LIMA DOGMA

Berjalan dalam Kebenaran dan Diselamatkan

Pdt. Michael CW Chan – Majelis Inggris Raya (UKGA), Inggris Raya

            Haleluya! Di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus saya bersaksi.

Baptisan tidak dapat dipisahkan dari keselamatan. Ini adalah kebenaran yang tidak dapat diragukan. Kesaksian ini adalah bukti bahwa kebenaran yang diberitakan Gereja Yesus Sejati berakar dari Alkitab, dan kebenaran yang dengan tekun kita pegang adalah sesuai dengan kehendak Allah.

Puji syukur pada Tuhan atas kemurahan dan tuntunan-Nya. Gereja Leicester di Inggris mengadakan sebuah baptisan pada tanggal 1 Mei 2016. Ada sembilan orang yang dibaptis, dan saya melakukan pembaptisan pada hari itu. Salah satu simpatisan yang beribadah di gereja selama beberapa waktu, berketetapan untuk dibaptis ke dalam gereja sejati. Ketika ia ada di Tiongkok, ia mengikuti denominasi Kristen lain. Setelah menikah di Inggris, ia mulai mencari kebenaran di Gereja Yesus Sejati, di sebuah tempat ibadah di Birmingham.

Pada hari pembaptisan, simpatisan ini adalah yang pertama mengikuti baptisan. Ia merasakan takut yang tidak dapat dijelaskan dalam dirinya, tetapi ia baru memberitahukan hal ini setelah baptisan. Waktu saya melakukan pembaptisan padanya, seluruh tubuhnya sangat kaku, jadi ia tidak dapat sepenuhnya diselamkan ke dalam air. Ketika saya menyadari hal ini, saya melakukan baptisan di dalam nama Tuhan Yesus kedua kalinya dan kali ini ia sudah sepenuhnya diselamkan. Jadi kami kembali ke gereja setelah baptisan selesai. Sakramen Basuh Kaki dan Perjamuan Kudus kemudian dilangsungkan, dan ia juga turut ambil bagian di dalamnya. Dalam doa penutup Perjamuan Kudus, ia menerima Roh Kudus. Ia dipenuhi sukacita dan bahkan menceritakan hal ini dengan saudara seiman. Ia berkata bahwa walaupun ia pernah mengikuti ibadah di denominasi lain selama beberapa tahun di Tiongkok, ia tidak pernah menerima Roh Kudus. Namun tidak lama setelah datang ke GYS, Tuhan mengaruniakan Roh Kudus kepadanya dalam waktu yang demikian singkat. Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan atas kemurahan-Nya kepada saudari ini.

Tuhan mengetahui segala sesuatu, walaupun manusia tidak. Ia berkuasa atas segala sesuatu. Setelah baptisan, seorang saudara mengamati potongan video baptisan air. Ia menemukan bahwa saudari itu belum sepenuhnya diselamkan ke dalam air ketika ia dibaptis kedua kalinya. Saudara ini segera memberitahukan gereja perihal ini, dan gereja menghubungi saudari ini untuk menyelidiki apa yang terjadi. Saat itu barulah saudari itu memberitahukan kita apa yang ia rasakan hari itu dan apa yang ia rasakan di rumah setelah dibaptis.

Pada hari baptisan itu, gereja telah mempersiapkan beberapa tenda agar orang-orang dapat berganti pakaian. Cuaca saat itu tenang dan tidak berangin. Namun terjadi suatu peristiwa aneh. Setelah saudari itu dibaptis, ia masuk ke dalam tenda untuk berganti pakaian. Setelah ia selesai berganti pakaian, tenda tiba-tiba roboh ketika ia masih berada di dalam. Ia mengira hal ini hanya kecelakaan semata dan tidak memikirkan hal ini. Setelah kembali ke gereja, ia menerima Roh Kudus di doa penutupan Perjamuan Kudus. Pada waktu ia menerima Roh Kudus, saudari itu memperoleh sebuah penglihatan. Seseorang membawanya ke depan sebuah pintu. Ia kemudian menyadari bahwa Yesus berdiri di sisi pintu yang lain. Jadi saudari itu berlutut di luar pintu, memohon agar Yesus membukakan pintu itu. Yang mengejutkan, walaupun ia telah menerima Roh Kudus, Yesus tidak membukakan pintu baginya, bahkan setelah ia berdoa bagaimana pun juga. Pada waktu itu, saudari itu bertanya-tanya mengapa Tuhan Yesus tidak membukakan pintu baginya, walaupun ia telah dibaptis dan menerima Roh Kudus. Ketika ia kembali ke rumah, ia masih dipenuhi dengan rasa takut yang tak dapat dijelaskan dan merasa bahwa ia sedang diganggu oleh Iblis. Ia teringat bahwa pendeta yang membaptis dikelilingi oleh riak-riak dalam air ketika saudari itu hendak diselamkan ke dalamnya. Air itu berwarna hitam. Tubuhnya sangat kaku dalam dua kali ia dibaptis. Ia kemudian menyadari bahwa Allah telah mengingatkannya dua kali bahwa baptisan yang ia terima belum sesuai dengan persyaratan-Nya.

Setelah menyadari apa yang telah terjadi, gereja mengadakan baptisan lagi bagi saudari itu dan kali ini seorang diaken yang melaksanakan baptisan. Sekali lagi, ia menyaksikan peristiwa yang terjadi sebelumnya – pekerja kudus yang membaptis dikelilingi oleh riak-riak air, dan air itu masih berwarna hitam. Ketika ia diselamkan ke dalam air, tubuhnya masih terasa kaku seperti sebelumnya, dan ia merasa ketakutan. Pada upaya baptisan pertama, ia masih belum dapat sepenuhnya diselamkan ke dalam air. Saudari itu tiba-tiba teringat seorang jemaat pernah menghiburnya dan menasihatinya untuk berkata, “Haleluya” apabila Iblis datang untuk mengganggu dan menakut-nakutinya. Awalnya, ia tidak memperhatikan nasihat ini dan bahkan meragukan apakah kata “haleluya” benar-benar mempunyai kuasa. Walaupun demikian, ketika ia sedang diselamkan ke dalam air untuk kedua kalinya, ia berseru, “Haleluya” di dalam hati. Seketika itu juga tubuhnya menjadi lentur dan dapat sepenuhnya diselamkan ke dalam air. Ketika ia keluar dari air, seluruh rasa takutnya lenyap dan sebaliknya ia dipenuhi rasa sukacita. Walaupun cuaca saat itu tenang, suhu air laut masih sangat dingin pada hari itu. Namun ia tidak merasakan kedinginan, dan merasa bahwa Allah sangat memperhatikannya.

Puji syukur pada Tuhan. Saudari ini akhirnya menerima baptisan untuk pengampunan dosa menurut kebenaran dalam Alkitab. Ini juga menjadi pelajaran yang berharga bagi saya. Walaupun saya tanpa sadar melaksanakan baptisan tanpa sepenuhnya diselamkan, yang tidak sesuai dengan kebenaran dalam Alkitab, Tuhan menggunakan cara-cara yang berbeda untuk mengingatkan kita untuk berdiri teguh dalam kebenaran tanpa ada penyimpangan. Kalau tidak, mengingat baptisan berhubungan dengan keselamatan jiwa kita, akan ada akibat yang sangat serius. Di waktu-waktu terakhir, kita harus selalu waspada dan taat untuk mengerjakan keselamatan kita masing-masing.

Kiranya segala puji dan kemuliaan bagi Tuhan kita di surga. Amin.

Sumber: Testimony Collection 1917 – 2017 – 100 Years – A Heritage of Spirituality and Grace