SAUH BAGI JIWA
Menghadap Allah
“…di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN” (Hakim-Hakim 20:26b)
“…di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN” (Hakim-Hakim 20:26b)
Salah satu ciri khas dari kitab Hakim-Hakim adalah bagaimana bangsa Israel sering berbuat apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri, bukan menurut pandangan Tuhan. Bahkan, ada satu peristiwa yang menceritakan bagaimana rusaknya perbuatan mereka, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh suku Benyamin yang tinggal di Gibea di pasal 19. Ketika perbuatan itu terdengar oleh seluruh suku bangsa Israel, mereka meminta suku Benyamin untuk menyerahkan orang-orang jahat tersebut, tapi suku Benyamin menolak. Dimulailah peperangan antara suku Benyamin dengan bangsa Israel.
Menariknya, di tengah-tengah kerusakan bangsa tersebut, bangsa Israel datang kepada TUHAN sebelum mulai berperang melawan suku Benyamin. Mereka menanyakan kepada TUHAN, suku manakah yang lebih dahulu maju berperang melawan suku Benyamin. Setelah berperang dan ternyata ada banyak dari bangsa Israel yang gugur, mereka kembali lagi kepada TUHAN sambil menangis sampai petang. Pada hari kedua, banyak yang gugur lagi dari antara mereka. Lalu, mereka datang lagi ke hadapan TUHAN, menangis, berpuasa, dan mempersembahkan korban. Sekali lagi, TUHAN mengatakan kepada mereka untuk maju berperang dan mereka taat.
Hal pertama yang dapat kita pelajari dari peristiwa ini adalah bagaimana mereka datang kepada TUHAN terlebih dahulu sebelum maju ke dalam pertarungan. Dalam zaman yang rusak itu, sangat mudah bagi bangsa Israel untuk melupakan TUHAN. Namun, mereka datang dan bertanya terlebih dahulu kepada TUHAN. Begitu pula yang harus kita lakukan. Sebelum kita maju untuk melakukan sesuatu, janganlah kiranya kita lupa untuk memohon akan penyertaan dan pimpinan-Nya. Karena sesungguhnya, Tuhanlah yang dapat membuat kita berhasil dan menang.
Kedua, meskipun telah kalah dua kali, bangsa Israel tetap percaya dan menaati perintah TUHAN, ketika mereka diperintahkan untuk maju. Dan akhirnya, mereka pun dapat memenangkan pertempuran melawan suku Benyamin tersebut.
Jika kita berada di posisi bangsa Israel, mungkin beberapa di antara kita ada yang merasa kecewa dan sedih. Bukankah TUHAN memerintahkan kita untuk maju berperang, tapi mengapa banyak dari antara kita yang berguguran? Atau mungkin beberapa di antara kita akan kehilangan iman dan takut untuk maju dalam peperangan tersebut. Namun bangsa Israel pada saat itu tidak berlaku demikian. Mereka justru semakin bersungguh-sungguh, dibuktikan dengan sikap mereka yang berpuasa dan mempersembahkan korban. Kemudian, mereka pun maju berperang kembali.
Dalam perjalanan hidup, kita mungkin tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mudah. Terkadang, kita harus melalui proses yang begitu panjang dan menyakitkan, namun disadari atau tidak, hal itu baik untuk kita. Dengan melalui proses tersebut, kita akan menjadi semakin terbentuk dan bertambah dewasa dalam iman. Hanya saja, apakah kita bersedia untuk bersabar dan merendahkan hati kita agar dapat dibentuk oleh Tuhan?
Bangsa Israel memang dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Namun, kiranya kita dapat belajar dari perbuatan baik yang dilakukan oleh bangsa Israel ini, yaitu untuk datang kepada Tuhan sebelum melakukan sesuatu dan untuk tetap percaya serta taat kepada-Nya meskipun keadaannya sulit. Tuhan Yesus menyertai kita. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 17-18 Januari 2026
1. Bacalah renungan “MENGHADAP ALLAH”
2. Dalam kehidupan sehari-hari, berikan contoh dalam hal apa sajakah kita dapat memohon penyertaan Tuhan. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita selalu ingat untuk berdoa mohon penyertaan Tuhan, sebelum melakukan segala sesuatunya.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.