datang kepada Allah memohon kemurahan dan pertolongan-Nya. Dalam doa, Allah menghibur saya; saya merasa tenang dan bebas dari kekuatiran. Puji Tuhan, operasi dilangsungkan tanggal 8 Mei, dan hasilnya menunjukkan bahwa tumor itu tidak bersifat ganas maupun jinak, tapi hanyalah pembengkakan tuba fallopi. Selama masa opname, saya tidak perlu menjalani kemoterapi dan lain-lain – keadaan ini sepenuhnya di luar perkiraan saya. Bahkan lebih hebat lagi, sayatan sepanjang 20 cm dalam pembedahan tidak menyebabkan saya kesakitan. Seakan-akan saya tidak menjalani operasi sama sekali.

Puji Tuhan atas kemurahan dan pertolongan-Nya, dan atas damai sejahtera yang Ia berikan. Puji Tuhan. Melalui penyakit ini, saya memperoleh kesempatan untuk mengenal Tuhan Yesus Kristus. Lebih berharga lagi, melalui Alkitab saya dapat belajar tentang firman Allah, dan menerima ketenangan rohani dan pengharapan!

Alkitab berkata, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” (Mzm. 119:92)

Puji Tuhan, kiranya kasih karunia-Nya bersama-sama dengan kita semua! Amin!

Sumber: Testimony Collection 1917 – 2017 – 100 Years – A Heritage of Spirituality and Grace