ANAKKU HIDUP KEMBALI

Sdri. Suwarti – Gereja Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Haleluya! Di dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi. Nama saya Suwarti. Saya ingin menceritakan tentang bagaimana Tuhan membawa keluarga saya percaya kepada Yesus melalui kematian dan kebangkitan anak kami.

Hari terindah dalam hidup saya adalah ketika saya menikah. Saya mempunyai begitu banyak impian dan harapan untuk mendirikan keluarga bersama suami saya yang perhatian dan penuh cinta kasih. Setahun kemudian, pada tanggal 28 November 1982, kami diberkati dengan anak laki-laki yang sehat dan rupawan. Kami penuh dengan sukacita! Kami menamakan dia Dicky Satriawan Aryono, dan kami berharap agar ia tumbuh menjadi anak yang sehat, pandai, dan taat.

Namun sukacita kami tidak bertahan lama. Ketika Dicky masih berada di dalam kandungan, ia sehat seperti bayi-bayi yang lain. Namun setelah lahir, ia menjadi sering sakit dan tubuhnya lemah. Ia sering mengalami demam tinggi yang menyebabkan kejang-kejang. Senyum, harapan, dan kebahagiaan kami berubah menjadi kesedihan, takut, dan kuatir atas kesehatannya. Kami berusaha membawanya ke dokter, tetapi keadaannya tidak bertambah baik.

Pada tanggal 3 Maret 1985, ketika Dicky berumur tiga tahun, ia mengalami demam yang sangat tinggi dan kejang-kejang berat. Saya bersama suami berusaha menyelamatkannya, tetapi usaha kami sia-sia. Tiba-tiba kami menyadari bahwa tidak ada yang dapat kami lakukan untuk menyelamatkan anak kami; kami hanya dapat menyaksikan ia berhenti bergerak dan tergeletak di sana tanpa nyawa. Saya mulai meratap dan menangis karena saya tidak dapat menerima apa yang terjadi. Mengapa Tuhan merebut anak saya? Mengapa hidup begitu pahit dan kejam?  Pada waktu itu, keluarga kami dan tetangga panik, bahkan orang tua saya pingsan.

Di tengah kekacauan, salah satu anggota keluarga kami pergi ke Gereja Yesus Sejati (GYS) untuk memanggil pendeta. Setelah sampai di rumah kami, pendeta berhasil menenangkan semua orang; dan mengajak kami berdoa bersama-sama. Kami semua, bahkan para tetangga, berdoa selama kira-kira satu jam.

Kuasa Tuhan Yesus sungguh sangat ajaib! Begitu doa kami berakhir, tiba-tiba kami mendengar anak kami berseru dengan jelas, “Haleluya!” Lalu, ia siuman dan hidup kembali! Peristiwa itu sungguh sangat luar biasa! Mujizat terjadi dalam keluarga kami! Saya langsung berlari dan memeluknya. Kami mencurahkan air mata sukacita. Dicky hidup kembali setelah tergeletak mati selama tiga jam.

Yang paling aneh adalah ketika anak kami dapat berkata, “Haleluya!” Dicky belum pernah pergi ke gereja karena hanya kakek dan tantenya yang percaya kepada Yesus, sementara saya dan suami tidak.

Setelah percaya kepada Yesus Kristus barulah saya mengerti bahwa kata “Haleluya” adalah perkataan yang diucapkan malaikat-malaikat untuk memuji dan menyembah Tuhan (Why. 19:1). Saya bersyukur kepada Tuhan atas rencana-Nya yang indah – melalui kematian dan kebangkitan anak kami, seluruh keluarga kami akhirnya menjadi percaya kepada-Nya. Dicky dibaptis di GYS Solo pada tanggal 28 Desember 1985.

Allah terus mencurahkan berkat-berkat-Nya dalam hidup Dicky. Sekarang ia telah bertumbuh dewasa dan menjadi pemuda yang sehat. Segala yang terjadi adalah karena kemurahan dan kasih karunia Tuhan kepada kami. Tuhan Yesus menyatakan kasih karunia-Nya dan menunjukkan rencana-Nya yang indah bagi kami; Segala kemuliaan bagi nama-Nya. Amin.