SAUH BAGI JIWA
Membakar Jembatan
“Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya” (Pengkhotbah 7:8a)
“Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya” (Pengkhotbah 7:8a)
Hernán Cortés, seorang pemimpin pasukan penjajah yang berhasil menguasai wilayah Meksiko untuk kerajaan Spanyol. Namun dalam perjalanan kariernya mengalahkan kerajaan Aztek, bukan tanpa pergumulan. Ketika Cortés tiba di pesisir pantai Yucatán pada tahun 1519 bersama dengan 11 kapal, 508 prajurit, 100 pelaut, dan 16 ekor kuda, ia memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan ekstrim, yaitu: menenggelamkan semua kapal-kapalnya agar mereka tidak dapat kembali ke Spanyol dan dengan satu tujuan tetap berkomitmen pada misi utama mereka untuk bertahan hidup dan menjajah tanah Meksiko.
Cerita ini juga mirip dengan sebuah ilustrasi tentang seseorang yang menyeberang menggunakan jembatan gantung. Ketika ia sudah sampai di seberang, ia bakar jembatan tersebut dengan api. Sehingga jika ia bertemu dengan binatang buas atau hal lainnya yang membahayakan, ia harus menghadapinya–bukan putar badan dan kembali ke tempat awal.
Untuk mencapai tujuan yang besar, terkadang kita harus memutuskan hubungan dengan kenyamanan masa lalu atau keinginan untuk mundur. Memang untuk bisa menggapai tujuan, kita sering dihinggapi rasa khawatir yang membuat kita ragu untuk maju atau bahkan membuat kita ingin untuk pergi kembali. Dengan ‘membakar jembatan’, kita tidak hanya didorong untuk bergerak maju, tapi juga membuat kita dapat terfokus dan berusaha keras untuk mencapai tujuan kita.
Dalam pertumbuhan iman kepercayaan, seseorang sudah menyeberang dengan keyakinan untuk memperoleh keselamatan. Tapi terkadang kita berhadapan dengan banyak kesulitan pada jalan yang harus kita lalui. Mungkin ada beberapa orang yang kita ketahui yang karena tidak dapat menghadapi apa yang ada di depannya, maka mereka pulang kembali atau menjadi murtad. Karena mereka masih memiliki jembatan yang dulu dilintasi, mereka dapat pergi kembali kapan pun dan akhirnya gagal sampai di tujuan.
Sama seperti para prajurit Hernán Cortés yang termotivasi untuk maju karena tidak ada pilihan untuk kembali, demikianlah juga kita. Sebagai seorang yang memutuskan untuk mengikut Tuhan dan beriman kepada-Nya, kita tidak mempunyai pilihan lainnya selain untuk tetap percaya kepada-Nya dan tetap setia sampai akhir. Meskipun jalan yang harus kita hadapi tidak nyaman atau terasa sulit untuk dilalui, kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan selalu menyediakan kekuatan untuk setiap langkah yang kita ambil. Setiap tantangan yang kita hadapi juga merupakan kesempatan untuk memperkuat iman dan membangun ketergantungan kita kepada Tuhan.
Tetap berfokuslah pada Tuhan dan tinggalkan masa lalu kita yang penuh dengan dosa. Hal terpenting yang perlu diingat adalah bukan dari mana kita mengawali, tapi di mana kita akan berakhir. Maka jika pada hari ini kita telah mengikuti Tuhan, bakarlah jembatan yang menghubungkan kita dengan kehidupan lama kita dan hadapilah apa yang ada di hadapan kita dengan beriman kepada Tuhan. Kiranya kita tidak kembali ke kehidupan lama kita, karena jikalau kita mengundurkan diri, maka Tuhan tidak berkenan kepada kita (Ibr 10:38). Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 14-15 Maret 2026
1. Bacalah renungan “PENCURI HARAPAN”
2. Berikanlah contoh bagaimana orang-orang di sekitar kita dapat memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan iman kita. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar iman kita dapat terus bertumbuh, bahkan dalam lingkungan yang kurang mendukung.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.