Sabar Sampai Musim Menuai
Seri Injil Matius (Bag 4)
Kumpulan Renungan Sauh Bagi Jiwa yang ditulis oleh pendeta, penginjil, siswa teologi dan jemaat Gereja Yesus Sejati di Indonesia

1. Reaksi Yang Berbeda
“Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel“. Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan” (Matius 9:33 – 34)
Setiap orang dapat memiliki reaksi yang berbeda walaupun mereka berada dalam kondisi dan situasi yang sama. Misalnya saja ketika pemerintah mengadakan program vaksinasi gratis bagi seluruh penduduknya, reaksi yang muncul pun dapat berbeda-beda. Ada yang begitu antusias, ada yang ragu-ragu, namun ada juga yang pesimistik.
Banyak faktor yang mempengaruhi reaksi seseorang, bisa dikarenakan pola kehidupan dan lingkungan sosialnya, bisa dikarenakan adanya kepentingan pribadi atau kelompok, bisa juga dikarenakan efek psikologis yang dialami seseorang di dalam kehidupannya.
Demikianlah ketika seorang bisu yang kerasukan setan disembuhkan oleh Tuhan Yesus menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang menjadi takjub lalu memuliakan Allah. Namun ada pula yang sebaliknya, mereka mencibir perbuatan Yesus.
Seperti yang dicatat oleh Matius, “Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel“. Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan” (Mat 9:33-34) Reaksi berlebihan dari orang-orang Farisi ini muncul akibat kedengkian mereka kepada Tuhan Yesus. Sebagai para pemimpin agama yang dihormati masyarakat, mereka merasa perbuatan Yesus ini mengancam kedudukan mereka di mata orang-orang Yahudi.
Sehingga walaupun semua yang dilakukan Tuhan Yesus adalah kebaikan, namun mereka melihatnya sebagai keburukan. Bagaimanapun hebatnya mujizat yang terjadi di depan mata mereka, namun mereka tidak dapat melihat kuasa Allah. Sehingga walaupun Firman Tuhan telah disingkapkan bagi mereka, mereka tidak dapat memahami dan menerimanya.
Hari ini, di dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari, apakah kita dapat melihat kebaikan-kebaikan Allah: berkat, kasih, dan karya-Nya yang indah dalam kehidupan kita, sehingga kita selalu mengucap syukur? Atau yang kita lihat justru keburukan-keburukan: kekurangan, kesengsaraan, dan berbagai kesusahan yang kita alami, sehingga kita sering mengeluh?
Hari ini, ketika membaca Alkitab dan mendengarkan Firman Tuhan, apakah kita dapat melihat kebaikan-kebaikan dari setiap perintah Allah, sehingga kita dapat bertumbuh karenanya? Atau yang kita lihat justru keburukan-keburukan dan kekurangan orang-orang yang membawakan Firman Tuhan, sehingga rasa-rasanya iman kita sulit bertumbuh?
Biarlah seperti pemazmur mengatakan, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Mzm 119:18), demikian kiranya mata kita dapat melihat setiap kebaikan Allah di dalam kehidupan kita, dan kita boleh bersyukur atasnya. Haleluya!