Sabar Sampai Musim Menuai
Seri Injil Matius (Bag 4)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia

5. Janganlah Takut
“Dan janganlah takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa, melainkan takutlah kepada Dia yang mampu menghancurkan jiwa dan tubuh di neraka.“ (Matius 10:28)
Kita semua memiliki ketakutannya masing-masing. Ada yang takut kecoa. Ada yang takut gelap. Ada yang takut ketinggian. Ketakutan-ketakutan seperti ini bisa jadi tidak terlalu mengganggu kehidupan kita.
Namun ada juga ketakutan-ketakutan yang bisa menghambat kehidupan dan juga kerohanian kita. Takut mengambil resiko, membuat kita tidak pernah bergerak dari zona nyaman kita. Takut dihina dan diejek, membuat kita segan memperkenalkan kebenaran kepada orang-orang di sekitar kita. Takut ditolak, membuat kita enggan mengajak teman-teman kita untuk ikut beribadah bersama-sama dengan kita. Takut menderita, sehingga kita belum banyak melakukan hal-hal untuk Tuhan.
Menjadi pengikut Kristus, kita perlu mengalahkan ketakutan-ketakutan ini, yang menghambat kita dalam melakukan Firman Tuhan. Apalagi, sebagai pengikut Kristus, kita ditetapkan untuk menghadapi berbagai kesukaran dan penderitaan karena nama Kristus. Seperti yang dituliskan dalam Yohanes 15:20, “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.”
Bahkan, nyawa kita pun dapat terancam karena iman kita kepada Kristus. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, “janganlah takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa, melainkan takutlah kepada Dia yang mampu menghancurkan jiwa dan tubuh di neraka.”
Dianiaya karena kebenaran, hal terburuk yang dapat mereka lakukan terhadap kita adalah membunuh kita. Lagipula semua manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Maka, jika kita bisa mati demi Kristus, itu adalah sebuah kasih karunia. Inilah yang terjadi pada Stefanus. Karena imannya, ia harus mengalami penderitaan dilempar batu sampai mati. Demikianlah ia tidak takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuhnya, tetapi tidak berkuasa atas jiwanya. Ia memilih takut kepada Tuhan dan mempertahankan imannya, karena ia tahu, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh 12:25)
Biarlah kita boleh meneladani para pahlawan iman ini, yang berani mengorbankan segala-galanya demi Kristus. Demikianlah kita jangan takut mempersembahkan hidup kita untuk Tuhan. Maka sebagai gantinya, Tuhan pun akan menganugerahkan hidup yang kekal kepada kita, seperti janji Tuhan, “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Haleluya!