BERADA DI JALAN TUHAN

KA – Gereja Yesus Sejati Bandung

Haleluya, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Saya lahir dari keluarga yang beragama lain dan dibesarkan dengan pendidikan agama yang cukup kuat. Meskipun saya sudah dewasa dan banyak belajar mengenai agama saya yang dahulu, tidak menjadikan saya seorang yang apatis dengan agama yang lainnya. Usia saya saat itu delapan belas tahun; ayah dan ibu saya bercerai, dan saat itu ayah saya harus bekerja jauh dari kami anak-anaknya dan ibu saya tinggal dengan orang tuanya, membuat saya dan adik-adik saya hanya tinggal bertiga. Saat itu saya sedang kuliah dan adik-adik saya masih sekolah dasar, sehingga kami hidup dengan banyak hal yang memaksa kami untuk hidup mandiri.

Perceraian membuat saya sangat sedih dan kecewa dengan agama, orang tua dan keadaan saya. Sehingga selama hampir empat tahun lamanya saya hidup mengandalkan diri sendiri, tanpa mengenal Tuhan dan kasih akan Tuhan. Namun, selama empat tahun itu saya mengeraskan hati tidak menjadikan saya bahagia atau lepas dari berbagai masalah. Dan saya sadar bahwa saya masih dihadapkan banyak masalah dan kekecewaan.

Hingga suatu hari ketika saya sedang pergi keluar untuk membayar pajak kendaraan. Saya bertemu dengan seseorang yang saya sebut hamba Tuhan. Saat itu dia sedang kesusahan dan kemudian saya menolongnya. Hamba Tuhan ini berterima kasih dengan memegang kedua tangan saya dan matanya berkaca-kaca sembari berkata “Makasih banyak neng, Tuhan Yesus memberkati ya.” Dan beliau mengatakan demikian berkali-kali sampai kami berpisah. Setelah mendengar perkataan itu, saya tidak berhenti menangis karena merasa senang. Saya merasa sudah sangat lama tidak merasakan kehadiran Tuhan dan hari itu saya seperti dijamah oleh Tuhan Yesus dengan segala kasih-Nya. Saya merasa seperti dipanggil dan dengan senang hati saya menerima panggilan-Nya.

Hari Minggu di pekan itu saya mencoba datang ke gereja dengan saudara saya. Saya sempat berkebaktian beberapa kali di sana, tetapi saya merasa tidak puas, dan saya bersikeras mencari kepuasan bagi dahaga saya untuk datang kehadirat Tuhan dengan bertanya ke banyak teman saya yang beragama Kristen. Sampai suatu saat saya menghubungi teman saya yang jemaat Gereja Yesus Sejati, dan teman itu mengajak saya untuk datang beribadah di Gereja Yesus Sejati.

Pertama kali saya beribadah adalah pada hari Jumat malam, dan teman saya memberitahukan bahwa dalam kebaktian itu ada doa memohon Roh Kudus. Teman saya mengajak saya maju untuk berdoa memohon Roh Kudus dan menerima tumpangan tangan oleh pendeta. Saat itu saya merasa takut karena masih merasa asing, tetapi puji Tuhan, jemaat di sana sangat ramah, baik, dan memperhatikan saya. Saya pulang dengan sukacita dan bersemangat untuk kembali beribadah di Gereja Yesus Sejati.

Setelah beberapa kali beribadah di GYS, saya teringat pada malam Sabat itu seorang diaken memanggil saya dan mengajak saya untuk beribadah di Sabat hari berikutnya dan memohon Roh Kudus di depan. Keesokan harinya, pada kebaktian sore, saya diberitahukan bahwa saya telah menerima Roh Kudus. Sungguh bukan main rasa sukacita saya, seperti Tuhan telah menerima saya untuk menjadi hamba-Nya.

Setelah beberapa pekan beribadah di GYS, banyak hal baru yang saya pelajari mengenai Tuhan Yesus. Saya semakin bertumbuh dan berapi-api untuk mengenal Yesus lebih mendalam. Hingga suatu hari, saya bersama dengan pemuda GYS dan pendeta berbincang banyak tentang Tuhan Yesus sampai larut malam, dan kami makan-makan dan sejenak berfoto bersama. Hasil foto itu saya unggah di media sosial, disertai cantuman ayat Alkitab yang saat itu sangat menguatkan iman saya. Beberapa teman saya yang melihatnya kemudian bertanya dan bahkan mengkritik saya bahwa yang saya lakukan salah dan saya harus kembali ke jalan yang dahulu. Saat itu saya berpikiran dangkal dan akhirnya merasa takut dan ragu karena ucapan dan pendapat teman-teman saya. Akhirnya malam itu saya memutuskan untuk tidak menjawab apa pun ucapan teman-teman saya dan saya pergi beristirahat.

Malam itu juga, saya bermimpi sedang berada di suatu tempat, dan saya sedang berada dalam suatu barisan yang cukup panjang menuju satu cahaya terang, tetapi pintunya sangat kecil. Saya merasa asing dan takut karena sendirian, tetapi orang di depan saya berkata, “Jangan takut, cukup yakin kita sedang berada di jalan yang benar.” Tetapi saat itu saya hanya merasa keheranan karena orang di depan saya itu bisa mengetahui perasaan saya. Lalu orang itu kembali berkata, “Cahaya di depan adalah surga, dan kita semua di sini sedang berbaris berusaha masuk ke sana.” Saya masih merasa keheranan, tetapi mulai mempercayai orang yang ada di depan saya. Setelah saya melihat orang-orang yang sedang berbaris, saya melihat beberapa orang jemaat GYS, sehingga saya menjadi semakin yakin dan percaya dengan orang di depan saya. Malam itu saya terbangun, dan saya langsung berlutut dan berdoa. Saya tidak lagi merasa ragu dan takut, karena saya menyadari bahwa saya telah berada di jalan Tuhan Allah yang hidup.

