SAUH BAGI JIWA
Takut akan Tuhan
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13)
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13)
Saya teringat masa-masa ketika saya masih bersekolah. Saat ujian berlangsung, karena ada seorang guru yang mengawasi, semua murid menjaga sikapnya dengan baik. Jika ada yang berusaha mencontek sekalipun, mereka akan melakukannya dengan sangat hati-hati, karena takut ketahuan. Tapi begitu sang guru keluar kelas, murid-murid pun langsung menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan jawaban kepada temannya.
Demikian halnya ketika saya bekerja di perusahaan. Ketika sudah waktunya untuk bekerja namun atasan belum hadir, para pekerja akan bersantai-santai dan bersenda-gurau. Tapi berbeda ketika sang atasan datang. Mereka langsung berubah menjadi pekerja-pekerja yang gesit dan rajin bekerja.
Inilah bagaimana sikap seseorang dapat menjadi berbeda ketika orang yang kita takuti ada di sekitar kita, baik itu seorang guru maupun seorang atasan. Sebagai orang Kristen, kita juga memiliki sosok yang selayaknya kita takuti, yaitu Allah kita. Seperti dikatakan oleh Pengkhotbah, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.”
Jika kita renungkan, bagaimanakah seseorang dapat menjadi orang yang takut akan Tuhan, sedangkan ada juga orang yang tidak takut akan Tuhan? Ketika seseorang berada dalam keadaan yang mendesaknya untuk berbuat dosa, mungkin awalnya hati nuraninya akan berbicara dengan keras. Dengan begitu, orang tersebut akan menjadi ragu untuk melakukannya. Tapi setelah melakukannya sekali, lalu dua kali, tiga kali, dan terus-menerus, maka lama-kelamaan hati nuraninya tidak lagi berbicara. Orang ini pun tidak akan segan-segan untuk berbuat dosa. Inilah bagaimana seseorang dapat menjadi orang yang tidak lagi takut akan Tuhan.
Sedangkan sebagai orang Kristen, kita mempunyai pemikiran yang berbeda. Ketika kita terdesak untuk berbuat dosa, kita perlu ingat bahwa mata Tuhan ada di segala tempat dan mengawasi kita. Dengan mengingat hal ini dan juga dengan mendengarkan hati nurani kita yang berbicara, kiranya kita tidak jadi melakukan dosa. Maka inilah yang akan melatih kita untuk menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan.
Kita tidak berani melakukan dosa, sebab kita takut akan hukuman yang akan menimpa kita. Pengkhotbah 12:14 menuliskan, “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”
Hari ini, banyak hal yang akan menggoda kita untuk berbuat dosa. Untuk mengatasinya, mohonlah Roh Kudus untuk membantu kita agar dapat menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan yang tidak melakukan dosa. Dengan demikian, di akhir hidup, ketika kita menghadap pengadilan Allah, kita tidak perlu takut akan hukuman. Sebaliknya, kita akan berbahagia karena upah besar telah tersedia bagi kita, yaitu orang-orang yang takut akan Tuhan. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 3-4 Januari 2026
1. Bacalah renungan “TAKUT AKAN TUHAN”
2. Bagaimanakah contoh perbuatan dalam kehidupan sehari-hari ataupun bergereja, yang takut akan Tuhan dan yang tidak takut akan Tuhan? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar di tahun 2026 ini, kita dapat menjalani hidup dengan hati yang takut akan Tuhan.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.