SAUH BAGI JIWA
Amarah
Bacaan Alkitab Harian –
“Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: ‘Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami’”
“Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: ‘Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami’”
Beberapa waktu lalu, ada sebuah film animasi yang menggambarkan emosi-emosi yang ada dalam diri seseorang. Salah satu emosi yang cukup menarik perhatian adalah “Anger” atau amarah. Tokoh ini menarik perhatian dengan warna merahnya dan api yang bisa keluar dari kepalanya. Anger atau amarah dapat muncul ketika manusia merasakan kenyataan yang tidak sesuai harapan, ketidakadilan, atau frustrasi.
Di dalam Alkitab, terdapat satu tokoh yang tampaknya juga merasakan ketidakadilan. Kejadian 26 menceritakan kisah Ishak. Ishak menuruti perintah Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir dan menetap di Gerar. Oleh karena ia menuruti perintah Tuhan, sesuai janji Tuhan, maka Tuhan memberkati Ishak. Di tahun ia menabur, di tahun itu juga ia menuai hasil seratus kali lipat dari apa yang ia tabur. Luar biasa, bukan?
Hal tersebut tentunya merupakan pengalaman yang baik dan menyenangkan untuk Ishak. Tapi, bukan hanya pengalaman menyenangkan yang Ishak dapatkan di sana. Karena semakin ia kaya, orang Filistin mulai iri kepada Ishak, sehingga mereka menutup sumur-sumur yang telah Abraham gali. Tanpa air, makhluk hidup tidak bisa bertahan hidup. Tidak hanya itu, karena terlalu kaya, Ishak pun diusir. Mungkin Ishak merasakan ketidakadilan dalam situasi ini.
Namun, apakah Ishak menjadi marah? Tidak. Ishak memilih untuk pergi dan berkemah di lembah Gerar.
Setelah pindah pun, masalah Ishak belum selesai. Di tempat yang baru, lembah Gerar, hamba-hamba Ishak mulai menggali sumur kembali agar mereka bisa mendapatkan mata air. Sumur pertama yang mereka gali mengeluarkan mata air yang berbual-bual airnya. Namun mereka bertengkar dengan para gembala di tempat tersebut. Apakah Ishak marah? Tidak. Ia kembali menggali sumur lainnya. Kedua kali mereka menggali, kedua kali juga mereka bertengkar. Apakah Ishak marah? Tidak. Ia kembali menggali sumur lainnya dan tidak terjadi pertengkaran.
Walaupun didera berbagai ketidakadilan, Ishak tetap tidak menjadi marah. Bagaimana dengan kita pada hari ini? Ada banyak kasus ketidakadilan yang dapat membuat seseorang menjadi marah besar hingga akhirnya berujung pada pembunuhan dan kematian. Perselisihan keluarga, penipuan antar rekan bisnis, konflik antar teman, adu mulut dengan sesama tetangga atau rekan kerja menjadi topik hangat ketika berbicara tentang amarah.
Tapi Penulis Kitab Pengkhotbah 7:9 mengingatkan, “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” Jadi, jika kita merasakan ketidakadilan, janganlah cepat untuk menjadi marah. Saat kita menghadapi situasi yang memicu kemarahan, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kemarahan ini akan menyelesaikan masalah? Ataukah justru akan memperburuk keadaan? Marilah kita ingat kisah Ishak ini dan belajar untuk mengendalikan “Anger” yang kita miliki. Kiranya Tuhan menyertai dan menolong kita untuk dapat mengendalikan emosi kita. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
Kejadian 26:12-25
12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan.
13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.
14 Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.
15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.
16 Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: ”Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami.”
17 Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ.
18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.
19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.
20 Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: ”Air ini kepunyaan kami.” Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana.
21 Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna.
22 Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: ”Sekarang Tuhan telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.”
23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba.
24 Lalu pada malam itu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: ”Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.”
25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama Tuhan. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
