SAUH BAGI JIWA
Kehendak Allah atau Kehendak Pribadi?
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5)
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5)
Saya merasa sangat sulit untuk memahami apakah sebuah keputusan atau peristiwa itu merupakan kehendak Allah atau kehendak diri sendiri. Sering kali, kita cenderung melakukan sesuatu atas kemauan kita sendiri. Lalu, kita akan menganggap itu adalah kehendak Allah, hanya karena kita sudah “mendoakan” hal tersebut. Namun, ketika kita berdoa, apakah kita benar-benar meminta bimbingan-Nya, atau apakah kita hanya memberitahukan Allah apa yang ingin kita lakukan? Hal ini sulit sekali untuk dibedakan, meskipun terdengar sederhana.
Beberapa waktu yang lalu, saya pikir saya sudah belajar mengenai bagaimana meminta bimbingan Tuhan dan bagaimana memohon akan kehendak-Nya. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa selama ini saya sebenarnya hanya memberitahukan Allah apa yang ingin saya lakukan.
Selain itu, dalam doa, mungkin kita sering memanjatkan permohonan karena kita memiliki begitu banyak kekhawatiran. Tidak jarang juga kekhawatiran itu masih tetap ada walaupun kita telah berdoa. Padahal, jika kita benar-benar bergantung pada Tuhan, kita hanya perlu untuk berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, yang artinya tidak perlu khawatir lagi setelah berdoa.
Matius 6:34 menuliskan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Namun memang sangat sulit untuk tidak mengkhawatirkan sesuatu yang benar-benar kita pedulikan. Meskipun begitu, saya percaya jika kita terus berdoa dan dipenuhi dengan Roh Kudus, kita akan sanggup keluar dari kehendak pribadi dan sungguh berjalan dalam kehendak Allah.
Seorang pendeta pernah mengatakan bahwa jika kita benar-benar ingin tahu apa kehendak Tuhan, kita harus berdoa terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Setelah berdoa, barulah kita ambil keputusan. Bukan menuntut agar Allah mengikuti kemauan kita, melainkan sungguh-sungguh meminta bimbingan-Nya.
Saya juga ingat pernah mendengar khotbah tentang Roh Kudus, bahwa Ia seperti air sungai. Mula-mula air hanya sebatas kaki, sehingga kita masih dapat berjalan sendiri. Tapi lama-kelamaan air itu makin naik sampai ke kepala, sehingga kita tidak dapat lagi berjalan atau bergerak sendiri, melainkan terbawa arus.
Orang lain juga pernah mengatakan bahwa dipenuhi oleh Roh Kudus bukan berarti saat kita berdoa, kita harus bersuara keras atau mengguncangkan tubuh kita dengan kuat. Namun, setelah berdoa, kita mampu menjaga kepenuhan itu di dalam hati. Dalam apa pun yang kita lakukan serta dalam setiap keputusan yang kita ambil, semuanya dapat memuliakan Allah.
Sering kali kita tahu apa yang Allah ingin kita lakukan, tapi kita sulit untuk mengikutinya. Walaupun begitu, kiranya kita dapat selalu ingat untuk berpegang erat kepada Allah, maka Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia justru akan menuntun kita di jalan-Nya. Percayalah bahwa dengan mengikuti arus Roh Kudus, maka kita akan semakin mengerti dan sanggup mengikuti jalan Tuhan. Haleluya!
Sauh Bagi Jiwa Sebelumnya
Apakah sudah melakukan Mezbah Keluarga pada minggu ini?
Terima kasih atas dukungan dari Saudara/i.
Kami percaya, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1Kor. 15:58b).
Bagi Saudara/i yang tergerak untuk mendukung dana bagi Sauh Bagi Jiwa, dapat menyalurkan dananya ke:
Bank Central Asia (BCA)
KCP Hasyim Ashari – Jakarta a/n:
Literatur Gereja Yesus Sejati
a/c: 2623000583
Tulis berita: SBJ
Berikut ini adalah Saran Pertanyaan untuk sharing Mezbah Keluarga
Tanggal: 21-22 Februari 2026
1. Bacalah renungan “KEHENDAK ALLAH ATAU KEHENDAK PRIBADI?”
2. Ceritakanlah dari pengalaman Anda, bagaimana kita dapat membedakan kehendak Allah dan kehendak diri kita sendiri? Setiap anggota keluarga dapat saling berbagi.
3. Berdoalah bersama-sama. Mohon Tuhan Yesus membantu agar kita dapat mengerti dan mengikuti kehendak Allah.
-
- Durasi 60 menit dan waktu pelaksanaan bebas sesuai kesepakatan keluarga.
- Pembukaan:
- Dalam nama Tuhan Yesus mulai Mezbah Keluarga
- Doa dalam hati & menyanyikan 1 Lagu Kidung Rohani
- Membaca/ mendengarkan SBJ hari Sabtu/ Minggu.
- Sharing & diskusi keluarga:
- Apakah ayat atau bahan bacaan dalam seminggu yang paling berkesan.
- Adakah pengalaman rohani/ kesaksian pribadi yang berkenaan dengan bacaan yang berkesan.
- Adakah bagian bacaan yang tidak dimengerti? Jika diperlukan dapat ditanyakan kepada pendeta/ pembimbing rohani setempat.
- Apakah tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana supaya dapat melakukan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.
- Penutup:
- Saling berbagi pokok doa keluarga dan gereja.
- Berlutut berdoa dan memohon kepenuhan Roh Kudus.