SAUH BAGI JIWA
Kibrot-Taawa
“Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus” (Bilangan 11:34)
“Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus” (Bilangan 11:34)
Apa yang akan terjadi jika pada hari ini tiba-tiba turun hujan uang dari atas? Banyak orang akan berlomba-lomba untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang yang jatuh tersebut. Mungkin akan terjadi sebuah kekacauan karena orang-orang akan menjadi rakus dan tidak memedulikan keadaan orang lain di sekitarnya. Di dalam Alkitab, ternyata kita dapat menemukan peristiwa serupa.
Kibrot-Taawa merupakan sebuah tempat yang tercatat dalam kitab Bilangan 11:34 dan kitab Ulangan 9:22. Di tempat tersebut, terjadi sebuah peristiwa tragis yang disebabkan oleh murka Allah terhadap sikap buruk bangsa Israel. Ketika itu, Tuhan mengirimkan dan menghamburkan burung-burung puyuh ke atas tempat perkemahan bangsa Israel dan sekelilingnya. Kemudian, mereka dengan rakusnya mengumpulkan dan memakan daging burung puyuh, sehingga Tuhan membunuh mereka dengan tulah yang sangat besar.
Bagaimana tidak? Dalam kitab Bilangan 11:32 dituliskan bahwa: “setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer.” Satu homer sama dengan 360 liter. Satu liter dapat menampung rata-rata tiga ekor burung puyuh berukuran sedang. Jadi, jika kita menghitungnya: 10 homer x 360 liter x 3 ekor = 10.800 ekor per orang! Mereka mengumpulkan sedikitnya 10.800 ekor burung puyuh per orang tersebut dalam kurun waktu dua hari satu malam. Maka dari itu, Tuhan menjadi murka terhadap bangsa Israel dan Tuhan memukul mereka dengan suatu tulah.
Manusia memang dituntut untuk bekerja, sebab apabila kita tidak mau bekerja, kita dikatakan janganlah makan (2 Tes 3:10). Tapi ini bukan berarti kita boleh menjadi rakus, lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atau bisa kita sebut dengan sebutan aji mumpung.
Kita bisa melihat akibat dari kerakusan manusia pada zaman sekarang. Hutan menjadi gundul, terumbu karang rusak, udara dan air tercemar, ekosistem terganggu, dan sebagainya. Tentunya kerakusan ini juga dapat berpengaruh terhadap manusia sendiri. Manusia berubah menjadi egois dan kasih di dalam dirinya menjadi pudar. Dalam pikirannya, yang kuatlah yang menang, sehingga manusia memperbolehkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
Salah satu alasan mengapa manusia dapat menjadi rakus adalah karena ketakutan akan merasa kekurangan. Namun, sebenarnya kita janganlah khawatir, karena Tuhan telah berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5b). Maka dari itu, cukupkanlah diri kita dengan apa yang ada pada kita dan jauhilah perbuatan-perbuatan yang dapat membuat kita menjadi hamba uang. Selamat beraktivitas dan Tuhan Yesus memberkati.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 6-7 Desember 2025
1. Bacalah renungan “KIBROT-TAAWA”
2. Pikirkanlah sebuah contoh perbuatan “rakus” dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap anggota keluarga boleh berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan berikan.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.