DIBANGUNKAN OLEH KESENGSARAAN

Sdri. Grace Xu – Gereja Calgary, Kanada

“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu… Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mzm. 119:67, 71)

 

Haleluya, di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus saya bersaksi. Saya berasal dari Gereja Chengguan di Kota Changle, Fujian, Tiongkok, tetapi saat ini saya tinggal di Calgary, Kanada. Keluarga saya masuk ke Gereja Yesus Sejati setelah nenek saya disembuhkan dari lepra. Saya merupakan jemaat generasi ketiga, dan sudah dibaptis ketika saya berumur tiga tahun.

Saat saya masih muda, keluarga saya sangat miskin. Jadi orang tua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya kami jarang berkebaktian. Saat itu juga tidak banyak kebebasan untuk beribadah dan orang-orang Kristen dianiaya. Selain itu, saat itu hari Sabtu belum dinyatakan sebagai hari libur. Saya ingat kadang-kadang kami beribadah bersama nenek saya di desa dekat rumah kami pada waktu liburan sekolah.

Walaupun saya menyadari bahwa ada Allah di luar sana, saya tidak sepenuhnya memahami kebenaran, ataupun mengalami Allah di suatu waktu tertentu. Apabila saya mengenang kembali, saya merasa malu karena saya tidak menerima pendidikan agama dari sejak kecil ataupun sungguh-sungguh mempelajari kebenaran dalam Alkitab. Walaupun demikian, saya menyadari bahwa Allah mengawasi dan melindungi saya sejak saya masih anak-anak. Namun karena kebeliaan saya, dan juga ketidaktahuan dan kekerasan kepala saya, saya tidak mau tunduk pada Allah dan menerima ajaran-Nya. Seperti Daud mengenang firman Allah dalam mazmur perenungannya:

 

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” (Mzm. 32:8-9)

 

Di permulaan tahun 1999, saya membuat rencana untuk pindah ke Suriname, Amerika Selatan. Puji Tuhan, sebelum saya meninggalkan Tiongkok ada Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Gereja Dagen, Fuzhou, dan saya dapat mengikuti keseluruhan tiga hari acara itu. Pada waktu itu, saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi, jadi saya sepenuh hati berdoa agar Allah memimpin jalan saya, agar saya dapat memuliakan nama-Nya, dan menolong saya agar tetap berjalan di jalan-Nya.

Setibanya di Suriname, saya menyadari bahwa tidak ada GYS di negara itu. Seorang teman kemudian membawa saya ke denominasi lain, di mana saya menemukan sebuah perpustakaan gereja yang besar dengan segudang pilihan buku-buku Kristen, juga kesaksian dan panduan-panduan pelajaran Alkitab. Karena saya suka membaca, saya pergi ke sana setiap hari Minggu dan meminjam banyak buku untuk dibawa pulang. Namun saya tidak terbiasa dengan kebaktian atau doa-doa mereka, dan merasa bahwa penafsiran mereka tentang Alkitab berbeda dengan pemahaman saya tentang kebenaran. Namun saya memberitahukan diri sendiri bahwa karena hanya ada satu Alkitab, Kitab yang sama dipakai oleh semua gereja – saya merasa gereja mana pun saya beribadah tidak akan membuat banyak perbedaan, selama tujuannya adalah untuk menyembah Allah. Jadi saya meneruskan beribadah di denominasi tersebut selama kira-kira tiga bulan.

Suatu ketika, gereja tersebut mengadakan suatu kegiatan dan kelihatannya seperti sebuah kebaktian penginjilan. Setelah pendeta menutup khotbahnya, ia meminta jemaat untuk mengangkat tangan jika mereka percaya kepada Yesus dan mau menerima-Nya sebagai Juruselamat – bagi mereka yang percaya di dalam hatinya dan mengakui dengan mulutnya akan diselamatkan (Ref. Rm. 10:9). Setelah kebaktian, pendeta turun dari mimbar untuk menjabat tangan jemaat-jemaat baru. Ketika ia menjabat tangan saya, saya merasakan setruman listrik, seakan-akan kekuatan saya tersedot dari tangan saya.

