SAUH BAGI JIWA
Mengasihi Tanpa Syarat
Bacaan Alkitab Harian –
“Kata Esau: ‘Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku’”
“Kata Esau: ‘Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku’”
Dalam kehidupan Kristen, kita sering mendapatkan imbauan untuk mengasihi sesama. Bahkan Tuhan Yesus sendiri menekankan hal ini dalam Injil Matius 22:39 yang berbunyi, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bentuk kasih yang baik adalah bentuk kasih yang tidak bergantung pada situasi, perbuatan, atau balasan yang diterima. Ini adalah kasih yang tidak mengenal syarat dan merupakan fondasi yang kuat dalam hubungan, persahabatan, maupun keluarga.
Esau dan Yakub adalah sepasang saudara. Sayangnya, dalam hubungan darah mereka ini, terjadi peristiwa penipuan—bukan hanya satu kali, tapi dua kali. Pertama, Yakub menipu Esau untuk mendapatkan hak kesulungan Esau dengan menggunakan sup kacang merah. Tidak berhenti sampai di situ, Yakub pun menipu Ishak, ayahnya, untuk mengambil berkat-berkat Ishak untuk Esau. Apakah sikap ini mencerminkan perilaku kasih?
Sebagai seorang adik dan juga anggota keluarga Esau, Yakub seharusnya mengasihi Esau tanpa syarat dan menghormatinya. Daripada memperdaya kakaknya dan hanya memikirkan kepentingan dan ambisi pribadinya, Yakub seharusnya bertindak sebagai penjaga kakaknya. Ia harus menghormati hak kesulungan kakaknya dan menghormati keputusan ayahnya untuk memberkati anak sulung. Yakub memang memiliki janji berkat dari Tuhan, tapi bukan berarti ia bisa menghalalkan segala cara untuk memperoleh janji tersebut.
Begitu pula pada masa sekarang. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga, sebagai anggota keluarga dalam rumah Allah, kita juga harus saling mengasihi tanpa syarat. Penulis surat Yohanes mengingatkan kita bahwa “jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yoh 4:11). Lagipula, jika kita berkata bahwa kita mengasihi Allah, tapi membenci saudara kita, maka kita adalah pendusta (1Yoh 4:20).
Dalam Kitab Yehezkiel 34, kita juga mendapatkan peringatan dalam hal mementingkan diri sendiri atau egoisme. Yehezkiel menjelaskan bahwa contoh-contoh sikap egoisme dari seorang gembala adalah hanya memikirkan diri sendiri, memanfaatkan domba-domba, dan mengabaikan tugas mereka, sehingga mereka mendapatkan pernyataan keras dari Tuhan. Sama seperti mereka, kita pun harus bertanggung jawab atas saudara-saudari kita di gereja. Jangan sampai kita memanfaatkan mereka dan mengabaikan tugas kita, yaitu memperhatikan mereka.
Perihal mengasihi tanpa syarat ini tidak hanya berlaku kepada para hamba Tuhan, pekerja kudus, atau sebagian jemaat saja, tapi untuk semua orang. Sebagai satu kesatuan dalam tubuh Tuhan, sudah sepatutnya kita untuk saling mengasihi tanpa syarat. Misalnya, mengampuni orang yang telah menyakiti kita, membantu saudara seiman yang sedang mengalami kesulitan tanpa mengharapkan balasan, memberikan perhatian kepada orang yang sering terlupakan, dan hal lainnya. Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita semua untuk mengasihi. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
30 Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.
31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: ”Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.”
32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: ”Siapakah engkau ini?” Sahutnya: ”Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.”
33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: ”Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati.”
34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: ”Berkatilah aku ini juga, ya bapa!”
35 Jawab ayahnya: ”Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.”
36 Kata Esau: ”Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: ”Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”
37 Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: ”Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?”
38 Kata Esau kepada ayahnya: ”Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!” Dan dengan suara keras menangislah Esau.
39 Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya:
”Sesungguhnya tempat kediamanmu
akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi
dan jauh dari embun dari langit di atas.
40 Engkau akan hidup dari pedangmu
dan engkau akan menjadi hamba adikmu.
Tetapi akan terjadi kelak,
apabila engkau berusaha sungguh-sungguh,
maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.”
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
