SAUH BAGI JIWA
Memiliki Hikmat dan Kepekaan Rohani
“Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: ‘Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus’” (2 Raj 4:9)
“Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: ‘Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus’” (2 Raj 4:9)
Di tengah zaman yang penuh dengan kebingungan rohani, seorang perempuan dari Sunem menunjukkan teladan yang luar biasa. Pada masa pemerintahan Yoram, anak Ahab, hampir semua raja Israel menyimpang dari Tuhan. Nabi-nabi Baal masih berkeliaran, penyembah berhala bertebaran, dan banyak orang mengaku-aku sebagai utusan Tuhan. Namun perempuan Sunem ini, tanpa ragu, berkata kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.”
Bagaimana ia bisa begitu yakin? Jawabannya adalah karena ia memiliki hikmat dan kepekaan rohani yang tajam.
Perempuan itu bukan sekadar tahu sepintas lalu, melainkan tahu karena telah mempelajari, mengamati, dan memperhatikan dengan saksama segala perbuatan serta mukjizat yang dilakukan Elisa. Ia tidak menebak-nebak, tidak ikut-ikutan rumor, melainkan mengamati buah kehidupan nabi itu hingga ia yakin: inilah hamba Tuhan yang sejati.
Hari ini, kita pun hidup di tengah zaman yang tidak kalah rumit. Banyak orang mengaku sebagai hamba Tuhan, banyak ajaran beredar melalui buku, media sosial, video kesaksian, maupun percakapan sehari-hari. Ada pendeta, diaken, penatua, pengkhotbah, bahkan ‘nabi’ di mana-mana. Pertanyaannya adalah: apakah kita memiliki hikmat dan kepekaan rohani untuk membedakan mana yang benar-benar dari Tuhan dan mana yang hanya merupakan pengakuan kosong?
Cara untuk memiliki hikmat semacam itu adalah dengan tekun mempelajari firman Tuhan setiap hari. Gereja sudah menyediakan Bacaan Alkitab Harian. Apakah kita sudah membacanya dengan setia? Apakah kita merenungkannya, atau justru lebih sering membuka telepon genggam untuk bermain game, menonton video, atau berselancar di media sosial? Hikmat rohani tidak jatuh dari langit begitu saja. Ia tumbuh dari hati yang haus akan firman Allah.
Selain itu, kepekaan rohani dapat dibentuk melalui hubungan yang dekat dengan Tuhan. Apabila kita tekun dalam berdoa dan membaca firman, dengan bersandar pada pertolongan Tuhan, kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang berkenan kepada Allah dan mana yang tidak. Kita tahu bagaimana dunia ini semakin jahat. Dengan memiliki kepekaan rohani, kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran atau pengaruh dunia yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, marilah kita belajar dari perempuan Sunem yang memiliki hikmat dan kepekaan rohani. Jangan puas dengan pengetahuan rohani yang dangkal. Belajarlah firman Tuhan dengan tekun dan mohonlah akan hikmat dari atas setiap hari. Hanya dengan demikian, kita dapat hidup kudus di tengah-tengah dunia yang semakin gelap, serta dapat menjaga hati dan langkah kita agar tetap berada di jalan yang benar. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 12-13 September 2026
1. Bacalah renungan “MEMILIKI HIKMAT DAN KEPEKAAN ROHANI”
2. Apa saja yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan rohani kita, baik di rumah maupun di gereja? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.