SAUH BAGI JIWA
Bukan untuk Dipuji Manusia
Bacaan Alkitab Harian –
““…juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus” (1 Tesalonika 2:6)
““…juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus” (1 Tesalonika 2:6)
Pada umumnya, manusia sangat senang ketika dipuji. Sebaliknya, manusia sangat tidak suka ketika dikritik, apalagi ditegur dengan keras. Manusia membutuhkan validasi, pengakuan, penghormatan, dan sebagainya, untuk menjunjung harga diri. Kita dapat melihat contoh dari hal ini dalam Alkitab melalui peristiwa Haman dan Mordekhai.
Saat Mordekhai tidak mau bergerak untuk menghormati Haman, hati Haman menjadi sangat panas. Kemudian, dia berikhtiar untuk melenyapkan Mordekhai dan bangsanya yang ada di seluruh kerajaan Ahasyweros. Bahkan, Haman sampai membuat tiang setinggi lima puluh hasta untuk menyulakan Mordekhai.
Peristiwa ini adalah sebuah gambaran nyata bahwa manusia senang sekali disanjung dan dihormati, tapi tidak siap jika harus mendapatkan penolakan atau tidak dihormati oleh orang lain. Rasul Paulus juga secara tidak langsung mengajarkan kepada kita untuk tidak haus akan pujian dari manusia, apalagi dalam hal pelayanan kepada Tuhan. Motivasi kita dalam melayani-Nya seharusnya bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia, tapi harus dilakukan dengan hati yang tulus.
Sekalipun kita berharap mendapatkan pujian, maka pujian itu seharusnya bukan datang dari manusia, melainkan dari Tuhan. Kita dapat belajar dari peristiwa seorang perempuan Kanaan yang dapat mempertahankan keyakinan atau imannya untuk mendekat dan menyembah kepada Tuhan. Tuhan Yesus pun memujinya dan berkata, “Hai ibu, besar imanmu” (Mat 15:28).
Dalam perumpamaan tentang talenta, kita juga mendapatkan sebuah gambaran: sekalipun mereka mampu mengembangkan talentanya–dari lima menjadi sepuluh, dari dua menjadi empat–tapi mereka tidak memuji diri mereka sendiri. Tuannyalah yang memuji mereka dengan mengatakan, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat 25:21, 23). Melalui dua peristiwa ini, kita dapat memahami perihal kepada siapa kita berharap untuk mendapatkan pujian, yaitu kepada Tuhan, bukan manusia.
Saudaraku, pujian dari manusia sering kali hanya sebatas ucapan yang keluar dari mulut. Hal itu belum tentu tulus dan sungguh-sungguh. Tapi, pujian dari Tuhan pasti baik. Maka, adalah lebih berharga bagi kita untuk dikenal oleh Tuhan daripada hanya dikenal oleh manusia.
Oleh karena itu, saat melakukan apa pun, lakukanlah segalanya dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia. Dengan demikian, kita akan menerima upah dari Tuhan yang telah ditentukan oleh-Nya (Kol 3:23-24). Seperti Rasul Paulus, kiranya kita tidak berfokus untuk mencari puji-pujian dari manusia yang hampa.
Kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati kita. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
1 Tesalonika 2:1-12
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
Pelayanan Paulus di Tesalonika
1 Kamu sendiri pun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia.
2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.
3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.
4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.
5 Karena kami tidak pernah bermulut manis – hal itu kamu ketahui – dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi – Allah adalah saksi –
6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.
8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.
10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya.
11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang,
12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