ANUGERAH DI TENGAH GEMPA TOHOKU

Sdr. Yoshimura Masao – Gereja Yokohama, Jepang

Di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus saya bersaksi. Nama saya Yoshimura Masao; saya sudah menjadi jemaat sejak muda karena orang tua saya. Walaupun begitu, saya tidak pernah benar-benar peduli tentang iman saya, dan saya hanya pergi ke gereja karena ibu saya memaksa. Saya sering membolos kebaktian Sabat untuk main basket, karena saya bergabung dengan tim basket di sekolah. Mengenang kembali masa lalu ini, saya merasa seperti orang bebal dan kekurangan pengetahuan tentang Allah. Puji Tuhan atas kemurahan-Nya – Ia tidak meninggalkan orang berdosa seperti saya, seperti tertulis di Mazmur 119:71:

“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.”

Melalui sakit penyakit dan penderitaan, saya belajar lebih banyak tentang Allah.

MENEMUKAN BENJOLAN DI DADA

Semuanya dimulai pada bulan Juni 2010, di pagi yang cerah pada musim hujan. Waktu itu saya kelas sembilan dan ketika pelajaran renang, teman saya menemukan sebuah benjolan yang keras di dada saya. Karena tidak terasa berbeda ataupun terasa sakit, saya tidak  mempedulikan benjolan tersebut. Ketika menjalani pemeriksaan kesehatan di sekolah, dokter memberitahukan bahwa benjolan itu adalah sebuah lipoma yang seringkali muncul saat pubertas, dan akan hilang seiring waktu. Namun setelah beberapa waktu, benjolan itu perlahan-lahan bertambah besar; jadi keluarga saya mendesak saya untuk pergi memeriksakan diri di sebuah rumah sakit di Chinatown. Dokter di sana juga memberitahukan benjolan itu sebuah lipoma yang disebabkan oleh pubertas. Tetapi untuk amannya, ia menganjurkan saya untuk memeriksakannya di rumah sakit yang lebih besar. Dokter di rumah sakit besar juga mendiagnosanya sebagai lipoma, tetapi menganjurkan biopsi karena benjolan itu sangat besar dan padat.

PEMBEDAHAN DI TENGAH GEMPA TOHOKU

Jadwal saya dioperasi adalah 11 Maret 2011; saya masuk ke ruang operasi pada jam 14:30 siang. Saya tidak sadar karena pembiusan lokal. Walaupun saya tidak merasakan sakit, saya dapat merasakan pendarahan. Sebuah gempa bumi terjadi pada jam 14:46 di tengah-tengah berlangsungnya operasi. Awalnya, hanya terasa goyangan-goyangan, dan tidak terasa berbeda dengan gempa-gempa ringan yang sering terjadi di Jepang. Tetapi segera setelah itu, lantai mulai bergoyang lebih kuat. Saya merasa sangat takut; saya mengira bahwa saya akan mati di meja bedah. Puji Tuhan, para dokter dan perawat bersikap sangat tenang, dan tidak meninggalkan saya di ruangan itu untuk melarikan diri dari gempa bumi. Ketika guncangan gempa sudah mereda, mereka meneruskan operasi, dan operasi diperpanjang dari rencana awalnya dari satu jam, menjadi dua jam, dan kemudian hampir tiga jam.

Selama terjadinya gempa bumi, saya mengira saya akan segera mati. Saya berpikir tentang ibu saya yang menunggu di luar ruangan operasi; dan saya bertanya-tanya apakah yang sedang ia lakukan. Saya memikirkan kedua adik saya di Taman Kanak-Kanak, dan ayah saya yang sedang bekerja di tempat konstruksi. Apakah ia berada dalam bahaya? Apakah bangunan akan runtuh? Sangat disayangkan saat itu saya tidak berdoa kepada Tuhan. Setelah gempa bumi, ibu saya datang ke ruang operasi; dan mendorong saya untuk berdoa dan mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Saya dinasihatkan oleh kata-katanya dan berdoa di dalam hati: “Tuhan, tolong lindungi saya dan keluarga saya.” Selama terjadi gempa-gempa susulan saya juga berdoa di dalam hati.