Hari berikutnya, mereka mengadakan Perjamuan Kudus, dan karena kenaifan saya juga ambil bagian memakan roti dan minum anggur. Karena tidak sepenuhnya sadar pada waktu itu, saya tidak ingat persisnya kejadian-kejadian berikutnya. Yang saya ingat, tidak lama setelah saya pulang, saya baru menyadari bahwa saya mulai menjadi tidak normal. Awalnya, saya kadang-kadang merasa linglung dan pusing, seakan-akan kesadaran saya sedang dikendalikan oleh sesuatu. Namun apabila saya berdoa atau menyanyikan pujian, saya mendapatkan kembali kesadaran dan kejernihan pikiran saya. Walaupun demikian, semakin lama jangka waktu kelinglungan itu semakin panjang dan perlahan-lahan berkembang menjadi tidak bisa tidur, kehilangan nafsu makan, dan depresi. Ada waktu-waktu saya tidak dapat tidur ataupun makan selama berhari-hari. Saya sering menangis setiap hari. Apabila pikiran saya jernih, saya akan mengenang masa lalu, tetapi apabila saya mengenang keluarga saya, saya menjadi sedih dan kembali menangis.

Perlahan-lahan saya kehilangan kemauan untuk pergi keluar, dan diam di dalam rumah setiap hari seperti orang yang tidak mempunyai jiwa. Setelah hidup seperti itu selama beberapa pekan, saya menjadi putus asa dan suram. Selama masa itu, saya meminta agar jemaat tempat saya beribadah untuk mendoakan saya. Ketika seorang jemaat senior menjenguk saya di rumah, ia menceritakan bahwa seorang etnis Tionghoa ditembak di wilayah tempat tinggal saya. Saya lalu memberitahukannya bahwa rumah yang saat ini saya diami dulu pernah menjadi tempat tinggal orang itu. Sejak itu tidak ada lagi jemaat gereja tempat saya beribadah waktu itu datang menjenguk saya.

Saya juga mulai mengalami halusinasi pendengaran. Kadang-kadang saya mendengar bisikan-bisikan ayat Alkitab di telinga saya atau seperti kata-kata makian yang menyebabkan saya sangat sedih. Segala gejala-gejala fisik secara medis tidak dapat dijelaskan, karena biasanya saya adalah orang yang sangat sehat. Sampai pada waktu itu saya belum memberitahukan keadaan saya kepada keluarga, karena saya tidak mau menguatirkan mereka. Saya kerap batal menelpon ibu saya sampai keadaan saya menjadi sangat serius.

Puji Tuhan, ketika akhirnya saya menelpon ibu saya untuk menjelaskan, jemaat GYS dan keluarga saya di Tiongkok mendoakan dan berpuasa bagi saya, dan saya mendapatkan kembali pikiran yang jernih. Namun apabila mereka berhenti berdoa puasa bagi saya, saya kembali kehilangan pikiran, dan siklus ini terus berlangsung berulang kali. Pada waktu itu seorang diaken GYS menganjurkan agar ibu saya mencari tahu apakah yang terjadi sebelum saya mengalami kondisi ini untuk mengetahui penyebab masalahnya. Setelah itu baru saya dapat mengakui dosa-dosa saya dan bertobat. Saat itulah saya teringat saya beribadah di gereja lain dan mengambil bagian dalam perjamuan kudus mereka. Diaken memberitahukan bahwa setelah kita dibaptis tubuh kita telah dikuduskan dan menjadi milik Tuhan Yesus Kristus. Jadi kita tidak boleh ambil bagian dalam perjamuan kudus lainnya. Ia juga menasehati saya untuk hanya beribadah di GYS. 

Setelah itu saya juga pindah keluar dari rumah yang lama. Namun beberapa hari kemudian ketika saya pergi keluar, saya tidak dapat menemukan jalan pulang ke rumah. Akibatnya, saya dibawa ke kantor polisi pada tengah malam. Saya tidak dapat memberitahukan nama dan alamat saya dengan jelas, sehingga polisi menahan saya selama dua hari. Segera setelah saya dilepaskan, suatu malam ketika saya ada di rumah saya memecahkan gelas dan berusaha bunuh diri. Setelah peristiwa itu keluarga saya memutuskan untuk membawa saya pulang ke Tiongkok sesegera mungkin.

Perjalanan pulang memakan waktu yang lama dan melelahkan karena saya harus melalui banyak transit. Memerlukan waktu sembilan jam untuk terbang dari ibukota Suriname ke Amsterdam, dan sepuluh jam penerbangan dari Amsterdam ke Hongkong, dan baru saya dapat pulang ke Fuzhou. Puji Tuhan Ia melindungi saya dan menuntun perjalanan saya. Sungguh hal yang ajaib orang yang linglung dapat menempuh perjalanan yang demikian panjang dan dapat sampai di rumah dengan selamat.

