SAUH BAGI JIWA
Ketinggalan Pesawat
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27)
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27)
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah peristiwa yang terjadi di bandara Soekarno-Hatta. Tampak ada seorang pemuda di ruang tunggu bandara yang sedang asyik menikmati alunan musik dengan seperangkat headset di telinganya. Tiba-tiba, dia beranjak kaget dan membuka headsetnya. Lalu, dia bertanya kepada petugas bandara mengenai sebuah pesawat tujuan Denpasar. Petugas itu menjawab bahwa pesawat tersebut sudah berada di posisi landasan pacu! Dengan wajah pucat dan kecewa, pemuda tadi meninggalkan ruang tunggu dan berjalan menuju tempat penjual tiket untuk membeli tiket baru dengan tujuan Denpasar.
Dari peristiwa ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa meskipun kita sudah berada di bandara, namun kita masih saja bisa ketinggalan pesawat. Apalagi yang dari rumah dengan berlambat-lambat berangkat menuju bandara. Penting bagi kita untuk selalu waspada dan bersiap, sehingga kita tidak kehilangan kesempatan berharga.
Peristiwa di atas juga bisa menjadi gambaran bagi kita tentang anugerah keselamatan. Ketika kita telah menerima janji keselamatan dan menjadi orang percaya, itu tidak otomatis menjamin bahwa kita akan selamat pada akhirnya. Keselamatan bukan sekadar tiket yang kita kantongi, melainkan perjalanan hidup yang membutuhkan ketaatan, kesetiaan, dan komitmen untuk mengikuti kehendak Tuhan. Yohanes 3:36 mengingatkan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Kita tidak boleh lengah seperti seorang pemuda di bandara tadi. Meskipun mungkin kita merasa aman karena sudah berada di “ruang tunggu”–yaitu menjadi orang percaya, kita tetap harus berjaga-jaga. Kita harus tetap hidup dengan taat dan mempersiapkan diri agar tidak ketinggalan “pesawat keselamatan”. Rasul Paulus juga mengatakan dalam
Hidup ini adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri agar dapat selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai kita terlena oleh kenyamanan dunia atau hal-hal lainnya yang dapat membuat kita lalai, sehingga kita kehilangan anugerah terbesar yang telah Tuhan sediakan. Seperti pemuda yang harus membeli tiket baru, kadang-kadang penyesalan datang terlambat. Agar kita tidak menyesal, mari kita hidup dalam kewaspadaan dan ketaatan, sehingga pada saatnya, kita siap memasuki kerajaan surga yang kekal. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 8-9 Agustus 2026
1. Bacalah renungan “KETINGGALAN PESAWAT”
2. Berikan contoh bagaimana kita dapat menjadi lengah karena terlena oleh kenyamanan dunia? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.