HASIL BIOPSI

Pembedahan untuk membuang tumor itu berjalan lancar. Namun hasil menunjukkan bahwa tumor itu bersifat ganas – jadi dapat menyebar. Karena itu, dokter menganjurkan saya untuk menjalani operasi kedua. Saya baru saja memulai sekolah menengah atas, bertahan hidup dari gempa besar, dan sekarang saya pun masih harus melalui operasi kedua. Mengapa hal seperti ini terjadi? Setelah mendengar kata-kata dokter, air mata saya mulai menetes. Sebelumnya, Pdt. KC Chang dan istrinya sudah mengajak orang tua saya untuk membawa saya ke Rumah Doa Yokohama untuk mendoakan operasi saya. Sebelum doa, ia berkata kepada saya dengan tenang, “Saya dapat melihat bahwa kamu adalah anak Injil di hadapan Yesus Kristus, dan saya berharap penderitaan yang kamu alami adalah sesuatu yang baik (Mzm. 119:67, 71). Apakah yang kamu pikirkan tentang semua peristiwa ini?” Saya menjawab dengan jujur, “Saya baru memulai kelas sembilan, mengapa Tuhan Yesus membiarkan saya melalui semuanya ini?” Pendeta menjawab, “Renungkanlah bagaimana kalau ponsel kamu tidak pernah lepas dari pandanganmu – kalau kamu naik tangga di gereja, waktu kamu duduk di kursi belakang; kamu selalu sibuk dengan ponselmu. Seluruh isi hatimu direbut oleh ponsel – menggantikan saudara-saudari seiman di gereja, dan membuatmu menelantarkan keluargamu. Saya tidak perlu memberitahukan kamu apa yang menggodamu, tetapi kamu harus sungguh-sungguh bertobat di hadapan Allah. Saya akan membantumu mendoakan dan menumpangkan tangan, memohon agar Tuhan bermurah hati dan menyembuhkanmu.” Saya bertobat dan berdoa bercucuran air mata; orang tua saya juga menangis dan mendoakan saya. Setelah saya pulang ke rumah, saya langsung menghapus semua hal-hal yang buruk dari ponsel saya.

OPERASI KEDUA

Saya sudah tidak bersekolah selama sebulan. Operasi yang kedua dilakukan tanggal 7 April 2011, dan saya diopname selama 18 hari. Selama itu, keluarga dan saudara-saudari seiman berdoa dengan tulus bagi operasi kedua saya; pendeta yang bertugas juga datang ke rumah sakit untuk menumpangkan tangan. Allah mendengarkan doa-doa keluarga saya dan saudara-saudari seiman. Operasi kedua pun berhasil. Dokter berkata bahwa keadaan saya membaik, jadi saya akan segera pulih. Awalnya mereka sudah mengantisipasi operasi ketiga, tetapi karena saya pulih dengan sangat baik dan luka saya sembuh dengan sangat cepat, dokter tidak menjadwalkan operasi ketiga untuk saya. Namun saya masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan sebulan sekali selama satu tahun, dan saya tidak boleh melakukan olahraga yang terlalu berat agar luka bedahnya tidak terkoyak.

PENGALAMAN SAYA

Saya menderita kanker ganas dan menjalani operasi pembedahan di tengah gempa bumi. Setelah saya keluar dari rumah sakit, Rumah Doa Yokohama mengadakan kursus teologi singkat. Pendeta mengingatkan saya berulang kali untuk mengikuti kursus di gereja ini ketimbang menonton pertandingan basket di sekolah. Tetapi saya akhirnya menonton pertandingan-pertandingan itu karena saya tidak mau melewatkannya; dan saya kemudian menyadari bahwa dompet saya hilang setelah pertandingan basket. Pengalaman-pengalaman ini mengubah pandangan saya tentang Allah, “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.” (Mzm. 57:7)

Sekarang, saya berinisiatif untuk pergi ke gereja. Luka bedah di dada saya menjadi jejak kesaksian kemurahan Allah. Kapan pun saya melihat luka itu, saya diingatkan pada kasih karunia-Nya. Pendeta dan istrinya menasihati saya untuk terus mempelajari Alkitab dan membantu pelayanan penerjemahan di gereja – bahkan setelah pekerjaan penggembalaan dan masa tinggal mereka di Jepang berakhir. Saya bertekad untuk bekerja bagi Tuhan untuk membalas anugerah Tuhan yang besar. Saya sungguh merasakan bahwa mengapa Allah membiarkan saya untuk mengalami ujian-ujian ini adalah agar saya mengenal-Nya dengan lebih baik. Walaupun saya belajar akan hal ini dengan jalan yang keras, tetapi seperti yang dinyatakan Alkitab, yang dibagikan oleh Pdt. Chang dan istrinya kepada saya:

“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mzm. 119:71)

Kiranya semua kemuliaan bagi Bapa kita di surga. Amin!