SAUH BAGI JIWA
Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya“ (Pengkhotbah 3:1)
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya“ (Pengkhotbah 3:1)
Proses berubahnya ulat menjadi kupu-kupu atau yang biasanya kita sebut dengan istilah metamorfosis membutuhkan waktu yang relatif lama. Fase diawali dengan adanya telur yang kemudian berubah menjadi larva atau sering disebut juga ulat. Di fase ini, pekerjaan yang dilakukan setiap hari adalah makan. Setelah empat sampai enam kali ganti kulit, maka pada proses selanjutnya, ia akan menjadi kepompong selama tujuh sampai dua puluh hari. Lalu, ulat yang berada di dalam kepompong berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Pada waktu awal keluar dari kepompong, kupu-kupu tampak memiliki sayap yang kusut, kecil, dan terkesan basah. Sebagian kulit kepompong masih menempel di tubuhnya. Ada yang mengatakan bahwa cairan yang keluar mempunyai fungsi untuk membantu kupu-kupu membentangkan sayapnya dan hal tersebut berguna untuk pertumbuhan tubuhnya. Namun, sebagai penonton, rasanya kita tidak sabar melihatnya. Kita ingin membantunya dengan menyobek kulit kepompong tersebut agar kupu-kupu dapat cepat keluar. Tapi jika kita melakukan hal ini, biasanya setelah itu kupu-kupu tersebut malah akan menjadi lumpuh dan tidak mampu terbang.
Tuhan menciptakan makhluk hidup selalu disertai dengan prosesnya, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan, atau pun manusia. Sebelum manusia lahir, janin harus tinggal dalam perut ibunya selama sembilan bulan, lalu lahir sebagai bayi kecil yang tak berdaya. Lambat laun, ia tumbuh menjadi seorang anak kecil, remaja, dewasa, lalu manula. Semua mempunyai waktu dan prosesnya tersendiri.
Tidak hanya dalam hal usia, terkadang kita juga diperhadapkan dengan sebuah kesulitan atau permasalahan yang kita ingin segera selesaikan. Mungkin kita sering mengeluh atas hal tersebut dan merasa tidak mampu untuk menghadapinya lagi. Namun, ingatlah kembali bahwa semua ada prosesnya.
Untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik beterbangan, kupu-kupu harus melewati proses keluar dari kulit kepompongnya. Begitu pula dengan kita. Agar kita dapat menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa depan, kita harus mau untuk diproses dan dibentuk oleh Tuhan (Rm 5:3-4). Kesulitan yang kita hadapi juga tidak akan berlangsung selama-lamanya, karena kita mempunyai Tuhan yang siap menolong dan menyertai kita, asalkan kita juga mau bersandar pada-Nya. Maka dari itu, mari kita belajar untuk menghargai sebuah proses, karena semua ada waktunya. Amin.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?

Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 8-9 Maret 2025
1. Bacalah renungan “SAAT KEKECEWAAN MELANDA”
2. Kekecewaan dapat mempengaruhi iman kerohanian kita. Lalu, apakah yang dapat kita perbuat, agar ketika dikecewakan kita tetap dapat mempertahankan iman kita? Setiap anggota keluarga dapat berbagi pengalamannya.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita tetap kuat dalam iman ketika mengalami kekecewaan.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.