SAUH BAGI JIWA
Nehustan
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun…” (Keluaran 20:3-4)
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun…” (Keluaran 20:3-4)
Pernahkah kita membayangkan bahwa sesuatu yang pernah Tuhan pakai secara luar biasa justru bisa menjadi penghalang terbesar bagi penyembahan kita kepada-Nya? Itulah yang terjadi dengan ‘Nehustan’, ular tembaga yang dibuat Musa atas perintah Tuhan sendiri, namun yang ratusan tahun kemudian harus dihancurkan oleh Raja Hizkia karena telah menjadi berhala di tengah-tengah umat Israel (2 Raj 18:4).
Kisahnya bermula di padang gurun, ketika bangsa Israel bersungut-sungut kepada Tuhan dan Musa karena perjalanan memutar melewati tanah Edom. Mereka muak dengan manna, haus, lelah, dan mulai mempertanyakan mengapa Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir. Akibatnya, Tuhan mengirim ular-ular tedung yang memagut banyak orang hingga mati.
Ketika umat bertobat dan memohon pengampunan, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular tedung dan menaruhnya pada sebuah tiang. Setiap orang yang dipagut ular, cukup memandang kepada ular tembaga itu, maka ia akan tetap hidup (Bil 21:8-9). Sungguh anugerah yang luar biasa! Bukan ular tembaga itu yang memiliki kuasa penyembuhan, melainkan iman kepada firman Tuhanlah yang menyembuhkan.
Ular tembaga adalah lambang Kristus yang disalibkan. Dosalah yang memagut kita hingga maut, tapi dengan memandang kepada salib-Nya dengan iman, kita menerima keselamatan (Yoh 3:14-15).
Bertahun-tahun kemudian, ular tembaga itu masih disimpan dengan baik oleh bangsa Israel. Mereka menamakannya ‘Nehustan’, yang artinya benda tembaga, dan mulai membakar ukupan serta mempersembahkan korban kepadanya. Benda yang semula adalah alat Tuhan kini telah menjadi allah lain.
Hizkia, seorang raja yang berkenan di hati Tuhan, tidak berkompromi dengan apa pun. Ia menghancurkan ular tembaga itu. Mengapa? Karena Tuhan tidak pernah memerintahkan agar benda itu disembah atau diagungkan. Ia hanya merupakan alat sementara untuk menunjuk kepada Kristus yang akan datang.
Berhala tidak hanya ditemukan dalam bentuk patung di gereja, tapi juga dapat merambah ke dalam hati kita. Secara tidak sadar mungkin kita mengagungkan hamba Tuhan yang kharismatik, talenta pelayanan yang hebat, atau pengalaman rohani yang luar biasa, alih-alih menyembah Tuhan. Seperti yang diungkapkan Paulus, kita harus ingat bahwa pelayan hanyalah alat Tuhan, dan pertumbuhan berasal dari Allah (1 Kor 3:5-7). Kita juga perlu berwaspada terhadap ‘Nehustan’ modern yang dapat muncul dalam bentuk pelayan favorit, gaya ibadah tertentu, atau posisi gerejawi yang dapat membuat kita menjadi sombong, jika kita menempatkannya di atas Tuhan.
Yohanes Penginjil pun pernah hampir melakukan kesalahan yang sama. Saat melihat kemuliaan surga, ia tersungkur ingin menyembah malaikat yang menyampaikan wahyu itu. Tapi malaikat dengan tegas berkata, “Jangan berbuat demikian! …Sembahlah Allah!” Paulus dan Barnabas juga merobek pakaian mereka ketika orang Listra ingin mempersembahkan korban kepada mereka setelah orang lumpuh disembuhkan. Mereka berseru, “Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.”
Mari kita belajar dari sejarah Nehustan dengan menghormati hamba-hamba Tuhan tanpa menjadikan mereka berhala. Kita dapat menghargai tradisi gereja yang alkitabiah tanpa membiarkannya menggantikan Tuhan. Selain itu, kita juga dapat mensyukuri berkat dan mukjizat-Nya sambil selalu memandang kepada Kristus, karena hanya Dia yang layak menerima segala puji, hormat, dan kemuliaan. Amin.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 5-6 September 2026
1. Bacalah renungan “MENJADI ORANG YANG RAMAH”
2. Apa yang dapat Anda lakukan untuk lebih ramah lagi, entah di rumah, masyarakat, ataupun di gereja? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.