SAUH BAGI JIWA
Kita Mencari Damai
“Kita mengharapkan damai, tetapi tidak datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada hanya kengerian!” (Yeremia 8:15)
“Kita mengharapkan damai, tetapi tidak datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada hanya kengerian!” (Yeremia 8:15)
Setiap orang di dunia ini ingin memiliki damai dan kesehatan. Kebanyakan orang menganggap kedua hal itu sebagai dua syarat terpenting untuk menjalani hidup yang baik.
Ketika Nabi Yeremia memulai pelayanannya, bangsa Israel hidup dalam kelimpahan. Kelimpahan itu adalah berkat Allah bagi Israel, penggenapan dari janji Allah kepada Abraham.
Namun, apakah bangsa Israel bersyukur kepada Allah? Tidak.
Mereka telah lama meninggalkan Allah dan menyembah berhala. Secara lahiriah, mereka masih beribadah kepada Allah yang benar, tapi di dalam hati, mereka melayani allah-allah lain. Allah bagi mereka tidak lebih dari sekadar berhala lain–seseorang yang mereka datangi ketika membutuhkan damai dan kesehatan.
Kita pun sering meminta banyak hal dalam doa kita, termasuk damai, kesehatan, dan kesembuhan. Hal ini memang sesuai dengan kehendak Allah, karena Alkitab berkata agar kita menyatakan segala hal keinginan kita kepada Allah (Flp 4:6) dan untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya (1 Ptr 5:7).
Namun, terkadang kita terlalu berfokus pada permintaan-permintaan itu sampai kita lupa alasan sebenarnya mengapa kita beribadah dan berdoa kepada Allah. Kadang kala kita juga sama seperti orang Israel pada zaman Yeremia. Kita beribadah kepada Allah, tapi dalam kenyataannya mengikuti berhala–yaitu menempatkan keinginan dan rencana kita sendiri sebagai prioritas utama. Kita lupa meminta nasihat Allah dan menantikan pimpinan-Nya dalam hidup kita. Kita hanya menuntut agar Allah melaksanakan rencana kita atau memenuhi keinginan kita.
Tidak heran jika hati Allah sangat terluka melihat perilaku umat-Nya. Mereka hanya berdoa dan berbicara kepada-Nya saat membutuhkan sesuatu dari-Nya. Bayangkan jika orang yang paling kita kasihi tiba-tiba berhenti menghabiskan waktu bersama kita, lalu hanya berbicara kepada kita ketika ia membutuhkan sesuatu. Bagaimana perasaan kita? Bukankah kita akan merasa sangat sedih?
Karena itu, kita perlu sadar dan kembali memusatkan hati kita. Kita juga perlu menumbuhkan semangat mengucap syukur dalam diri kita. Mengucap syukurlah atas keselamatan dan kasih setia Allah yang tidak pernah gagal. Kita harus kembali mengingat alasan sejati dari ibadah dan doa kita. Ketika kita beribadah dan berdoa kepada Allah, kita melakukannya bukan untuk menerima sesuatu, melainkan agar kita dekat dengan-Nya dan untuk menyembah serta memuji-Nya. Kita mengasihi Allah yang telah memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita dari hukuman kekal.
Marilah kita datang dengan hati yang tulus kepada-Nya, untuk memohon akan pimpinan-Nya dan untuk memanjatkan ucapan syukur. Kiranya kita dapat tetap menempatkan diri Tuhan sebagai prioritas utama dalam kehidupan kita agar damai sejahtera-Nya pun dapat menaungi kita. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 28 Februari – 1 Maret 2026
1. Bacalah renungan “KITA MENCARI DAMAI”
2. Pikirkanlah satu hal yang dapat Anda syukuri pada hari ini. Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita pun dapat selalu mengucap syukur di dalam doa-doa kita.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.