Setiba di rumah, keadaan saya masih tidak stabil. Banyak peristiwa-peristiwa menyeramkan juga terjadi pada keluarga saya. Misalnya, kaki ayah saya digigit anjing dan harus dirawat di rumah sakit. Tidak lama setelah itu saya tersesat ketika membawa keponakan kembar saya berjalan-jalan keluar. Belakangan, keluarga saya memutuskan untuk membawa saya ke rumah sakit jiwa untuk dirawat. Namun seorang diaken memberitahukan ibu saya bahwa saya kerasukan roh jahat. Jadi ia menganjurkan agar keluarga saya membawa saya pulang dan mengusir setan itu dengan doa.

Saya bersyukur banyak saudara seiman bergantian menjenguk saya di rumah dan mendoakan saya. Puji Tuhan atas kasih-Nya! Sungguh doa mengandung kuasa! Setiap hari pikiran saya menjadi semakin jernih. Perlahan-lahan nafsu makan saya juga pulih, walaupun secara jasmani saya masih lemah. Saya teringat ketika waktu liburan musim panas, seorang diaken membawa saya dan ibu saya mengunjungi beberapa gereja di Fuqing. Saya tidak ingat berapa gereja yang kami kunjungi, tetapi saya teringat bertemu dengan seorang Sdri. Xiu-Hua, saya menceritakan masa lalu saya dan mengakui dosa-dosa saya.

Kami juga mengunjungi sebuah gereja di mana diadakan KKR musim panas untuk muda-mudi mahasiswa. Banyak pemuda berkumpul untuk mendoakan saya, sementara banyak diaken dan pendeta menumpangkan tangan untuk mengusir roh jahat. Saya tidak tahu berapa lama kami berdoa, tetapi saya dengan jelas ingat bahwa suatu ketika dalam doa, saya mendapatkan kembali indera pada hidung saya, dan juga kemudian mata, telinga, tangan dan kaki seperti menjadi milik saya lagi. Rasanya seperti sebuah curahan rasa panas menjalar di sekujur tubuh saya, dan saya kembali merasa hidup. Setelah doa itu, saya sepenuhnya mendapatkan kembali kesadaran diri! Puji Tuhan Allah yang hidup atas kemurahan dan anugerah-Nya! Saya juga berterima kasih pada semua diaken, pendeta, dan saudara-saudari seiman yang berjerih lelah dan mengasihi saya dengan mendoakan saya demikian lama.

Walaupun saya mengalami penderitaan mental dan lahiriah melalui pengalaman ini, saya bersyukur kepada Allah atas belas kasihan-Nya. Setelah menjalani peperangan rohani yang tak terlupakan ini, saya mengalami kehadiran si jahat dan juga kuasa Roh Kudus. Lebih lanjut, saya menjadi yakin bahwa kebenaran yang dinyatakan GYS sesuai dengan Alkitab.

Mengenai kebenaran Perjamuan Kudus, kita menggunakan roti tidak beragi (1Kor. 5:7-8) dan sari buah anggur (Mat. 26:29). Kita tidak dapat menggunakan anggur (wine) karena sudah difermentasi (ragi). Dan hanya boleh ada satu ketul roti dan satu cawan sari buah anggur, karena gereja adalah satu tubuh dalam Kristus (1Kor. 10:16-17). Setelah dikuduskan, secara rohani roti menjadi tubuh Tuhan Yesus, dan sari buah anggur menjadi darah-Nya (Mat. 26:26-28; Yoh. 6:53). 

Banyak pengajaran lain yang menggunakan biskuit atau roti yang sudah dipotong sebelumnya dan juga anggur wine untuk perjamuan kudus. Walaupun mereka meyakini roti dan anggur melambangkan daging dan darah Tuhan, namum mereka tidak meyakini bahwa perbuatan pengudusan mempunyai arti penting, dan mereka juga tidak percaya pada sifat rohani roti dan anggur itu. 

Melalui kesengsaraan ini saya benar-benar mengalami kuasa Allah yang ajaib dan kasih-Nya yang besar. Saya juga memahami pentingnya menjaga kekudusan dan berdiri teguh di atas dasar kebenaran gereja. Sejak itu saya tidak lagi pergi ke gereja lain dan mulai berusaha mempelajari Alkitab dengan tekun. Puji Tuhan, melalui pengalaman ini saya dapat bertumbuh secara rohani. Kiranya segala kemuliaan bagi Bapa kita di surga! Haleluya, Amin!