HILANG DAN DITEMUKAN KEMBALI

Sdr. Loh Heng-Chew – Gereja Adam Road, Singapura

Catatan editor: Kesaksian Sdr. Loh menunjukkan bagaimana Tuhan menantikannya dengan sabar untuk menerima Kristus, seperti yang dinyatakan dalam Alkitab:

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” (Yoh. 15:16)

Haleluya, di dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi. Oleh anugerah Allah, saya dibaptis pada bulan Mei 2012, di usia 82 tahun. Sungguh luar biasa, Tuhan telah menunggu saya selama 40 tahun sebelum saya menjadi anak-Nya.

PERTEMUAN PERTAMA

Di tahun 1972, saya bekerja di bagian percetakan sebuah surat kabar lokal. Di waktu itu, saya adalah salah satu pemain tim tenis meja perusahaan saya, dan kami sering pergi ke Malaysia Timur untuk bertanding.

Manajer saya waktu itu, Elijah Yeh Guan-Wei, adalah jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS). Karena ia juga menjadi ketua tim tenis meja, kami pergi bersama-sama untuk bertanding. Ketika kami pergi bertanding, saya sering mendengar Elijah Yen bertanya kepada orang-orang setempat apakah ada GYS di tempat itu. Hal itu berkesan bagi saya, tetapi saya tidak pernah bertanya tentang imannya karena pada waktu itu saya tidak tertarik dengan agama.

MENYAKSIKAN KHASIAT DOA

Pada suatu kesempatan, ketika pergi melalui laut menyeberangi Laut China Selatan ke Pulau Labuan di Malaysia Timur, kapal kami dihadang badai. Saya berpikir kami pasti akan binasa di laut – apalagi ketika ombak menghantam kapal dengan keras, dan kami harus menutup semua jendela untuk mencegah air masuk ke dalam kabin. Ketika semua orang dalam keadaan panik, saya melihat ketua tim kami berlutut dan mulai berdoa dalam bahasa roh. Sesaat kemudian, saya melihat seseorang datang dan mengambil alih kemudi kapal. Secara ajaib, badai itu segera reda dan kapal meneruskan perjalanannya.

Saya ingat dengan samar-samar bahwa orang yang mengambil alih kemudi itu adalah penumpang kapal. Karena penasaran, saya bertanya kepadanya apakah yang terjadi. Ia berkata bahwa ia tidak banyak memiliki pengalaman sebagai pelaut, dan untungnya kami dapat menghindari badai; kalau tidak, kami semua sudah tenggelam.

Saya tidak dapat berhenti berpikir apakah kami akan binasa di laut, kalau ketua tim tenis meja kami tidak berdoa pada saat itu.

LEBIH DARI TIGA DASAWARSA KEMUDIAN

Sebelum percaya kepada Kristus, saya mengikuti agama tradisional. Saya mengikuti almarhum ibu saya menyembah banyak dewa-dewa dan mengikuti ritual-ritual.

Pada tahun 2009, saya mengetahui bahwa anak saya dan keluarganya mengikuti ibadah di gereja, sehingga saya bertanya gereja apakah yang mereka datangi. Saya terkejut ketika mengetahui bahwa gereja mereka adalah GYS! Hal itu membuka kenangan saya dan saya teringat peristiwa yang terjadi 40 tahun yang lalu. Anak saya lalu mengajak saya ke sebuah perjamuan penginjilan keluarga yang diadakan GYS. Saya setuju, dan kemudian saya mulai mengikuti mereka beribadah Sabat. Saya melihat bahwa di GYS banyak orang berlutut dan berdoa dalam bahasa roh. Tetapi saya tidak terheran-heran karena saya pernah melihat manajer saya berdoa dengan sikap seperti ini.

Selama tiga tahun ke depan, saya mengikuti ibadah di GYS dan berusaha memahami kebenaran keselamatan. Khotbah-khotbah membuka mata saya pada hal-hal yang sebelumnya tidak saya mengerti. Ketika mendengarkan khotbah, saya mempelajari banyak hal baru yang membantu saya dalam membangun iman. Sementara itu, karena umur saya bertambah lanjut, saya mulai memikirkan tentang kehidupan setelah kematian. Saya bahkan pergi ke perpustakaan umum untuk mencari informasi tentang perbedaan antara GYS dengan denominasi lain.

Mempelajari kebenaran di GYS mendorong saya untuk mengikuti keyakinan anak-anak dan cucu-cucu saya dan memegang iman yang sama. Namun saya tidak dibaptis sampai ketika ibu saya meninggal di usia 102 tahun. Ketika saya dirawat di rumah sakit selama tiga hari karena suatu kecelakaan setelah Tahun Baru Imlek di tahun 2012, saya tiba-tiba menyadari akan rapuhnya kehidupan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lebih serius dan saya belum dibaptis? Apakah saya akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan? Kesadaran ini menyentak dan mendorong saya bahwa saya harus dibaptis.

TEKAD SAYA

Setelah dibaptis, saya bertekad untuk datang beribadah ke gereja setiap hari Sabat untuk menyembah Allah, mendengarkan khotbah dan berdoa kepada-Nya. Melihat anak saya dan keluarganya rajin beribadah juga menjadi dorongan bagi saya untuk melakukan hal yang sama.

Mengenang kembali, saya sungguh sangat bersyukur kepada Tuhan karena saya menjadi orang Kristen selagi tubuh saya masih sehat dan pikiran saya masih cerah. Saya mengajak semua orang untuk menjawab panggilan Yesus selagi tubuh kita masih kuat, daripada menunggu sampai waktu-waktu terakhir dalam hidup kita.

“Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (2Kor. 6:2b)

Kiranya semua kemuliaan dan hormat bagi Tuhan Allah. Amin.