Kemudian, setelah lama ayah saya bekerja jauh dari kami, akhirnya Ayah kembali pulang dan memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal bersama kami. Saya merasa senang, tetapi sekaligus menjadi sulit berdoa di rumah dan pergi beribadah di hari Sabat. Hampir setiap beribadah saya berbohong kepada Ayah dengan alasan bermain, bertemu teman, dan urusan-urusan lainnya. Tidak hanya itu, saya pun mulai bergumul dengan pekerjaan saya.

Saat itu saya bekerja di sebuah SMP berbasis agama lain, dan saya mengajar sebagai guru agama. Awalnya saya merasa tidak perlu memberitahukan keluarga dan berhenti bekerja. Tetapi semua pergumulan ini tidak mungkin saya biarkan, karena saya harus tegas mengambil keputusan untuk berbicara kepada keluarga dan berhenti bekerja di tempat saya bekerja sekarang. Namun keberanian itu sulit saya kumpulkan, sampai akhirnya saya memberanikan diri berbicara terlebih dahulu kepada ibu saya. 

Puji Tuhan, walaupun ibu saya merasa kecewa dan sedih dengan keputusan saya, namun dia ikhlas mempercayakan saya untuk memilih mengikuti Tuhan Yesus. Saya gembira dan merasakan kekuatan yang mendorong saya mengambil pilihan ini. Dan keberanian ini meyakinkan saya untuk segera berhenti bekerja dan memberitahukan keluarga ayah saya.

Ketika meminta izin untuk mengundurkan diri kepada kepala sekolah tempat saya bekerja, ucapan saya kurang ditanggapi oleh kepala sekolah yang masih merupakan keluarga besar saya sendiri. Akibatnya, saya merasakan pergumulan dalam batin saya dan mempertanyakan mengapa Tuhan Yesus mempersulit jalan saya. Banyak kecemasan yang akhirnya saya pikirkan. Saya takut apabila Tuhan Yesus tidak berkenan kepada saya, atau apakah Tuhan telah meninggalkan saya. Pergumulan ini akhirnya saya ceritakan kepada seorang saudari seiman di gereja. Dia menguatkan saya, dan saya teringat dengan kesaksian-kesaksiannya tentang pergumulannya sendiri yang jauh lebih berat daripada saya, sehingga saya merasa yakin dan dikuatkan kembali untuk tetap percaya dan tidak ragu.

Akhirnya saya berhenti bekerja secara baik-baik dan penuh sukacita karena sudah melepaskan salah satu pergumulan saya. Saat itu rumah yang kami tinggali sudah dijual, dan saya bertiga bersama adik-adik saya dan Ayah kemudian tinggal sendiri dengan usaha di rumah.

Pada akhirnya, saya tinggal kembali bersama adik-adik saya, bertepatan dengan dimulainya PSBB yang membatasi kegiatan ibadah di rumah. Puji Tuhan, saya sungguh sangat bersyukur karena saya sudah tidak lagi tinggal dengan ayah saya, sehingga saya dapat melakukan kegiatan ibadah tanpa hambatan. Namun setelah hampir satu tahun beribadah di gereja, saya sudah menetapkan hati untuk mendaftarkan diri dibaptis di Gereja Yesus Sejati. Saya memberanikan diri untuk berbicara kepada ayah saya. Namun respon berbeda saya terima dari Ayah; Ayah marah dan tidak menerimanya. Saya berusaha menjelaskan kepadanya, dan pada akhirnya Ayah menyerahkan pilihan kepada saya sendiri, dengan segala akibat yang akan saya terima kemudian.

Namun, setelah banyak sanak keluarga mengetahui hal ini, berbagai respon mulai saya terima; saya tidak membayangkan beberapa dari antara keluarga saya mulai menjauhi, menghina, dan menghasut ayah saya sehingga dia menjadi semakin marah dan tidak konsisten dengan keputusannya. Namun saya justru semakin bersukacita karena merasakan sakitnya memikul salib yang harus saya tanggung demi mengikuti Yesus.

Akhirnya jadwal baptisan semakin dekat; saya sangat bergembira untuk segera dibaptis dan dilahirkan sebagai manusia baru. Dan pada tanggal 5 September 2020, saya dibaptis dan menerima sakramen basuh kaki dan Perjamuan Kudus di Gereja Yesus Sejati. Sungguh perjalanan yang tidak mudah saya rasakan sampai pada saat ini, tetapi puji Tuhan, banyak kekuatan dan penghiburan diberikan oleh saudara-saudari seiman, sehingga saya terus bertumbuh dalam Tuhan Yesus. Semuanya ini adalah masa-masa terindah, dan saya merasa beruntung Tuhan Yesus menjamah saya untuk memperoleh keselamatan yang sejati. Begitulah kebaikan Tuhan dalam hidup saya, semoga kesaksian ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Terima kasih, segala kemuliaan hanya milik Tuhan Yesus. Haleluya, Amin.