SAUH BAGI JIWA
Jangan Bersilat Kata
Bacaan Alkitab Harian –
“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya” (2 Timotius 2:14)
“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya” (2 Timotius 2:14)
Seorang karyawan perusahaan mendapatkan tugas untuk membuat laporan, namun setelah tiba waktunya, dia belum mengumpulkannya juga. Ketika diminta oleh atasannya, dia menjawab, “Bukannya saya tidak mau mengerjakan tugas itu, tapi data yang diberikan kepada saya tidak lengkap, jadi saya sulit untuk menyelesaikan laporannya.”
Tampaknya benar, tapi setelah diselidiki, ternyata karyawan tersebut memang belum mengerjakan tugasnya. Dia menghindari tugas tersebut dan malah menyalahkan orang lain. Pada akhirnya, kejadian tersebut menyakiti hati karyawan yang bertugas untuk mengumpulkan data.
Pandai berkomunikasi adalah hal yang baik, namun ketika mengarah pada pandai berbicara dengan bersilat kata atau bersilat lidah, maka hal tersebut dapat menyebabkan dengki, fitnah, atau curiga (1 Tim 6:4).
Mungkin saudara pernah melihat orang yang bermain silat. Orang tersebut dapat berkelit sana, berkelit sini dengan lincah. Seperti itulah gambaran seseorang yang pandai bersilat kata–pintar berkata-kata agar dapat membenarkan diri sendiri.
Seseorang yang dapat berbicara berkelit dan berputar-putar cenderung suka membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Ada orang yang suka berdebat dan pandai bicara, namun lama-kelamaan kita dapat menilai bahwa dia tampak hanya ingin menang dalam argumen dan mengarah kepada perselisihan. Karena pintarnya dia bersilat kata, maka bila dia bersalah, terlihat seakan-akan itu bukan salahnya.
Kitab Ayub pasal 32 menceritakan tentang Elihu, sahabat Ayub. Dia marah karena Ayub menganggap dirinya lebih benar daripada Allah (Ayb 32:2). Dia menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena ia adalah yang termuda di antara Ayub dan sahabat-sahabatnya. Tapi akhirnya, dia berani memberikan sanggahan. Elihu menentang Ayub karena dia membenarkan diri sendiri. Elihu menegaskan bahwa Allah tidak bertindak curang. Dia mengemukakan pendapatnya tanpa bersilat kata, karena dia mengatakan hal yang sebenarnya harus dia katakan.
Paulus juga menasihati Timotius agar menjadi pekerja yang layak di hadapan Allah, sebagai pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran (2 Tim 2:15).
Ketika kita mempelajari firman Tuhan, terkadang kita mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperjelas makna rohani agar kita memperoleh pengajaran yang berharga. Apabila belum jelas, kita boleh bertanya kembali, hanya jangan sampai kita terjebak dalam pencarian soal dan persilatan kata.
Mempelajari firman Allah adalah untuk memahami kehendak Allah, mencari kebenaran, dan membangun orang yang mendengarnya; tidak boleh berkembang menjadi perdebatan yang tidak mendasar. Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita dengan sungguh-sungguh agar jangan bersilat kata, karena hal tersebut sama sekali tidak berguna.
Marilah kita saling mengingatkan, seperti Paulus yang mengingatkan Titus agar menghindari persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat. Semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka (Tit 3:9). Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Gerakan Membaca Alkitab
2 Timotius 2:14-19
Pelajari lebih mendalam tentang ayat bacaan hari ini
-
14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.
15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.
16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.
17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,
18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.
19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ”Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan ”Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.”
Apakah Anda sudah membaca Alkitab hari ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