SAUH BAGI JIWA
Iman Tanpa Negosiasi
Bacaan Alkitab Harian –
“Lalu bernazarlah Yakub: ‘Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku’”
“Lalu bernazarlah Yakub: ‘Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku’”
Baru-baru ini ada video yang viral dan cukup membuat saya tergelitik, yakni percakapan yang penuh negosiasi antara seorang pembeli dan pedagang durian. Dalam video tersebut, pembeli bertanya kepada pedagangnya, “Bang, duriannya satu biji berapa?” Pedagang itu menjawab, “Ada yang lima puluh, tujuh puluh, seratus ribu.” Pembeli itu kemudian berkata, “Wah, mahal kali, Bang?” Si pedagang pun merespon, “Kalau Ibu ingin harga yang lebih murah juga sebenarnya ada. Ini seratus ribu dapat tiga biji.” Tapipembeli tidak mau yang itu dan menunjuk durian yang harganya lima puluh ribu. Ia menawar kembali sambil menunjuk, “Yang ini aja ya, Bang, dua puluh ribu?” Akhirnya, si pedagang berkata, “Ibu nanam aja sendiri!”
Itulah negosiasi, yaitu sebuah proses di mana dua pihak atau lebih berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Apabila yang satu merasa dirugikan, maka tidak akan ada kesepakatan dan tindakan lanjutan. Ironinya, ini bukan hanya terjadi di pasar, tapi ini kerap kali terjadi di dalam gereja ataupun di dalam kehidupan iman Kristiani.
Di dalam Alkitab, diceritakan bahwa Esau telah ditipu oleh Yakub. Ia juga telah kehilangan berkat sebagai anak sulung. Oleh karena itu, ia marah besar dan menaruh dendam terhadap Yakub, sehingga ia berikhtiar untuk membunuh adiknya itu. Maka dari itu, Yakub diliputi oleh rasa ketakutan yang besar ketika ia melarikan diri dari sang kakak ke Haran. Di tengah perjalanannya, Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan berjanji akan memberikan negeri dan keturunan kepadanya. Bahkan ke mana pun Yakub pergi, Tuhan akan selalu menyertainya dan tidak akan pernah meninggalkannya.
Namun, sayangnya, peristiwa itu belum mampu membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik, khususnya iman Yakub kepada Tuhan. Yakub justru membuat nazar yang pada intinya ia berkata, “Jika Tuhan bantu saya, maka Tuhan akan menjadi Allahku.” Pertanyaannya, bagaimana apabila doa-doanya tidak dikabulkan Tuhan? Apakah ia akan tetap beribadah kepada Tuhan? Iman Yakub terlihat masih penuh dengan negosiasi. Ia tidak mau bersandar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan.
Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Apakah iman kita lebih baik daripada Yakub atau sama sepertinya? Kita baru mau beribadah dan melayani Tuhan ketika harapan dan doa kita dikabulkan Tuhan. Kita baru mau memberitakan Injil apabila ekonomi kita lancar. Ini umumnya sering kita lakukan, tapi sesungguhnya ini bukan contoh sikap dan iman yang ideal.
Kita harus setia kepada Tuhan, tidak peduli apa pun yang terjadi pada diri kita–baik untung ataupun rugi. Inilah iman tanpa negosiasi! Kita dapat belajar dari ketiga teman Daniel yang tetap menolak untuk menyembah patung emas dan tetap memegang iman mereka meskipun nyawa mereka taruhannya (Dan 3:17-18). Kiranya kita pun memiliki iman yang teguh tanpa syarat, tetap setia dan percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, tanpa perlu bernegosiasi dengan-Nya. Sebab, kasih dan janji Tuhan selalu pasti bagi mereka yang tetap berpegang pada-Nya. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
Mimpi Yakub di Betel
10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.
11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.
12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.
13 Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: ”Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”
16 Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: ”Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.”
17 Ia takut dan berkata: ”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.”
18 Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.
19 Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.
20 Lalu bernazarlah Yakub: ”Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,
21 sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku.
22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
