SAUH BAGI JIWA
Belajar dari Gereja Mula-Mula
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42)
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42)
Dalam Kitab Kisah Para Rasul, dituliskan bahwa ada tiga ribu orang yang menjadi percaya. Pada awal berdirinya gereja, Roh Kudus turun. Ketika mereka berbahasa roh, mereka dianggap sedang mabuk. Petrus pun berbicara bahwa mereka berkata-kata bukan karena mabuk, tapi karena ada dorongan Roh Kudus. Orang-orang menjadi tergerak oleh Roh Kudus, percaya dan dibaptis. Keselamatan telah Tuhan nyatakan, janji Roh Kudus digenapi.
Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk angkatan tersebut, tapi untuk angkatan yang masih jauh, yaitu kita. Kita ada jauh setelah zaman rasul. Namun, janji akan Roh Kudus akan terus diberikan kepada manusia sebanyak yang dipanggil-Nya. Gereja berdiri karena panggilan Tuhan, bukan karena kehendak manusia. Siapa pun yang terlibat dalam pelayanan adalah alat yang Tuhan pakai.
Angkatan silih berganti, pekerjaan dalam gereja tetap berjalan karena Tuhan pimpin. Apolos, Paulus, dan kita semua hanyalah hamba Tuhan. Gereja bukan milik pendeta, penatua, diaken, atau pengurus lainnya. Kita tidak boleh ambil kemuliaan-Nya. Apa yang kita lakukan semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk nama atau kehormatan kita. Tuhan sendiri yang akan tambahkan jiwa. Jika gereja mau bertumbuh, pekerjaan Roh Kudus harus nyata dan kita harus bertekun.
Jemaat mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Ajaran apakah yang disampaikan? Ajaran yang sehat (Tit 1:9). Begitu pun dengan kita. Jika gereja ingin berkembang, kita harus berpegang pada ajaran yang sehat, yang adalah kebenaran, bukan pandangan dunia. Kita harus bertekun pada ajaran firman Tuhan. Mungkin kita banyak menerima ajaran dari sosial media. Kiranya kita tidak langsung menyebarkannya, melainkan dapat menyaringnya terlebih dahulu. Jika bertentangan dengan kebenaran, buanglah itu.
Kita perlu berwaspada.
Gereja juga dapat maju karena adanya persekutuan. Ada kontak dan kedekatan antar jemaat. Bukan sekadar mendengarkan atau berbicara, tapi ada bahasa non-verbal yang digunakan, seperti kontak mata dan ekspresi. Semua ini mendorong pertumbuhan gereja. Saat makan siang bersama di gereja, kita bisa saling berkomunikasi, mengenal, dan membangun hubungan.
Jemaat pada zaman rasul suka berdoa, bertekun dalam pengajaran dan dalam persekutuan, serta memecahkan roti yang menunjukkan adanya perjamuan kasih. Mereka berkumpul, hidup saling mengasihi dan berbagi.
Memang, dalam gereja, kita dapat menemukan situasi di mana adanya kelompok-kelompok kecil. Jemaat yang satu lebih dekat dan lebih klik dengan orang tertentu. Ini adalah jaringan sosial yang tidak dapat dihapus. Tapi kiranya kita tidak memiliki eksklusivitas, yaitu sikap tidak ingin berbaur dengan orang yang bukan kelompoknya.
Dalam tubuh Kristus, ada banyak macam anggota: kuat-lemah, kaya-miskin, tua-muda, dan lainnya. Semuanya terikat dalam tubuh-Nya. Dalam kemajemukan ini, marilah kita belajar untuk menerima, mengampuni, dan memahami. Hidup dengan banyak orang pasti memiliki banyak gesekan, maka bukalah hati dan kesabaran kita lebar-lebar.
Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 18-19 April 2026
1. Bacalah renungan “SEMOGA ENGKAU BAIK-BAIK SAJA”
2. Apa yang dapat Anda lakukan untuk semakin baik lagi dalam memperhatikan jemaat? Setiap anggota keluarga boleh berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat semakin baik lagi dalam memperhatikan saudara/i seiman kita.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.