SAUH BAGI JIWA
Dua Menjadi Satu
Bacaan Alkitab Harian –
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6)
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6)
Ketika menyaksikan seorang gadis dan seorang pemuda memasuki aula gereja untuk melaksanakan pernikahan kudus, hati kita dipenuhi dengan rasa syukur dan sukacita. Kebahagiaan tercermin pada kedua mempelai karena hati mereka diselimuti dengan cinta kasih dan harapan akan hari-hari indah untuk dinikmati bersama. Sepasang mempelai dipersatukan Tuhan menjadi sepasang suami-istri dan membentuk sebuah rumah tangga adalah sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia. Seperti firman-Nya: “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Mat. 19:5).
Dua orang yang dipersatukan dalam pernikahan perlu berjuang bersama untuk mempertahankannya. Mereka harus terus mengasah kesatuan hati dengan saling menghargai dan saling mengalah. Seperti sepasang suami-istri masing-masing membawa satu buah koper dan mereka harus memindahkannya ke dalam satu koper bersama, maka mereka masing-masing harus rela membuang barang miliknya yang tidak diperlukan agar bisa dimuat dalam satu koper. Suami-istri juga harus membuang ego mereka masing-masing agar bisa menyesuaikan diri dengan pasangannya ketika hidup bersama.
Seorang teman menceritakan kesedihan hatinya ketika melihat teman baiknya yang baru saja menikah selama enam bulan, tapi kemudian mempersiapkan perceraian. Permasalahan yang dihadapi hanya sederhana saja, yaitu cara kebiasaan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang berbeda. Mereka berselisih tajam dan sampai melibatkan mertua. Mereka tidak berusaha untuk saling memahami dan saling mengalah sehingga memutuskan untuk bercerai, sesuatu hal yang dibenci Tuhan (Mal. 2:16). Dua orang dengan latar belakang yang berbeda, kepribadian yang bertolak belakang atau kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, harus saling menyesuaikan diri sehingga dapat menghindari konflik yang akan terjadi.
Pernikahan menjadi sesuatu yang mengubah kehidupan manusia khususnya bagi dua orang yang terlibat di dalamnya. Karena itu dalam pernikahan harus ada persahabatan, seperti kita menghargai sahabat dan menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Ams. 17:17). Demikian harus dijalani setiap harinya bersama dengan pasangan.
Sebagai dua orang yang menjadi satu di dalam Tuhan, kita harus menghadirkan Tuhan dalam rumah tangga kita, berdoa bersama ketika menghadapi peselisihan, saling membangun iman masing-masing dan mendidik anak-anak sesuai dengan petunjuk firman Tuhan sehingga kita mendapatkan keturunan ilahi. Seperti firman-Nya: “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya” (Mal. 2:15).
Dengan demikian kita dapat mempertahankan pernikahan sampai ajal menjemput kita. Dan dengan begitu, kita menaruh kehendak-Nya dalam hati kita, yaitu: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Mari kita semua bertekad untuk mempertahankan pernikahan yang bahagia di dalam Tuhan. Haleluya, amin.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
Perceraian
1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.
2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana.
3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”
4 Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
7 Kata mereka kepada-Nya: ”Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”
8 Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”
10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”
11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”
Yesus memberkati anak-anak
13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
14 Tetapi Yesus berkata: ”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
15 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