SAUH BAGI JIWA
Dibumbui oleh Garam
Bacaan Alkitab Harian –
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6)
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6)
Masakan yang lezat tidak terlepas dari bumbu-bumbu dapur, seperti garam, merica, gula, lada, dan lainnya. Bumbu-bumbu ini memberikan rasa pada masakan tersebut sehingga tidak menjadi hambar. Semahal apa pun suatu masakan dan sebagus apa pun penataan suatu masakan, jika rasanya hambar, maka kenikmatan itu tidak tercipta. Sama seperti sebuah masakan yang membutuhkan bumbu, kehidupan rohani kita pun membutuhkan “bumbu” agar tidak menjadi hambar.
Rasul Paulus memberikan nasihat kepada jemaat di Kolose tentang perkataan. Dia mengatakan bahwa hendaklah perkataan kita tidak hambar. Agar tidak hambar, maka perkataan kita perlu dibumbui dengan garam. Yang dimaksudkan dengan ‘garam’ adalah kasih yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan lain-lainnya yang tercantum dalam
Di samping itu, perkataan kita merupakan cerminan isi hati kita (Luk 6:45). Jika hati kita dipenuhi dengan kasih, maka ‘bumbu pemberi rasa’ itu juga akan terasa dari setiap perkataan yang kita ucapkan. Kita tidak akan mudah mengutuki, menghakimi, atau menjatuhkan orang lain dengan perkataan. Kita juga tidak akan mengucapkan kata-kata kasar, hinaan, sumpah serapah, kata-kata yang menjilat, dan sebagainya yang membuat masakan–atau perkataan–kita menjadi hambar. Sebaliknya, kita akan mengeluarkan kata-kata yang membangun, menguatkan, dan membawa damai.
Kitab Matius 5:13 juga mengatakan bahwa jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Garam itu tidak mempunyai rasa dan tidak berguna. Maka, Tuhan tidak menghendaki agar kita menjadi garam yang tawar, tapi kita harus menjadi garam yang mempunyai rasa.
Jika perkataan kita menjadi tawar, orang-orang di sekeliling kita tidak akan pernah merasakan suatu cita rasa yang baik. Namun, jika selalu ada ‘garam’ dalam perkataan kita, maka mereka akan merasa terbangun, termotivasi, damai, dan sejuk melalui perkataan yang kita ucapkan. Memang, Tuhan menghendaki kita agar menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Perkataan yang baik dapat Tuhan pakai untuk menghibur hati yang luka dan menguatkan iman yang lemah.
Marilah, mulai hari ini, kita praktikkan kasih dalam perkataan kita. Jangan sampai perkataan yang keluar dari mulut kita itu hambar, tidak ada rasanya. Melainkan kiranya perkataan kita dapat memberikan rasa, seperti garam yang memberikan rasa sedap pada masakan. Sehingga, melalui perkataan kita, kiranya nama Tuhan Yesus dapat semakin dipermuliakan. Tuhan Yesus memberkati. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
Kolose 4:1-6
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
1 Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.
4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.
5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.
6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?